two side🥦

165 16 2
                                        

#enjoy the story#

   

           Kenyataan pahit ada di depan mata,tapi kenapa lisannnya tak mampu hanya untuk menyampaikannya..

      Sudah menjadi hal biasa saat Bian memasuki kediaman keluarganya itu dengan suasana yang dingin dan sunyi,di jam begini biasanya sang Ayah belum pulang,abangnya?ada kok,tapi pasti mengurung diri di kamarnya,Tara?nggak tau deh yang jelas Bian selalu datang terlebih dahulu kalau dirinya tidak mampir ke rumah kaca,tapi kali ini kenapa rasanya ada sedikit perbedaan,seseorang tengah menatapnya sambil tersenyum dari arah ruang tamu,Bian mengernyit kebingungan,siapa sosok itu?.

"eh?"

"Halo ganteng,om datang ni,nggak mau di sapa ni om-nya?"
Orang itu berbicara padanya,Bian seperti mengenalnya,ah?!Bian benar-benar mengenalnya!!.

"Oom Jeri?!!"
Bian berlari menghampiri Omnya tersebut,rasanya sudah lama sekali tidak berjumpa,Bian hampir saja melupakan saudara Ayahnya ini.

"Om kemana aja?kok lama banget nggak main?aku sampai hampir nggak inget tauk sama om"
Bian tersenyum dalam dekapan Jeri,kalau tidak salah hanya om Jeri yang tidak mencampakkannya dulu saat pertama kali ia membuka mata setelah kejadian mengerikan itu menimpa keluarganya,dan sepertinya dugaannya tidak salah,om Jeri membalas pelukannya,mendekapnya dengan hangat,tidak ada penolakan seperti biasanya yang sering ia dapat dari orang-orang terdekatnya.

"Keponakan manis om sudah besar rupanya?sekarang sudah kelas berapa hm?"
Tanya om Jeri dengan lembut ketika Bian melepaskan pelukannya,Bian tersenyum cerah sebelum menjawab pertanyaan om-nya tersebut.

"Bian sekarang udah kelas 11 om,Bian juga ikut ekskul basket!!"
Terang Bian antusias,rasanya sudah lama ia tidak ada yang menanyainya tentang kegiatan sekolahnya kecuali bibi....

"oiya?!pantas saja Bian yang pendek sekarang bertumbuh setinggi ini,wahh keren sekali keponakan paman ini"
Bian menanggapi dengan tawa ringannya,lalu ia tersadar ia belum tau tujuan utama om-nya ini datang ke rumahnya.

"Oiya om ada perlu apa dateng ke rumah Ayah?mau mengobrol dengan ayah ya?Tapi Ayahnya belum pulang om,om sudah lama disini?"
Tanya bian beruntun sampai membuat Om Jeri kebingungan,Om Jeri tersenyum lalu mengusak rambut Bian dengan gemas.

"Satu-satu A nanyanya,kamu tu ya hahaha"
Bian meringis tidak enak,habisnya dia penasaran,kedatangan Om-nya ini terlalu mendadak menurutnya,oh atau sudah direncanakan tapi karena dia itu tidak penting jadi tidak dikasih tau sama Ayahnya?benar begitu sepertinya.

"Oy?Bian kok melamun,om bicara tapi tidak didengarkan ya sama Bian?"
Bian menggaruk tenguk kepalanya yang tidak gatal,merasa tidak enak karena tidak mendengarkan omnya berbicara,padahal tadi dia yang bertanya.

"hehe bisa diulangi om?"

"Om hanya mau mampir saja Bian,om baru saja datang beberapa menit sebelum kamu datang tadi,tidak ada hal penting sih yang mau dibicarakan,tapi om sedikit kecewa karena tidak bertemu Ayahmu yang super sibuk itu"

"maaf ya om harusnya om membuat janji temu dulu sama Ayah,dia benar-benar orang yang sibuk hahahaha"
Bian tertawa canggung,dia tidak bisa membantu omnya untuk bertemu sang Ayah,Bian sendiri saja juga tidak tau cara untuk menemui ayahnya itu hahaha.

"Om ngapain kesini"
Suara dengan nada datar itu,Bian tau siapa pemiliknya,siapa lagi kalau bukan Tara kembarannya?

"Loh Tara?halo sayang apa kabar"
Balas Om Jeri riang pada sosok tara yang berdiri kaku di dekat Vas bunga berukuran sedang tersebut,Tara tidak menjawab dia terus saja menatap datar om Jeri dan itu membuat Bian bingung sekaligius heran pada kembarannya tersebut,iya sih pembawaan Tara memang sudah begitu dari sananya,tapi setidaknya dia harus menyapa Om Jeri yang sudah jauh-jauh datang berkunjung kan?

BIANTARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang