"Lonely was the song i sang, until the day you came." - Half of My Heart, John Mayer.
***
Untuk Raffael Leonardi,
(Yang selalu penuh teka-teki dan tak pernah memberiku petunjuk untuk menebaknya sama sekali)
Halo, Raffa.
Sekarang tepat pukul delapan malam di Venice dan aku baru saja tiba di hotel. Seharian aku berjalan mengitari kota Venice bersama Audrey, salah satu sepupuku dari keluarga bunda yang memang bekerja di Venice. Pertama-tama aku pergi ke Piaza San Marco, sebuah gedung yang memiliki menara yang cukup tinggi. Nah, dari puncak menara tersebut, kita bisa melihat pemandangan kota Venice secara keseluruhan.
Kami juga mengunjungi Bridge of Sighs atau jembatan rintihan. Namanya memang terdengar menyeramkan, Raf, tapi sebenarnya itu merupakan salah satu tempat sakral dalam hal asmara di kota ini. Aku juga sempat mencicipi hidangan khas dari kota ini, Polenta. Bentuknya persegi panjang dan berwarna keemasan dengan kombinasi jamur dan potongan daging. Aku bilang pada Audrey kalau bentuknya mirip martabak dan dia menghadiahiku jitakan di kepala.
Omong-omong, kemarin sewaktu aku masih berada di kereta api, aku sempat melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan tas ransel berukuran besar di punggung mereka. Kalau menurutku, sepertinya mereka sedang liburan ala backpacker. Dan dari ukuran tubuh mereka, aku yakin kalau usia mereka belum mencapai dua puluh tahun.
Untuk waktu yang cukup lama, aku termenung menatap mereka. Melihat mereka tertawa bersama, saling meraih satu sama lain dalam kehangatan, menelusuri jejak petualangan bersama. Tiba-tiba saja aku merasa mual. Sepercik rasa iri dan marah menyusup dalam dadaku.
Aku iri pada mereka, Raf.
Aku iri pada mereka karena mereka memiliki kesempatan untuk mewujudkan rencana petualangan yang telah mereka rancang berdua. Sementara rencana-rencana milik kita hanya bisa mendekam dalam kardus usang di kolong tempat tidurku. Aku marah pada dunia karena ketidakadilan yang diberikannya padaku. Aku marah, Raf, kenapa kita tidak diberikan kesempatan yang sama?
Tapi toh tidak ada gunanya buatku untuk mengomel dan mengungkit-ungkit lagi tentang masalah itu sekarang. Semuanya sudah terlalu lama berlalu dan aku tau tidak ada satu hal pun yang dapat kita lakukan untuk mengubahnya.
Di suratku yang ke tiga ini, aku ingin bercerita sedikit tentang kamu dan sisi lain dari dirimu yang masih belum bisa ku pahami sepenuhnya. Kamu yang melankolis, dalam, dan penuh filosofi. Sisi lain dari sosok seorang Raffael Leonardi yang tidak pernah kamu tunjukan kepada orang lain selain aku. And that's simply makes me feel wanted.
* * *
Sore itu aku sedang sibuk berkutat dengan tugas Fisika dengan posisi telungkup di atas tempat tidurku saat aku merasakan sesuatu yang berat menabrakku dan berhenti tepat di sebelahku. Sambil mengaduh, aku mengalihkan pandanganku pada Noah yang kini sedang berbaring dengan manis persis di sebelahku. Cengiran lebar terpampang di wajahnya. Poninya yang mulai memanjang terlihat berantakan.
Aku berdecak pelan. "Kalau mau masuk, ketuk pintu dulu dong."
"Ngapain?" Noah menatapku dengan sorot aneh. "Kayak baru kenal aja." sambungnya santai. Ia lalu ikut mengambil posisi yang sama sepertiku. Keningnya berkerut saat pandangannya mendarat pada tugas yang sedang ku kerjakan.
"Yaelah, banyak banget tugasnya. Berarti gue udah ketinggalan banyak pelajaran dong?" tanyanya sambil menggaruk kepala.
Aku hanya mengangkat bahu. "Udah hampir dua minggu lo gak masuk, kalau gak banyak aneh namanya. Beneran udah sembuh?" tanyaku sebelum menempelkan punggung tanganku ke keningnya, dalam hati aku merasa bersyukur karena aku bisa merasakan kalau suhu tubuh Noah telah kembali normal. Bintik-bintik serta bekas cacarnya pun sudah tidak tampak lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unsent Letters
Teen Fiction[TELAH DITERBITKAN oleh Penerbit Grasindo, 2017. Tersedia di Gramedia] - the first nine chapter's still available for preview - "Kamu selalu berkata kalau aku ini bintang yang paling terang. Bintang yang memberi kamu inspirasi saat otakmu buntu menc...
