#Enjoy The Story#
"Hati-hati di jalan Bar makasih buat jajannya"
Bara tersenyum pada Eri yang berdiri di depannya, mereka berdua habis pergi jalan-jalan bersama, sekedar menghabiskan waktu setelah tadi siang bermain bersama anak-anak panti.
"Hmm selamat beristirahat, aku pamit ya"
Eri tersenyum sambil melambaikan tangan pada Bara yang perlahan menghilang dari pandangannya, menghela nafas sejenak lalu mulai memasuki pekarangan rumahnya.
Bara berjalan santai di pinggiran pantai, hatinya tengah senang saat ini, jadi mungkin berjalan diatas pasir putih pantai akan menambah kesenangan di hatinya, berjalan pulang namun melewati sebuah pantai malam yang nampak indah dan elegan bukannya seperti menemukan permata diatas tumpukan uang?
Bara menghirup udara dengan tenang, rasanya sejuk dan menyenangkan pandangannya ia bawa ke atas langit yang penuh bintang, lalu turun dan menyusuri hamparan pasir pantai yang nampak berkilauan karena terkena sinar rembulan, tapi tunggu matanya tidak salah tangkap kan? Dia melihat ada seseorang? Diantara hamparan pasir tersebut.
"Ngapain orang itu rebahan di pasir jam segini?"
Gumam bara heran , sebenarnya dia tidak ingin perduli, tapi kenapa rasanya dia pernah ada di situasi ini? Rasa penasaran membuat Bara memperhatikan orang itu dengan seksama, tepat saat itu juga orang itu terduduk dari posisi rebahannya, lalu tertunduk dalam.
"Bian... "
Ya tempat ini adalah tempat pertemuan pertama Bara dan Bian, saat itu Bara baru pulang dari bermain bersama teman-temanya tapi matanya malah tidak sengaja melihat anak laki-laki berseragam SMP berjalan lunglai di hamparan pasir pantai lalu jatuh tersungkur begitu saja, penampilannya sangat kacau, nafasnya tersegal-segal, hampir tidak bisa bernafas, kalau saja waktu itu Bara tidak berbaik hati, mungkin saja hal buruk akan terjadi kepada Bian,melihat orang di depannya itu seketika menhingatkannya pada pertemuannya dengan Bian, maka tanpa aba-aba Bara langsung saja membawa kaki panjangnya menghampiri orang tersebut, samar-samar dia bisa mendengar lirihan orang tersebut.
"Laut.... Bisa kembaliin bundanya Tara nggak... Tara nggak bisa kalo harus berbagai sama kamu... Tara rasanya hampir mati, tolong kembalikan bunda... Tara mohon.. Tara harus apa biar kamu mau balikin bunda? "
Bara mengernyit saat mendengar lirihan tersebut, lalu dia tersenyum sendu.
"Tara."
Perlahan ia lebih mendekatkan diri pada pemuda itu lalu perlahan membawa telapak tangannya guna menutup mata Tara, bisa dia lihat kalau remaja ini sesaat tercekat saat sadar akan adanya orang lain di sisinya.
"Nangis aja, kalo lo nggak bisa nutup mata orang-orang buat liat kelemahan lo, maka tutup mata lo supaya lo ga liat mereka yang natap elo lemah,keluarin semuanya,gue ada disini buat bantuin lo nutup mata."
Tangisan pilu itu benar-benar tumpah saat itu juga, terdengar sangat sesak dan sakit, orang di depannya ini Tara, Bara tau siapa dia, sisi lain dari Bian yang sering ia dengar bahwa dirinya memiliki sifat yang keras dan angkuh, tapi nyatanya semua orang punya sisi lemah masing-masing, begitu pula dengan Tara.
..........
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, dan Tara baru saja masuk ke dalam rumah, entah kenapa dia malas untuk pulang ke rumah, bukankah seharusnya rumah itu jadi tempat pulang dan beristirahat dengan nyaman? Tapi rasanya Tara sama sekali tidak mendapatkannya disini, nyatanya si kembar BianTara ini benar-benar punya kesamaan.
"Ehm, dari mana lo jam segini baru balik"
Seseorang menginstruksi Tara hingga sedikit tersentak dengan nada serak seperti baru terbangun dari tidurnya, dan benar kembarannya berjalan perlahan menyusuri tangga lalu berdiri di depannya sembari mengucek mata.
Tara mengernyit heran, harusnya dia yang bertanya pada Bian, kenapa di jam segini kembarannya ini menuruni tangga?
"Lo ngapain? "
"Gue mau.. Mau.... Mau apa ya Tar? "
Tanya Bian pada dirinya sendiri sampai membuat Tara jengah, seharusnya Tara sudah bisa menebak kalo kembarannya ini memang agak aneh, kenapa dia malah bertanya begitu, buang-buang waktu saja, tanpa berlama-lama Tara berjalan meninggalkan Bian yang masih nampak linglung.
"Eh Tar besok bareng ya, motor gue rusak soalnya"
Ucapan Bian membuat langkah Tara berhenti sejenak, lalu dia menggumam untuk menjawab.
"Hm."
"Eehh lo bilang hm?!! Yess! "
Bian melompat girang, lalu dia berjalan beriringan dengan Tara raut mukanya benar-benar menunjukkan binar kebahagiaan, berbeda dengan Tara yang malah berjalan dengan lempeng, jangan lupakan muka datarnya.
Paginya Tara dibuat kebingungan oleh Bian karena tiba-tiba saja Bian berangkat sekolah menggunakan sepeda milik Bang Danie.
"Oy Tar, duluan ya bilangin ke bang El gue pakek sepedanya soalnya motor gue rusak! "
Bian berteriak sembari menggoes sepedanya begitu ia melihat Tara berjalan mendekatinya, Tara sendiri hanya mengangkat alis tidak paham, bukankah semalam Bian memintanya untuk berangkat bersama? Tapi kenapa dia malah berangkat sendirian, apa iya semalam itu Bian hanya ngelindur?entah kenapa hal kecil itu sangat mengganggu fikiran Tara.
"Kenapa gue ngerasa nggak nyaman ya?"
Tara menggelengkan kepalanya lalu beranjak menuju motornya, dia tidak boleh terlambat hari ini.
..........
Bian berjalan santai menyusuri koridor sekolah yang nampak masih sepi,hari ini dia berangkat lebih pagi dan melewatkan sarapan soalnya motornya ada di bengkel, jadi dia berangkat naik sepeda aja, jadi paginya kali ini sedikit lebih cerah karena dia nggak bertemu ayah sama abangnya.
Senyum cerah Bian bertambah cerah saat dia melihat gadis yang beberapa hari lalu ditemuinya di belakang sekolah, seingatnya dia belum mengenal itu gadis tersebut, langkahnya ia bawa terburu menghampiri gadis yang nampak berjalan santai di Koridor sambil memakan sepotong roti.
"Oooyy cewek lukisan!! "
Bian berteriak cukup kencang sampai membuat gadis yang tengah berjalan santai 5 meter di depannya memekik terkejut lalu memutar tubuhnya ke asal suara, seketika dia memekik terkejut lalu dengan terburu dia berlari hendak menghindari sumber suara yang membuatnya merinding sekujur tubuhnya.
"Hoy tunggu!! "
Bian tidak mau kalah, dia berlalu lebih cepat agar bisa menangkap gadis yang membuat dirinya sedikit penasaran tersebut.
"Apasih cowok aneh! Jangan ngikutin!! "
Teriak gadis tersebut masih sambil berlari, tapi sepertinya dia kalah cepat, jelas saja langkah pendeknya kalah dengan langkah kaki Bian yang selebar lompatan katak tersebut.
"Hah hah lo apaan sih kayak hah dikejar setan aja, gue nggak mau malak lo ya, meuni lari kek mau ditagih utang aja! "
Kata Bian dengan ngos ngosan sembari memegang lengan gadis tersebut.
"Abisnya kamu kenapa ngejar aku kayak gitu"
Bian mendelik kesal lalu mencibir gadis di depannya ini dengan malas.
"Lo yang lari duluan ya anjir"
Kini giliran si cupu yang menatap Bian malas sembari membetulkan kacamatanya dengan tangan kanan, waktu mengangkat tangan kirinya Bian salpok sama roti yang dipegang si gadis, eww aneh banget bentukannya.
"Iww itu roti apaan dah? "
"Ini? Roti selai coklat with saus sambal, enak tauk"
Bian menjauhkan badannya dari si gadis.
"Anjir gue nggak nyangka lo seaneh itu, ternyata lo lebih aneh dari yang gue kira"
Eewww sekte macam apa ini roti coklat tapi pake saos sambel? Emang gila.
(Author=Tapi emang enak Bi ehek)
"Udah ah minggir"
"Tunggu elah, bukannya lo suka gue ya,tapi kok kelakuan lo tidak menunjukkan sebuah rasa ketertarikan ke gue ya? "
Si gadis melirik kesal lalu kembali berjalan sambil bergumam memaki Bian.
"Woy gue mau kenal dong sama orang yang suka confess tiap minggu ke gue dong! Siapa nama lo! Woyy!! "
Namun gadis tersebut sama sekali tidak menghiraukan Bian.
"Aish dasar cegil! "
Happy reading guyysss
Jangan lupa vote and komennyaaaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
BIANTARA
Teen FictionSebuah insiden besar membuat keluarga yang untuh itu menjadi terpecah belah, kehilangan seorang perempuan cantik yang sering mereka panggil bunda membuat badai besar menyelimuti kehangatan rumah besar tersebut, menutupnya hingga dilanda kedinginan y...
