"Cause all the things that I never knew I wanted, are here with you." - Our Time, Secondhand Serenade.
***
Untuk Raffael Leonardi,
(Yang selalu berhasil membuatku melakukan hal-hal gila yang bahkan tak pernah ku bayangkan sebelumnya.)
Halo, Raffa.
Aku memutuskan untuk berada sedikit lebih lama di Venice. Aku menyukai kota ini. Lebih tepatnya, aku jatuh cinta. Sinar lampu jalan yang berkilau, kerlipan bintang di langit kota Venice yang bersih, udara yang berbau khas air laut, semuanya menyatu dengan indah. Aku betah berlama-lama disini. Selama beberapa saat, aku bahkan sempat menyesali keputusanku karena melanjutkan sekolah di Inggris dan bukannya di Venice. See? Hanya dengan hal-hal sederhana seperti itu kota ini sudah mampu menghasutku untuk tinggal disini lebih lama lagi.
Tak terlalu jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada kita bukan, Raf?
Senyum simpul milikmu, caramu menatapku, dan obrolan kecil yang dulu kita bagi, semua hal itu cukup untuk membuatku bertahan. Bersandar pada kamu meskipun aku tau resiko apa yang akan ku hadapi kedepannya.
Selalu sesederhana itu.
Apa yang kita punya memang selalu sesederhana itu.
***
"Namanya Raffael Leonardi, umurnya satu tahun diatas lo. Papanya punya perusahaan yang berbau perminyakan sementara Ibunya mantan model terkenal. Peringkatnya di kelas gak bagus-bagus amat. Paling gak bisa pelajaran Biologi dan paling suka Matematika, yah, meskipun nilai Matematikanya juga pas-pasan. Penampilannya berantakan. Waktu kelas satu sering berantem. Dan menurut guru-guru dia termasuk salah satu murid yang harus dihindari kalau lo mau keluar dari sekolah ini dengan nama baik-baik."
Noah berucap panjang lebar sambil melempar-lemparkan rubik dalam genggamannya. Tubuhnya di rebahkan diatas tempat tidurku sementara aku duduk dengan bibir yang di majukan beberapa senti di kursi meja belajar, menatapnya dengan pandangan tidak setuju.
Ku tiup poniku yang jatuh menutupi dahi. "Berisik, gue udah tau." balasku ketus.
Dan aku memang tidak bohong. Semua yang disebutkan oleh Noah telah ku ketahui terlebih dahulu. Dari mana? Tentu saja dari kamu. Kamu menceritakan semuanya padaku di sela-sela sesi obrolan malam kita.
Setelah diskusi tentang novel Paper Towns sore itu, kamu kembali mengantarku pulang. Aku ingat saat kita akhirnya tiba di depan rumahku, seulas senyum lebar yang mencurigakan tercetak di wajahmu, membuatku bertanya-tanya akan apa yang sedang kamu pikirkan.
Pertanyaanku langsung terjawab saat kamu buka suara. "Gue udah selesai baca Paper Town, berarti mulai sekarang gue boleh telepon atau chat lo kan?" tanyamu tanpa basa-basi, kontan aku langsung menahan napas.
Saat itu aku benar-benar tidak tau respon macam apa yang harus aku berikan. Kalau aku langsung mengangguk, aku takut kamu mengira kalau aku sangat senang dengan usulanmu itu dan beranggapan aku menyukai kamu. Tapi kalau aku bertingkah acuh tak acuh, aku takut kamu malah menganggapku tidak terlalu menyukai usulan itu dan malah tidak menghubungiku.
Maka setelah kamu melemparkan pertanyaan itu, aku memilih untuk diam dan menggigit bibir selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk kecil.
Sejak saat itu, kamu cukup sering menghubungiku. Paling tidak mengirim pesan singkat kalau memang hari-harimu sibuk. Kita.. cukup dekat? Yah, bisa ku katakan begitu. Namun di sekolah kita jarang mengobrol bersama. Aku bisa memaklumi hal itu karena kamu yang pastinya sibuk dengan rutinitasmu dan aku yang tidak mungkin meninggalkan teman-temanku begitu saja, apalagi ada Noah. Biasanya kalau kita berpapasan, kamu hanya akan menatapku sekilas dan melemparkan seulas senyum kecil, nyaris tidak keliatan bahkan. Namun semua itu cukup untukku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unsent Letters
Novela Juvenil[TELAH DITERBITKAN oleh Penerbit Grasindo, 2017. Tersedia di Gramedia] - the first nine chapter's still available for preview - "Kamu selalu berkata kalau aku ini bintang yang paling terang. Bintang yang memberi kamu inspirasi saat otakmu buntu menc...
