Sungguh diriku tak kuasa,
Menahan gejolak di hatiku
Yang semakin lama,
Semakin menjadi...
Begitu ingin kusampaikan
Rasa cinta ini yang mendalam...
Tetapi tak mampu bibirku berkata...
Mengharap kasih yang tak sampai...
Evie Tamala - Rembulan Malam
Dengung sirine ambulan mengawali shift jagaku pagi ini. Baru saja aku meletakkan tas di atas meja dan belum sempat mendudukki kursi kerjaku, sudah ada yang harus aku tangani. Belum lagi rekam medis yang sudah menumpuk di mejaku yang artinya hari ini cukup padat kerjaanku.
Aku segera memakai jas putihku dan langsung menuju ke sumber suara. Belum sampai aku ke pintu masuk utama IGD, brankar sudah didorong cepat oleh Defia dan petugas ambulance.
"Mas Dokter...!" Teriak Defia yang mendapatiku sedang berjalan mendekati mereka. Khawatir, aku segera bergegas dan berlari untuk menutup jarak.
"Korban tabrak lari, Dok." Tukas petugas ambulance.
Aku langsung mengikuti brankar yang sedang didorong menuju ruang medis. Dari kondisi yang secara kasat mata aku lihat, korban lumayan parah di bagian kepala. Pelipisnya berdarah dan juga terdapat darah yang mengalir dari lubang hidung dan dalam kondisi tidak sadarkan diri setelah tiba ke puskesmas tempatku internsip meski sekarang statusku sudah sebagai dokter tidak tetap karena program internsipku telah usai.
"Korban tadi sama keluarganya, Dok. Mereka tadi bareng sama saya." Lanjut petugas ambulance yang tetap memberikan informasi meski aku belum meresponnya.
"Keluarganya dimana, Pak?" Tanyaku setelah mengetahui kalau korban tidak sendiri. Ini penting buatku untuk meminta support dari keluarga korban supaya mereka juga ikhlas dan percaya dengan apa yang akan aku lakukan setelah ini.
"Di luar, Dok. Ibu paruh baya dan anak gadis yang masih pakai seragam sekolah." Jawab petugas ambulance.
"Baiklah. Terimakasih infonya, Pak."
"Samasama, Dok."
Sekarang aku fokus membagi tugas dengan Defia. Karena dia perawat yang memang sedang jaga denganku, jadi aku memintanya untuk turut andil.
"Def, bersihkan darahnya dulu. Cek tekanan darah korban. Saya keluar sebentar buat ketemu keluarganya."
"Baik, Mas Dok."
Lalu aku bergegas menuju keluarga korban. Berlari kecil hanya untuk menyingkat waktu karena aku tak bisa lama-lama meninggalkan korban karena kondisinya yang sudah kritis.
Setelah aku lihat posisi keluarga si korban, seseorang langsung menghampiriku.
"Dokter... Suami saya pripun kondisine?"
Ibu paruh baya sedang menghadapku dengan sesekali diiringi isak tangis. Dari tampilannya seperti ia habis dari pasar dengan membawa selendang biru khas untuk menggendong barang. Ibu ini ditemani perempuan yang masih mengenakan seragam SMA.
"Bapak..." sementara si anak perempuan disebelahnya pun ikut mengelukan tangisnya. Tangisan yang menyiratkan keputusasaan takut kehilangan.
Aku menghadap keluarga korban untuk meminta support dari mereka lewat doa dan khususnya ingin membuat mereka harus siap apapun dengan takdir Tuhan. Karena sebagaimanapun usaha manusia jika Tuhan tidak berkehendak, maka semuanya tidak akan berjalan sesuai ingin.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Untold Story "ASTRA" [COMPLETED]
Romancekelanjutan dari kisah AZKAR yang menceritakan perjalanan cinta seorang dokter muda bernama Mirzha dengan rasa tidak biasanya. dan kini, waktu membawanya singgah di Yogyakarta untuk menjalani internsip. di kota inilah ia mengalami kisah pelik yang m...