E

11.4K 611 6
                                        

Hallo

Balik lagii. Makasih banyak😭❤ yang udah mau baca apalagi yang vote😍. Bikin aku semangat buat update.

✨Happy Reading Guys✨

Clara membonceng Kayla, sedangkan Rani dengan Feni. Tumben sekali biasanya Clara dan Feni menempel seperti anak kembar dan kali ini Feni ingin bersama Rani. Entahlah jika mereka disatukan akan membicarakan seputar 3C (cogan cogan dan cogan).

Feni melajukan motor secepat jet, sedangkan Clara membawa motor selambat siput.

"Clara bisa cepetan dikit nggak?!" Kayla sudah kesal karena mereka tertinggal jauh.

"Santai aja lah. Gue lagi pengen menikmati cuaca cerah ini," jawab Clara santai sambil menatap sekelilingnya.

Cerah you eyes!!

Sangking cerahnya wajah Kayla merah karena panas. "Cepetan gas pol!" Kayla menatap garang Clara lewat spion.

Clara mengangguk malas. Tangannya menarik gas motor beatnya menambah kecepatan menjadi 40/km yang awalnya 20/km membuat Kayla menggeram kesal rasanya ingin menjambak temannya itu.

Akhirnya mereka sampai dengan selamat. Kos-kosan khusus untuk putri. Feni berasal dari Bandung, ia memilih menuntut ilmu di Jakarta. Walaupun ada rumah neneknya tetapi Feni memilih ngekost yang dekat dengan sekolah.

"Kita mau makan apa nih?" Clara merebahkan tubuhnya di kasur Feni. Mereka disini sudah seperti rumah sendiri.

"Terserah, gue ikut aja." Rani menekan remote AC. "Yang penting gue es teh. Panas banget buset."

"Lo?" Feni menunggu pendapat Kayla.

Kayla memandang AC sambil memikirkan yang enak untuk dimakan saat ini. "Eh bentar, ayah gue nelpon nih." Kayla menekan tombol hijau di layar hpnya.

"Halo yah?"

"Adek dimana? Kata Vano sekolahnya pulang cepet kok belum sampe rumah?" Suara Jefri sedikit keras karena di bengkel nya ramai.

Kayla melirik Feni yang diam mencoba mendengarkan telpon dari ayahnya. "Kayla main ke kost Feni dulu yah."

"Yaudah nanti kalau mau pulang telpon ayah atau abang buat jemput adek."

"Iyaa yah. Yaudah aku tutup telponnya."

Ayahnya ini cukup protektif apalagi Diki. Walaupun ngeselinnya minta tobat, kakak laki-laki nya itu selalu menjadi pelindung Kayla.

***
Arga menunggu Mayang yang sedang bersiap untuk mengantarkan Arga ke tukang urut. Ia masih mencari cara untuk mendapatkan uang, tidak mungkin jika kembali ke rumah. Mungkin papa nya sudah mulai lelah menghadapi kebandelan anak semata wayang nya. Beberapa kali Arga melihat seperti orang suruhan papanya memantau rumah ini tanpa menjemputnya paksa.

"Sini nenek bantu jalan." Mayang memegang lengan Arga.

"Terimakasih nek, emang rumahnya dimana nek?" Arga berjalan dengan pincang. Jujur ini baru pertama kali ia ke tukang urut. Sebelumnya jika masalah seperti ini ia langsung ke dokter.

"Ngga jauh dari sini kok sekitar 1 kilometer kita jalan aja," kata Mayang.

Arga mematung. "Serius nek?" yang benar saja jalan dengan kaki pincang suruh menempuh 1 km bisa-bisa kakinya akan bengkak seperti kaki gajah.

Mayang menepuk pelan pundak Arga. "Bercanda." menunjuk kearah rumah berwarna hijau sekitar tiga puluh meter. "Tuh rumahnya cat hijau, dia temen saya."

Arga tersenyum sambari mengangguk. Bercandanya orang tua boleh juga.

ARGADANA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang