8. Gelap dan Terang yang Beriringan

34K 2.6K 429
                                        

"Just one mistake. It's all it will take. We'll go down in history." - Centuries, Fall Out Boy.

***

Untuk Raffael Leonardi,
(Yang sisi gelapnya tidak pernah membuat rasa yang aku miliki untuknya berkurang sama sekali.)

Halo, Raffa.
Sekarang tepat pukul delapan pagi dan aku sedang berada di kota Lausanne, Swiss. Benar-benar tidak bisa di percaya, Raf, aku sudah menempuh perjalanan sejauh ini. Kemarin, aku tidak sempat pergi kemana-mana karena aku baru tiba di sore hari. Yah, mau bagaimana lagi? Perjalanan yang panjang benar-benar membuatku lelah, aku langsung tidur dengan nyenyak.

Hari ini aku berencana menjelajahi setiap sudut kota Lausanne dan mencicipi berbagai jenis cokelat yang ada di kota ini. Kalau tidak salah, bukankah banyak yang mengatakan kalau cokelat paling enak terdapat di Swiss? Jangan iri kalau nanti aku bisa minum cokelat panas dengan tambahan marshmallow paling enak yang pernah ada diseluruh penjuru dunia. Siapa suruh kamu tidak berada disini juga?

Di suratku yang entah keberapa ini, aku ingin bercerita sedikit tentang fakta sederhana yang telah diketahui semua orang; gelap dan terang selalu beriringan. Kita tidak akan tahu terang tanpa adanya gelap. Tidak jauh berbeda dengan diri kamu. Meskipun terkadang sisi gelap dari diri kamu membuatku takut, tapi selalu ada satu momen dimana aku berharap bisa melihatnya sekali lagi.

Karena satu hal yang aku tau pasti, sisi itu selalu muncul saat kamu berusaha melindungiku.

***

Hari dimana aku pertama kali melihat sisi lain dari diri kamu adalah hari yang cerah. Matahari bersinar terik di langit kota Jakarta. Aku melangkahkan kakiku disepanjang koridor sendirian. Jam istirahat sedang berlangsung namun dengan sialnya aku diminta untuk menemui Bu Adel-wali kelasku-di kantor guru yang terletak tepat di ujung koridor kelas 12.

Sebenarnya tidak ada yang spesial dari koridor tersebut, sama saja seperti koridor lainnya. Hanya saja di sekolah kita koridor kelas 12 merupakan koridor keramat bagi para junior. Aku juga tidak tahu sejak kapan tepatnya para senior mulai bertingkah seakan koridor itu merupakan teritori mereka. Mereka kerap kali mengusili para junior yang melintas, apalagi anak kelas 10 sepertiku.

Cepat-cepat aku mengambil langkah lebar menuju kantor. Beruntungnya aku, koridor terlihat benar-benar lenggang siang itu. Aku bahkan tidak berpapasan dengan satu orang senior pun. Mungkin mereka semua pergi ke kantin? Entahlah.

Setelah menyelesaikan urusanku dengan Bu Adel, aku kembali melangkahkan kakiku secepat kilat. Berusaha menjauhi koridor kelas 12 secepat yang aku bisa mengingat jam istirahat yang sebentar lagi akan berakhir. Tapi sepertinya keberuntunganku tidak bertahan lama karena kira-kira delapan langkah sebelum aku mencapai tangga yang membawaku turun ke daerah kelas 11 aku bisa mendengar suara serak berat yang memanggilku dari belakang.

"Pst."

Aku menghentikan langkahku. Awalnya aku tidak yakin jika orang yang dipanggil oleh suara itu adalah aku. Namun setelah mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru koridor dan mendapati kalau aku satu-satunya orang yang berada di sana, aku membalikkan badan dengan pasrah. Pandanganku langsung bertabrakan dengan manik hitam legam milik salah satu kakak kelas kita, Gavin Zheldy. Saat itu dua kata otomatis terlintas di pikiranku; matilah aku.

Laki-laki dengan postur tinggi tegap itu menatapku dari ujung kaki sampai kepala dengan pandangan meneliti. Selagi ia mengamatiku, kakinya terus melangkah hingga akhirnya ia berdiri tepat tiga langkah dihadapanku. Aku menelan ludah dengan susah payah. Kabar burung yang beredar di seluruh penjuru sekolah dan kehebohan yang kerap kali ia timbulkan saat mengusili Mentari Adiola-salah satu teman sekelasmu-membuatku menarik kesimpulan kalau sosok yang berdiri di hadapanku dengan bibir dikulum dan sorot tajam ini memiliki reputasi yang buruk. Jauh lebih buruk dari kamu.

Unsent LettersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang