hi, i'm back!
***
Sudah terhitung tiga puluh lima kali pria itu berjalan mondar-mandir dari satu sudut ruangan ke sudut lainnya, seolah kedua kakinya menolak untuk diam walau hanya sedetik. Langkahnya tak pernah berhenti, bolak-balik tanpa tujuan yang jelas. Anehnya, ia sama sekali tidak merasa lelah. Justru Vino, yang sejak tadi hanya duduk di sofa sambil memperhatikannya, mulai kehilangan kesabaran.
Setengah jam lebih berlalu, dan Arsen masih melakukan hal yang sama. Wira-wiri tanpa arah, sesekali mengusap wajahnya sendiri, lalu kembali melangkah seperti orang yang sedang mencari jawaban atas kegelisahannya. Lelaki itu tampak sangat gusar saat ini.
Merasa muak melihat tingkah sahabatnya, Vino melempar botol air mineral yang sudah kosong ke arah Arsen. Botol itu melayang begitu saja dan mendarat tepat di tengkuk lehernya.
"Apa sih, Vin." sewot Arsen tidak terima karena botol itu mendarat tepat di tengkuk lehernya.
"Lo kira dengan lo mondar-mandir kaya setrikaan gitu, si Icha bakal lupa sama pengakuan lo?"
Kalimat itu langsung menghantam telak. Arsen terdiam beberapa detik. Pengakuan yang terlontar dua hari lalu kembali memenuhi kepalanya. Sejak kejadian itu, pikirannya kacau. Ia bahkan memilih bolos sekolah karena belum siap bertemu Alisha. Walaupun mereka tidak satu sekolah.
Arsen menghentikan langkahnya. Kedua telapak tangannya menutupi wajah rapat-rapat sebelum akhirnya beberapa kali memukul pelan kepalanya sendiri, menyesali kebodohan yang ia lakukan.
"Anjinglah. Goblok banget gue, Vin. Mending pindah aja deh gue ke luar negeri. Gue udah nggak bisa ketemu Icha lagi, gue malu banget." nada Arsen terdengar penuh dengan penyesalan.
Vino bukannya memberi saran. Lelaki itu justru tertawa kecil sambil menghisap rokok elektrik di tangannya. Asap tipis keluar dari bibirnya sebelum ia kembali menggoda sahabatnya.
"Se cakep apa sih Icha ini? Sampe lo harus frustasi kaya gini? Gue penasaran banget."
Selama ini Vino memang belum pernah bertemu Alisha secara langsung. Ia hanya mengenalnya dari foto dan video yang sesekali diperlihatkan Arsen. Menurutnya, penampilan di media sosial sering kali berbeda dengan kenyataan. Filter, pencahayaan, hingga riasan bisa membuat seseorang terlihat jauh lebih menarik. Meski begitu, dari apa yang ia lihat, Alisha memang memiliki wajah yang cantik. Hanya saja, Vino masih belum sepenuhnya percaya sebelum melihatnya sendiri.
"Lo juga kalo ketemu langsung pasti kepelet nyet. Percaya gue deh."
Vino mengangkat bahu dengan santai, seolah hal itu mustahil terjadi.
"Kalo sampe gue kepelet, gue beliin lo PS 5." ujarnya ringan tanpa beban.
Arsen langsung tertawa keras. Ia bahkan sudah membayangkan sebuah PS 5 terpasang rapi di kamarnya.
"Deal."
Belum sempat tawa mereka mereda, suara seorang wanita terdengar dari lantai bawah.
"Arsen!"
Itu suara mamanya.
"Iya, Ma?" sahut Arsen dari ambang pintu kamar.
"Turun bentar, ada Icha."
Jantung Arsen seolah berhenti berdetak sesaat.
"Icha?" ulangnya lirih, memastikan dirinya tidak salah dengar.
"Iya. Katanya mau balikin jaket kamu."
Seketika wajah Arsen berubah panik. Tanpa sadar ia merapikan rambutnya yang sudah berantakan, lalu menepuk-nepuk kaus yang sebenarnya tidak kusut sama sekali. Tingkahnya membuat Vino yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa menahan tawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Matcha Latte
FanfictionJefran si kapten futsal dengan paras diatas rata-rata, yang selalu merasa pesonanya bisa menyihir seluruh wanita, harus bertemu dengan Alisha sang gadis cuek yang tidak peduli dengan kehadiran Jefran disekitarnya. Berbagai upaya dilakukan Jefran, un...
