gue harus jadi apa?

840 148 54
                                        

jadi bisa aku sebut ini kencan pertama kita?
***

Tumpukan buku bertema astronomi yang tertata dengan rapi menjadi penemani wanita pecinta buku itu dikala ada waktu luang seperti saat ini. Netranya menatap kesana kemari demi mendapatkan buku yang ia inginkan.

"Nyari apa sih, Cha? Gue capek nemenin lo mondar-mandir kaya setrikaan gini." wanita lain yang sedang mengikuti pergerakannya, menggerutu kesal.

"Aku lagi cari buku yang judulnya discovering the universe, susah banget nyarinya. Aku udah keliling enggak ketemu dari tadi, Mil." nadanya terdengar lesu. Tubuhnya sudah mulai lelah mencari.

Alisha atau yang lebih akrab dipanggil Icha ini, memang suka mengoleksi buku ilmu pengetahuan tentang ruang angkasa. Menurutnya itu menyenangkan, ketika ia mengetahui apa saja yang ada dan juga terjadi di semesta ini. Astronomi membuat hari Alisha menjadi lebih bersemangat.

Hanya saja tingkahnya dalam mencari buku selalu menjengkelkan. "Aduh, ya udah sih Cha, kalau enggak ketemu mending lo nyerah aja sih. Kita cari hari lain. Capek gue keliling gini."

Mila Khaira Nathania, sahabat Alisha itu lantas berjongkok. Rasa lelahnya sudah diambang batas. Masalahnya ini mall ke tiga yang mereka datangi dalam setengah hari.

Raut wajah Alisha menjadi sendu seketika. Perasaan sedih menyelimutinya. Ia sangat menginginkan buku itu. Kalau beli online takutnya barang palsu karena kemampuan berbelanja daringnya masih terbatas. "Kamu udah capek banget ya, Mil?" Alisha bertanya untuk memastikan.

"Gue udah jongkok gini masa nggak kelihatan sih? Apa perlu sekalian rebahan disini?"

"Ya udah deh, kita balik aja." pasrah Alisha. Sesungguhnya ia tidak rela bila harus pergi tanpa memperoleh hasil. Rasanya perjuangannya tidak maksimal.

"Balik kemana, Cha?" tanya seorang laki-laki yang kini berada diantara Alisha dan Mila.

Alisha terkejut melihat siapa yang sedang berbicara dengannya. Ia tidak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini dengan lelaki di hadapannya. "Eh Arsen. Kamu ngapain disini?"

"Gue mau beli buku, lo sendiri ngapain, Cha?" Arsen menjawab, sembari satu tangannya yang mencekal buku komik yang ingin ia beli, diperlihatkan pada Alisha. Ia juga mengerti bahwa keberadaannya disini tampak aneh.

"Aku juga sih. Tapi, masih belum nemu bukunya."

Arsen tidak menjawab, ia hanya membulatkan mulutnya seraya mengangguk.

Bukan hanya Alisha, melainkan Mila juga ikut terperangah mendengar percakapan dua sejoli ini. Sejak kapan Alisha mengenal Arsen yang notabennya lelaki tampan dari sekolah lain.

Ia sudah mengenal Alisha tiga tahun belakangan, tentunya sebelum Alisha pindah ke sekolahnya. Namun, Mila tidak mengetahui jangkauan teman Alisha sejauh ini. Atau mungkin mereka bukan teman?

"Kalian kok bisa kenal?" Mila tampak kebingungan saat ini, ia melihat ke kanan dan ke kiri. Menatap Arsen dan Alisha secara bergantian.

Dahi Arsen berkerut. "Tinggal kenalan doang. Kaya heran gitu lo?" nada Arsen terdengar tidak bersahabat. Tatapan Mila kepadanya terlihat menyebalkan. Seakan-akan pria sepertinya tidak boleh berkenalan dengan Alisha.

Mila memandang lurus pada Alisha. Memohon penjelasan tentang situasi yang terjadi sekarang. "Dia sepupu aku, Mil." jelas Alisha.

"Tuh dengerin." Arsen kembali sewot. Hawa Mila membuatnya ingin marah terus menerus.

Mila mengangguk mengerti. Namun, pikirannya tetap berusaha menyangkal apa yang ada di hadapannya. Ditilik dari sisi mana pun, tatapan Arsen kepada Alisha itu bukan sekadar tatapan untuk seorang sepupu. Tapi, seperti ada sesuatu.

Matcha LatteCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang