rasa sakit dan ingatan

264 13 0
                                        

#enjoy the story#

   #kejadian sebelum Bian pulang ke rumah#  

         Bian terbangun karena merasakan sesuatu yang sangat besar menghantam kepalanya, nafasnya tidak beraturan pandangannya tidak fokus dan hal seperti ini sudah biasa ia lalui, lagi lagi ia kembali ke tempat yang sama, tempat dimana dia merasa menjadi orang paling bahagia dan paling menyedihkan diwaktu yang bersamaan.

"Minum dulu Bi"
Ini bukan bang Daniel ya tapi bang Bara,orang yang perduli padanya meskipun dia bukan siapa-siapa.

"Thanks bang"

"Hm"

"Bang Niel dia dimana? "
Bara menghela nafas lelah, jujur dia tidak mengerti dengan sahabatnya itu, kalau dia memang tidak perduli pada Bian mengapa dia menghubunginya untuk menolong Bian? Tapi kalau perduli kenapa tidak ia saja lakukan sendiri? Kenapa harus melibatkannya? Jujur Bara tidak senang dengan keberadaannya saat ini di tengah-tengah keluarga Segara, semuanya terlalu rumit, sekarang Bian sudah sadar bukan jadi dia sudah tidak ada urusan lagi disini, jadi alih alih menjawab pertanyaan Bian, Bara lebih memilih beranjak untuk pulang ke rumahnya saja.

"Bang maaf ya... Udah nempatin lo di posisi ini... Lo pasti udah capek banget ya.. "
Lagi?! Oh ayolah Bara, kamu hanya tinggal melangkahkan kakimu keluar rumah ini! Jangan  merasa kasihan lagi! Sudah cukup.

"Abang gapapa ko kalo mau pergi sekarang, Bian udah oke Bian udah sehat, "

"Demi Tuhan Bian, gue sama sekali gak nanya! "
Pergerakan tubuh Bara menghianati perkataannya, dia malah datang lagi ke Bian lalu mengambil semangkuk bubur hangat yang sudah disiapin Bibi Meri.

"Jadi? "
Bian tersenyum bahagia, nyatanya bang Bara tetaplah bang Bara, Bara yang kasar dan asal bunyi ini punya sisi baik yang tidak biasa cara mengungkapkannya, hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya.

"Bian ketemu bang Niel di pantai... "
Bisa Bara tebak kalau Bian pingsan akibat ingatan masa lalunya yang menyerangnya secara bertubi-tubi.

"Kamu merasakan sesuatu? "
Bian mengangguk mengiyakan, tapi kemudian menggeleng lemah.

"Masih sama bang... Cuma sesek yang Bian rasain... Bian masih belum dapat jawaban apapun.. "
Bara memejamkan matanya kesal, Bian butuh pertolongan, ini sudah terlalu jauh,berkali-kali dia bilang pada Daniel tapi dia hanya diam, menyuruh Bian? Ingatkan Bara untuk tidak melakukannya lagi karena pernah sekali dia melakukannya dan Bian menangis histeris berkata kalau Bara sama kayak bang Daniel,meracau bahwa dia cuma punya Bara dan memohon untuk tidak membencinya sama seperti yang dilakukan keluarganya,mungkin ini salah satu alasannya Daniel hanya diam saja saat di desak Bara.

"Bian, kalo kamu kayak gini terus abang harus gimana? "
Bian menatap Bara lesu, dia juga tidak tau harus berbuat apa.

"Bang kalo Bian bilang setiap malem Bian dapet mimpi aneh abang percaya?"
Bara mengangguk, sepertinya dia harus menambah stok kesabaran kalau dia mau Bian tetap baik baik saja dengan keadaan mentalnya yang kurang bagus.

"Abang siap dengerin apapun itu. "

"Bian... Didatengin Ayah, bang Niel sama Tara... Bian liat mereka berdarah-darah,kadang lihat mereka terbaring pucat dan kaku... Bian tau itu cuma mimpi, tapi sekarang Bian ngerasa Takut bang.. Gimana kalo bener ternyata yang bikin bunda pergi itu Bian? Gimana kalo tanpa sadar Bian bikin mereka pergi juga sama kayak yang Bian lakuin ke bunda?... "

"Bian, dateng ke rumah om Adiguna ya, kamu butuh dia.abang emang bisa dengerin kamu apapun itu, tapi abang gabisa narik kamu, abang gabisa buat kamu jadi Bian yang sehat. "

"Iya kayaknya emang yang dibilang Ayah itu bener, Bian emang beneran pembunuh ya bang, makanya Bian harus berobat, biar Bian ga nyakitin orang lain lagi. "

BIANTARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang