Bab 14

7.1K 956 61
                                        

"Kan, waktu itu Kak Kafka lagi ulang tahun, Sayang. Nggak mungkin dong kalau kita malah pergi jalan-jalan." ucapku berbohong. Mencoba mengelak dari kesalahan. Ketika pesta ulang tahun Kafka, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Janu. Bayi itu anteng duduk di pangkuanku. "Jadi sebagai gantinya, gimana kalau kita jalan-jalan sekarang aja. Ana mau jalan-jalan ke mana? Ke Mal?"

Kepalanya menggeleng pelan. "Nggak mau ke Mal."

"Terus mau ke mana, Sayang?" Aku agak menunduk, senyumku kubuat semanis mungkin. Jujur, aku merasa sangat bersalah padanya.

"Kolam renang, mau main perosotan. Byur." Bibir Ana maju, kedua tangannya juga bergerak serentak seolah dia sedang menceburkan diri ke air. 

"Tapi Ana 'kan nggak bawa baju ganti. Tante juga nggak bawa, nanti kalau basah gimana?" Berenang di siang hari, kulit bisa segar dan gosong di waktu yang bersamaan.

Ana menatapku lagi. Tangannya lalu terjatuh ke atas paha. "Oh iya-ya." Raut mukanya kembali sedih.

"Kalau ke kebun binatang, Ana mau nggak?" tanyaku memberi pilihan lain.

"Lihat sapi ya, Tante?" Cepat saja matanya kembali berbinar. Sapi, mana ada di kebun binatang.

"Eng, kalau sapi kayaknya nggak ada di kebun binatang deh, Sayang." Aku mengipas-ngipas wajahku sendiri dengan telapak tangan. Lama-lama di sini membuatku kepanasan juga. Satu tanganku membuka aplikasi pencarian. Mencari informasi tentang sebuah kebun binatang yang tak jauh dari sini. Aku memang belum pernah ke sana. Tidak mungkin aku hanya asal bicara saja. Ana adalah anak dengan daya ingat yang kuat. Aku tak mau jika salah menyebutkan nama binatang dan ternyata nanti di sana tidak ada dan malah akan membuatnya sedih lagi. "Lihat yang lain aja, di sana ada singa, macan, burung, monyet, kambing mini." kututurkan nama binatang satu per satu dari hasilku mendapat info di laman resmi kebun binatang.

"Kok ada kambingnya sih, Tante? Kalau ada kambing, berarti ada sapi juga dong. Mereka 'kan temenan?"

Hah? Sejak kapan sapi dan kambing berteman?

Aku lalu mengangguk-angguk, kusimpan gawaiku ke dalam tas. "Oh, kalau kambing dan sapi temenan, jadi Sasa dan Pipinya Ana juga punya temen dong. Siapa namanya? Kaka? Mbi-mbi? Eng-eng?" tanyaku sambil menggerakkan kedua tangan ingin menggelitiki perutnya.

Ana tergelak kencang. Matanya yang bulat bahkan sampai menyipit. Badannya bergerak menghindar, kedua tangannya juga menolakku, tapi aku tak mau kalah. Salah siapa jadi anak bisa selucu ini. "Berangkat sekarang? Siap?" tanyaku setelah beberapa saat. Matanya sampai berair karena kebanyakan tertawa. Ana mengangguk bersemangat. Kuulurkan tangan kananku meminta tangannya. Bergandengan kami menuju mobilku yang terparkir tak jauh.

____

Tepat seperti info yang kudapatkan di akun resminya tadi. Singa, macan, kanguru, kura-kura, kambing mini, burung dan berbagai jenis lain ada di kebun binatang ini. Ana nampak bahagia. Beberapa kali ia kufoto saat ada hewan yang mendekat. Dia awalnya takut ketika kami sampai di kandang singa. Namun, setelah kuberi pengertian jika ada sekat kaca tebal yang menghalangi. Dia jadi sedikit berani. Hanya satu fotonya dengan hewan buas itu yang berhasil kuabadikan karena Ana langsung berlari ketika singa itu mengaum keras. 

Terakhir, kami naik kapal kecil menyusuri sungai. Kami duduk bersebelahan, sangat dekat karena Ana takut jika sampai jatuh. Kudekap erat pinggangnya dari samping. Aku juga takut kalau dia terjatuh, bisa-bisa aku langsung dimutilasi ayahnya.

Sekelumit RinduTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang