Lo masih cinta sama Indro?

605 86 11
                                        

Jangan cuman spam next doang, dong! Tapi komen isi ceritanya itu gimana!
---
Ria menguap dan merenggangkan otot-ototnya saat Pak Jaky telah keluar kelas. Rasanya sangat lega saat mendengar bel istirahat berbunyi.

"Ri? Mau ke kantin bareng?"

Ria langsung menoleh dan memutar bola mata malas, saat melihat Aldo berdiri di samping bangkunya dengan tersenyum sok ramah. "Nggak!" tolak Ria, galak.

Aldo mengangguk dan tersenyum miris. "Kalau gitu gue duluan, ya."

Ria hanya menatap masa bodoh kepergian Aldo. Lagian, Ria sama sekali tidak suka Aldo di sekolah ini. Sama sekali tidak suka. Pandangan Ria ia alihkan pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelasnya, Loly. Refleks Ria menatap bangku Raquel, tapi di sana tidak ada Raquel lagi. Lalu untuk apa Loly ke sini?

"Hai, Ndro!" sapa Loly, berjalan ke bangku Indro.

Terjawab sudah. Jadi alasan Loly ke kelasnya bukan menemui Raquel, tetapi Indro. Untuk apa? Apa Loly tidak takut dengan ancamannya?

"Gue mau balikin hp, lo! Makasih, ya, udah pinjamkan ke gue," kata Loly tersenyum, memberikan hp Indro.

Handphone? Untuk apa Loly meminjam handphone Indro? Kenapa juga Indro harus meminjamkan ponselnya pada Loly? Tanpa pikir panjang lagi, Ria langsung berdiri dari bangkunya dan berjalan ke belakang, tepatnya ke bangku Indro.

"Lo nggak takut sama ancaman gue?" tanya Ria langsung, mendorong pelan bahu Loly.

"RIA!" bentak Indro, bangkit berdiri.

Di kelas hanya tinggal Ria, Indro, Loly, Beben, Gino, dan Rafi. Wulan dan yang lain sudah pergi ke kantin beberapa menit yang lalu.

"Kenapa, Indro? Lo mau marah sama gue karena gue dorong dia?" tanya Ria, mengangkat kedua alisnya.

"Ri? Lo jangan kurang ajar, deh! Nggak usah bikin ulah," kata Gino, membuat Ria menoleh padanya.

"Gue nggak bikin ulah, kok. Gue cuman nggak mau Lolypop dekat-dekat sama Indro," kata Ria, tersenyum sinis menatap Loly.

"Emang kenapa kalau Loly dekat sama Indro? Lo sadar kan, kalau lo bukan siapa-siapa Indro?" tanya Beben, terkekeh mengejek Ria.

Ria mengangguk-angguk, sambil tersenyum. Dia melihat pada Indro yang menatapnya datar. "Justru karena gue bukan siapa-siapa Indro, makanya gue nggak mau siapa pun yang jadi siapa-siapanya Indro! Termasuk ini orang," kata Ria, melirik tajam Loly.

"Lo masih cinta sama Indro?" tanya Rafi, yang sejak tadi diam.

Ria menggeleng. "Apa lo bertiga pikir gue akan tetap cinta sama orang yang udah campakkan gue?" balas Ria bertanya.

"Nggak ada yang campakkan lo, Ri. Kecuali diri lo sendiri," kata Beben.

Ria tertawa. "Iya, lo benar. Diri gue lah yang mencampakkan gue sendiri. Karena apa? Karena gue terlalu mudah percaya hingga akhirnya di sakiti oleh kepercayaan gue sendiri," kata Ria, terkekeh hambar.

Loly hanya diam di tempatnya. Jelas dia bingung dengan ucapan Ria, Beben, Gino, dan Rafi. Dia sama sekali tidak tau mengenai masa lalu mereka. Indro dan Ria? Ada apa dengan mereka dulu?

"Ri? Cukup, ya! Lebih baik lo urus kehidupan lo sendiri. Gue mau dekat siapa, itu bukan urusan lo. Begitu juga lo mau dekat siapa pun, bukan jadi urusan gue," kata Indro, tegas.

Ria tersenyum miris mendengar ucapan Indro. Sakit? Jelas, tidak! Dia telah merasakan lebih buruk perbuatan Indro daripada ini. Dan ucapan Indro barusan, tidak lebih sakit dari sebelum-sebelumnya.

"Lo dengar kan, Ri? Bukan jadi urusan lo Indro mau dekat sama siapa, termasuk sama gue," kata Loly, tersenyum kemenangan. "Lagian gue heran sama, lo. Kenapa lo ngelarang Indro di deketin sama yang lain? Apa karena lo suka sama Indro, tetapi Indro nggak membalas perasaan, lo?" tanya Loly, tersenyum mengejek Ria.

Apa katanya? Indro tidak membalas perasaanya? Hahaha! Ingin sekali Ria melayangkan tamparan ke wajah Loly, tetapi ia tahan. Sekarang belum saatnya Ria memberi pelajaran pada Loly. Tapi lihat saja nanti, hidup Loly akan Ria pastikan tidak tenang!

"Okey! Gue nggak akan urus kehidupan lo lagi! Gue juga nggak akan peduli siapa pun orang yang dekat sama lo lagi," kata Ria, menatap Indro serius. "Tapi akan gue pastiin, mulai detik ini, hidup lo, Loly, nggak akan tenang!"

-----


RindroTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang