Sumpah serapah itu mati-matian kuredam gaungnya; padamu yang tak bersahabat dan membanjiriku dengan limbah kata tak rupawan. Doa-doaku berbisik dalam kepedihan; nyaris tak terdengar, tercekat di kerongkongan bak derit pintu ringkih yang hampir patah, tapi apa kamu tahu? Susunan abjadku yang tak terlontar satu pun, aku panjatkan langsung pada pemilik semesta, itu bahkan lebih dahsyat daripada lisan kotormu yang katanya hebat.
Tahu kenapa aku tak meminta kamu celaka pada akhirnya? Itu karena aku adalah manusia; biarlah Sang Agung yang memberimu cara terbaik untuk memperbaiki caramu hidup dan berbicara. Tugasku hanya memaafkan, tapi bukan melupakan. Sebab empatiku tumbuh lebih baik darimu sebagai manusia, maka aku akan tetap hidup tanpa membawa dendam, akan aku petik buah dari kesabaranku di waktu mendatang.
[13/06/2026]
KAMU SEDANG MEMBACA
Lapang, Lantur.
Poetrysebab benakku tak lelah angkat suara, hantarkan larik-larik yang hanya ia paham. aku coba lapangkan segala kelanturannya dalam prosa yang mungkin tak ingin kaudengar. Picture by Yusuf Evli on Unsplash Edited by Aksara- copyright 2020 by Aksara-
