#enjoy the story#
Hari ini Bian sedang tidak memiliki semangat hidup, eh tapi sejak kapan dia punya semangat hidup? Pokoknya yang dia lakuin saat ini cuma bengong di pinggir kolam renang, rumahnya Bian cukup luas dan besar,, Papanya itu benar-benar orang kaya, pokoknya Ayah Arjun itu sempurna luar biasa kalo dia baik ke Bian mah,sayangnya dia nggak ngakuin Bian sebagai anak lagi.
"Orang kaya tu harusnya ngapain aja sih? Kenapa hidup gue rasanya kayak yang kosong banget gitu deh? "
"Katanya jadi orang kaya itu enak? Ya emang enak sih... Tapi kok gue gapernah bahagia ya? "
Yang jelas Bian sedang berbicara pada dirinya sendiri, orang jelas jelas dia sedang sendirian kok, dia menghela nafas berat lalu berdiri sambil mendrible bola basketnya, Bian kelihatan hidup kalo lagi main basket doang, selebihnya dia udah kayak manusia kosong, lebih tepatnya raganya ada tapi pengisinya perlu dipertanyakan keberadaannya.
Dengan penuh semangat Bian mendrible bolanya, lalu sekali tembakan ia berhasil memasukkan bola itu kedalam ring basket, Bian bersorak bahagia seorang diri lalu kembali melakukan tembakan yang sama, tepat sasaran bola itu masuk lagi ke dalam ring yang sukses membuat Bian histeris nggak karuan, berjoget tidak jelas bahkan melakukan rol depan,,Bian merebahkan tubuhnya di lapangan kecil tersebur sembari menatap langit sore, tawanya yang tadi menggelegar perlahan mulai menghilang digantikan dengan isakan kecil, capek Pura-pura bahagia di depan alam semesta.
Tubuh ringkih itu kembali bangkit,, kini perasaannya berbeda jika tadi dia bermain basket dengan rasa suka, saat ini Bian bermain basket di temani dengan kenangan kenangan indah bersama keluarganya, senyum ayahnya teriakan semangat dari bang Daniel pekikan tawa riang dari sang bunda, dan tawa kencang dari Bian kala melihat raut sebal Tara yang kalah dalam permainan mereka, tangisannya semakin kencang sampai-sampai ia tidak melihat jika ada sebuah batu yang kini membuangnya jatuh terjerembab ke kerasnya semen Lapangan.
"Kenapa sih lo ada disitu? Sakit..."
Dia menatap marah pada sebuah batu berukuran sedang tersebut.Tidak Bian tidak mengeluh pada Kepalanya yang kini tergores,dia menepuk-nepuk dadanya dengan pelan menahan isak tangis yang menjijikkan itu keluar dari mulutnya,rasa sakit di dadanya lebih mendominasi ketimbang rasa pusing di kepalanya.
Bian mematung saat mencium bau familiar yang telah lama tak ia hirup, wangi menenangkan khas ayahnya, kini bisa ia rasakan seseorang mendatanginya lalu berjongkok di hadapannya, Bian mendongak terkejut karena melihat atensi sang ayah yang kini menatapnya dengan tatapan.. Yang mungkin bian rindukan.
"Lemah.begitu saja menangis. "
Tangan itu, tangan yang selalu ia gengam disaat dia takut,selalu dia cari disaat ia kesusahan melakukan hal baru,dan tangan yang sangat sulit ia jangkau untuk saat ini..kini tangan itu perlahan naik ke atas dan mendarat dengan manis di lukanya, bisa ia rasakan sang ayah tengah mengusap lembut keningnya.
"Sakit.... Ayah... "
Arjun tertegun ketika ingatan mengerikan itu perlahan tapi pasti mulai menguasai dirinya kembali.
"Ini semua salahmu Arjun!! "
"Kau yang membuat anakku pergi!!
" Arjun kesayanganku pergi meninggalkan ku... "
"Tidak sayang itu bukan salahmu"
"Maaf Marsha.. "
"Ayah Bian rindu... Kapan ayah sayang sama Bian lagi... "
Ucapan lirih itu berhasil membawa Arjun kembali, tangan itu masih menggantung canggung di kepala Bian, Tatapannya bertemu dengan manik sendu yang mengingatkannya kepada seseorang, emosinya kembali memuncak,dengan kasar Arjun mendorong anaknya itu hingga kembali terjerembab ke belakang, dia berdiri tanpa menatap Bian.
"Ayah... "
"AYAH!! "
Tara berjalan marah menghampiri keduanya, bisa dia lihat kembarannya itu tengah menangis tersedu sendu sembari menatap sang ayah yang enggan menatapnya balik.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIANTARA
Teen FictionSebuah insiden besar membuat keluarga yang untuh itu menjadi terpecah belah, kehilangan seorang perempuan cantik yang sering mereka panggil bunda membuat badai besar menyelimuti kehangatan rumah besar tersebut, menutupnya hingga dilanda kedinginan y...
