One Last Time

269 26 26
                                    

Satu yang harus kau tahu

Ku menanti kau tuk kembali...

Jujur ku tak ingin engkau pergi,

Tinggalkan semua usai di sini...

Tak tertahan air mata ini,

Mengingat semua yang t'lah terjadi...

Keisya Levronka - Tak Ingin Usai

Dalam kondisi temaram yang berasal dari sebuah lampu minyak kecil, suara tangisan yang sedari tadi terus menggema kini mulai mereda dari para sandera khususnya warga sipil. Hal ini pun sebenarnya terpaksa dilakukan karena adanya tekanan untuk tak bersuara dengan ancaman todongan senjata. Raut wajah ketakutan dan kesakitan begitu nyata tergambar disana. Hampir dari seluruh sandera mengalami luka. Baik karena luka sayatan, luka lebam karena benda tumpul juga luka yang disebabkan oleh tembakan senjata.

Hanya Mama Florence, satu-satunya sandera yang seorang warga asli tak mengalami luka. Ia mampu meredam kebringasan para pelaku untuk tidak menyentuhnya. Sementara sisanya baik pria atau wanita, menjadi sasaran kekejaman yang tak mengenal belas kasih.

"Argh... Sakit."

Rintih salah satu sandera wanita yang mengalami luka sayatan pisau dipipinya. Darah masih mengalir disana, beradu cepat membasahi dengan bulir air matanya.

Namanya Tina. Ia merupakan salah satu relawan sebagai guru yang mengikuti program Pemerintah di daerah 3T, terdepan, terluar dan tertinggal. Keberadaannya memang sangat diperlukan karena kurangnya tenaga pendidik di Papua.

"Ibu Guru Tina sabar ya. Mama berdoa semoga sa punya Tuhan memberikan pertolongan." Mama Florence membesarkan hati seseorang yang ia segani.

Profesi guru di Papua memang begitu dihormati khususnya oleh mereka warga asli karena peranan pentingnya dalam membangun sumber daya manusia di tanah Papua.

Selain dirinya, ada dua perawat yang bertugas membantu dokter militer di wilayah tersebut. Kila dan Santi menjadi asisten dan kaki tangan Devis untuk menangani warga sekitar dalam urusan pengobatan. Meski keduanya terlebih dahulu telah berada di distrik ini, namun langsung bisa menyesuaikan dengan Devis sebagai seorang dokter militer.

Kila dan Santi tak jauh berbeda kondisinya. Dengan tangan terikat ke belakang yang berkait tiang, darah mengering tak sempat diseka menghiasi sudut bibir Kila. Benda tumpul yang bersarang dimukanya mengakibatkan luka terbuka disana.

"Tolong kami, selamatkan kami..." Kila menangis tertahan dengan suara yang begitu menyayat hati. Sementara Santi tak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah dari siksaan yang dialami mengenai pembuluh darahnya.

Lalu bagaimanakah dengan kondisi ketiga prajurit yang menjadi sandera? Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Keberadaannya terpisah dari sandera sipil meskipun masih dalam satu ruangan.

Salah satu dari mereka telah gugur. Mendapatkan beberapa luka tembak di bagian dada mengakibatkan nyawanya melayang saat berusaha melawan. Jasadnya tergeletak bersimbahkan darah yang masih menggenang basah.

Sementara kapten mereka terkapar tak berdaya di lantai yang masih beralaskan tanah. Siksaan fisik yang didapat dengan keadaan tangan terikat, tak mampu lagi untuk membuat tubuhnya sanggup duduk tegak.

Sisanya, masih bisa dikatakan jauh lebih beruntung. Dengan keadaan babak belur, kondisinya berdiri menggantung karena ikatan yang menahan tubuhnya. Sehingga meski sangat lemah karena luka yang diderita, ia masih dalam keadaan berdiri.

"Apa yang terjadi selanjutnya nanti, Capt? Saya takut." Isak tangis prajurit yang memiliki nama Rendy ketika menatap atasannya yang terkulai lemah di bawah kakinya.

The Untold Story "ASTRA" [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang