Devan menarik Bella, membawanya kembali ke sekolah. Kini mereka berada di lorong koridor yang sangat sepi.
"Lepasin anjir" ujar Bella kesakitan.
Devan melepaskan tangan Bella, menatap Bella dengan tatapan dingin. "Bolos hmm?" Tanya Devan.
"Nggak! Cuma nongkrong di warung!" Balas Bella ngegas, sudah tahu bolos masih aja nanya.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Tanya Bella tidak mengerti, cowok itu berbicara setengah-setengah.
"Kenapa bolos?" Devan memperjelas.
"Pengin aja" balas Bella santai.
"Jawab yang bener" Devan berusaha tidak emosi, cewek ini selalu menjawab pertanyaan dengan sesuka hatinya. Selalu membuat orang jengkel dengan jawabannya itu.
"Karena gue pengin bolos yaudah gue bolos ke warung bude" Bella masih santai, menjawab dengan asal. Padahal ia jelas tahu yang Devan inginkan bukan jawaban seperti itu, melainkan jawaban yang benar-benar masuk akal.
"Bukan itu bodoh!" Devan menyentil dahi Bella karena gemas sendiri.
"Ya terus apa dong?"
Devan berdecak malas, gadis ini benar-benar membuatnya kesal. "Lo selalu buat gue kesal, mau gue cium tuh mulut?" Tanya Devan sambil tersenyum manis, menaik turunkan kedua alisnya menggoda.
Bukannya tergoda, Bella malah menatapnya dengan jijik. Mual rasanya melihat senyum Devan yang menurutnya sangat menjengkelkan. Padahal, senyum Devan itu manis sekali. Sampai-sampai membuat ciwi-ciwi berteriak histeris ketika melihat senyum Devan yang memabukkan.
"Ogah amat, bibir gue nyatu sama bibir lo? Helloo, bibir gue masih suci ya beda sama bibir lo yang udah nggak perawan! Bisa gatal-gatal gue kalo ciuman sama lo" ucap Bella dengan wajah tak berdosanya.
Devan di buat melotot akan ucapan gadis itu, sungguh sangat blak-blakan. "Udah gak perawan kata lo? Emangnya bibir gue apaan hah?!"
"Bibir janda, maybe" Bella mengedikkan bahunya acuh tidak peduli.
Wah, makin ngadi-ngadi nih cewek. Tadi perawan sekarang janda? Apa maksudnya itu maszeh.
Devan semakin di buat kesal, dia memajukan langkahnya semakin mendekati Bella. Hingga tidak ada jarak di antara keduanya, Bella sendiri gelagapan. Gadis itu sebenarnya penakut, apalagi tubuhnya sekarang sangat dekat dengan cowok itu. Takut di apa-apakan!
Devan yang merasakan ketegangan dari tubuh Bella, tersenyum miring. Bella menetralkan wajahnya, berusaha biasa-biasa saja. Bella merasakan napas dari cowok itu ketika dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Bella. Jantung Bella serasa mau copot dari tempatnya, dia tidak bisa menghindar.
Bella memejamkan matanya, entah ide dari mana dia hanya berinisiatif untuk memejamkan matanya sendiri. Devan tersenyum, tentu sangat manis melebihi manisnya gulali. Di dekatinya wajah gadis itu, lalu dengan sengaja tangannya meraih rambut gadis itu. Mengusapnya dengan pelan.
"Ada daun di atas rambut lo" kata Devan. Bella pun langsung membuka matanya kembali. Dia salah tingkah!
Bella gugup, dirinya seperti patung kali ini. Dia sangat malu, bisa-bisanya memejamkan mata.
Sangat bodoh! Rutuk Bella dalam hati.
Devan terkekeh, berhasil menjahili gadis menyebalkan itu. Melihat raut wajah Bella yang tegang, itu membuat Devan bahagia karena merasa menang dengan tingkahnya tadi.
"Berharap banget kayaknya gue cium lo," cibir Devan di sela-sela ketegangan.
Bella tersadar, mendelikkan matanya tajam. "Cih, najiss" decihnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANNABELLA
Teen FictionIni bukanlah kisah laki-laki berwatak dingin, ketua geng motor ataupun ketua osis. Ini hanyalah kisah Annabella Cassandra, seorang gadis cuek dan galak yang tiba-tiba mencintai sosok laki-laki yang memiliki senyum manis dengan sifat yang menyebalka...
