Sisi Lain BianTara🍏

199 18 1
                                        

#Enjoy the story #

    Tidak mudah berdamai dengan masalalu, tapi membiarkan kata hati tak sejalan dengan jalur kehidupan adalah hal yang paling susah.

          Rooptoff itu salah satu tempat terbaik untuk menenangkan diri, di atas ketinggian dan disuguhkan pemandangan kota membuat fikiran menjadi tenang, kira-kira itulah yang Tara simpulkan dari Rooptoff, dia suka berada disini, angin sepoi-sepoi menerjang rambut hitamnya, udara bersih tanpa adanya polusi, dan tentu saja sunyi menemani,

"Seorang Tara itu apasih? "
Tanyanya pada angin, sebab tak ada satu ragapun yang menemaninya saat ini, tawa itu perlahan mulai terdengar, seperti mengejek dirinya sendiri..Tara tertawa seperti orang gila, namun tawa itu pula terdengar sangat menyakitkan...Tara hanya... Hanya tidak paham dengan orang-orang yang iri padanya, mengaguminya seperti orang bodoh, memujinya seakan Tara itu manusia paling sempurna.

"Kalian hanya belum tau saya.. "
Menyedihkan, Tara yang katanya pintar, kesayangan semua orang, baik ,bikin orang lain bahagia karena mendapat kabar prestasinya, nyatanya tidak bisa memahami dirinya sendiri,

    Tidak, Tara bukanlah sosok yang sepesial, dia tidak sesempurna itu, itu semua hanyalah skenario yang dia ciptakan, dia hanya remaja biasa yang ingin hidup normal, tapi sepertinya ia terjebak dalam permainannya sendiri.

"Nda... Tara pengen hidup normal kayak remaja lainnya.. "
Tak jauh berbeda dari Bian, salah satu nama penguatnya adalah sang Bunda, hatinya tidak pernah baik-baik saja semenjak cinta pertamanya itu berpulang... Berpulang? No...dia Bahkan tidak pernah mengantarkan sang Bunda ke peristirahatan terakhirnya,mungkin inilah salah satu alasan Ayah Arjun tidak pernah terima dan rela jika sang pujaan hati dinyatakan pergi.

     Mata tajam nan jernih itu menatap langit yang nampak biru cerah,namun bukan segar yang Tara rasakan, semakin ia lihat, semakin erat pula tali hitam tak kasat mata itu menjerat hatinya, begitu sesak dan menyakitkan, Tara benci warna biru, sebab sang warna tenang nan cerah itu membawa sang Bunda pergi jauh sampai tak lagi bisa ia rengguh raganya.

"Bunda pulang... Semua berantakan setelah Bunda pergi... "
Tara bukanlah orang yang mudah menangis, dia harus kuat karena dia masih punya Bian, dirinya yang hidup dengan versi lain, Bian kembarannya sosok mungil yang selalu ia jaga dulunya, disini Bianlah yang paling terluka, Tara kerap kali melihat kembarannya itu menangis sendirian, menyalahkan diri sendiri meskipun saat ia tanya kenapa... Hanya ada senyum tengil jawabnya.

"Adek yang selalu Tara jaga terluka ma.. Lukanya dalam banget....sampai-sampai Tara gabisa sembuhin......"
Tara tau,saudaranya itu tidak baik-baik saja, tapi dia..

"tapi Tara juga orang yang ngasih luka itu bun.."
Senyum menyakitkan itu kembali tampak pada wajah tampannya,nyatanya Tara juga tidak baik-baik saja.

Flashback...

     Jumat 29 agustus 20- Hari ini adalah hari dimana Tara mengikuti olimpiade Matematika, dirinya sudah cukup matang mempersiapkan diri untuk membawa Piagam emas, tapi pada saat itu Tara hanyalah anak remaja yang ingin kebebasan, bukan hanya menyibukkan diri dengan buku dan rumus-rumus menyebalkan .

    Fikiran anak remaja itu kacau, bergelut dengan akal dan hatinya, disisi lain dia ingin seperti anak lainnya,yang bisa melalukan apapun yang diinginkannya,melanggar aturan dan masih banyak lagi tapi disisi lainya pula ada sesuatu yang harus ia jaga dan pertahankan, setelah cukup lama terdiam, memilih Ego lah yang Tara putuskan, dia membuka lembaran demi lembaran, soal itu... Adalah hal kecil untuk Tara, tapi ia sengaja tidak menjawab semuanya dengan benar, Tara gagal, ia tidak pulang membawa kebanggan untung sang Ayah,tapi dia lega, dia ingin menjadi siswa biasa yang bisa memilih sesuatu yang ia sukai.

BIANTARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang