Makan

253 51 2
                                        

.

.

Masih di hari yang sama,  Pilih pakai kaos hitam dengan lengan pendek yang sedikit ditekuk dan celana basket putih selututㅡ Iya, simpel sekali pakaian yang dikenakan Taehyung untuk hadiri Undangan makan malam keluarga Jeon tepat di jam tujuh lewat tiga puluh ini.

Untuk malam yang kesekian, Martabak telor jadi langganan. Juga siapin mental kalau tau-tau nanti diajak adu tinju sama ayah Arthur.

Tau sekali tabiat ayah Jeon kalau lagi marah itu kayak apa.

Jujur bos, sehari disuruh skip ketemu Jungkook sih masih gak apa-apa, dapet pukulan di muka juga masih fine-fine aja.

Tapi kalau sampai berhari-hari disuruh ambil jarak sama pacarnyaㅡ jujur, rasanya berat hoy, takut gakuat.

Ting Tong

Pencet bel rumah yang berharap si manis Jeon bakal jadi si pembuka.

Ah gagal.

Ternyata salah.

Malah abangnya.   "Elah kuda"

Muka songong Hoseok buat Taehyung kesel setengah mampus. Tapi sadar diri diaㅡ ini aja masih gatau masalah apa yang akan dihadapi nanti.

"Punya nyawa berapa lu berani kesini?"


Putar bola mata, kasih tunjuk barang bawaan yang buat Hoseok dengus malas,  lantas dengan terpaksa nya bawa Taehyung masuk ke dalam rumah.

"Kakak!!"

Ya, itu manisnya yang teriak. Dari meja makan sana, kentara sendiri muka si bungsu Jeon yang paling merana.

Mata sembab, hidung merah dan apa itu heyㅡ tanda yang dia buat kemaren gak nyangka ternyata memang sebanyak itu.

Lagi,

Taehyung panas dingin.

"Naik becak kamu kesini Tae?"

Meringis, nada ayah Arthur kelewat dingin sekali.  Taehyung tarik kursi pelan dan duduk disana setelah itu ambil napas buang. Gugup.

"Ehm itu, tadi antriㅡ"

"Ada saya suruh kamu bawa ini itu?"

Diem aja lah bos, jawab pun pasti bakal salah lagi.

"Oh, gapunya mulut sekarang?"

"Maaf yah,  Nanti martabak telor nya bakal saya bawa pulang lagi"

Dan mata Ayah Arthur makin melotot, Taehyung meringis, tatap Jungkook nya yang kini geleng kepala kasih kode ke dia,    "E-eh m-maksudnyaㅡ"

"Langsung hajar aja yah, manusia begini gabakal kapok kalau gak dikasih pelajaran. Muka nya apalagi, buat aja babak belur yah"

Hoseok anj, mem, ngent  

Taehyung pejam mata sambil elus dada sabar, oke dia Gaboleh kepancing emosi sekarang.

"Bang, nggak semua masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan. Kamu apa ya kok kompor gitu?"

Kali ini bunda yang buka suara. Hoseok hendak menyela tapi lagi-lagi ditahan sama si bunda.

"Sekarang gini aja, Taehyungㅡ"

"Ya bunda?"

Bunda Jeon hela napas, tatap putra bungsu nya sebentar dan kembali tatap Taehyung setelah itu.

"Alasan mu buat anak bunda sampe begitu itu apa?"

Cukup lama keheningan melanda, Ayah Arthur gak sesabar itu dan saat dirasa Puncak marah si ayah di ubun-ubun, Taehyung langsung buka suara.

"Maaf bun, Tae kelepasan"

Taehyung menunduk dalam, karena dia tau dia salah   "Tae gak ada pembelaan disini, tapi jujur malam itu Tae gak melakukan lebih bunda"

"Ngapain nunduk gitu?"

Ucapan ayah Jeon buat Taehyung sedikit angkat kepala nyaㅡ tapi pandangan masih fokus ke bawah.

"Janji mu apa waktu macarin anak saya dulu?"

"A-ayahㅡ"

"Adek, diem"  Jungkook ciut waktu dapat tatapan garang dari ayah.

Taehyung dengan segenap hati, nggak setengah-setengah memberanikan diri menatap sang lawan bicara.

"Maaf yah, Taehyung gak akan ulangi lagi"

"Yakin kamu? Bisa nahan emang? Buktinya aja kamu kalah sama nafsu mu"

Taehyung teguk ludah susah payah, Berasa lagi di sidang. Betulan.

"Tau salahmu apa disini?"

"I-iya yah"

"Hukuman apa yang cocok buatmu kalau begitu?"

"Pukul aja yah, kalau disuruh ambil jarak maaf, Tae takut gakuat"

Diam-diam ayah Jeon senyum disini. 

"Berdiri kamu Tae, ayo Tinju sama ayah. Kalau kamu menang, hukuman bebas buatmu. Kalau kamu kalah, siap-siap jaga jarak sama Anakku dua minggu"

_____________

T b c

Manisan « tk »Where stories live. Discover now