do you mind if i get a hug?
***
Jalanan sore ini dibasahi air hujan yang menetes tak kunjung berhenti. Membuat semua pengendara memilih kendaraan roda empat sebagai transportasi dalam melakukan perjalanan hingga menyebabkan kemacetan terjadi cukup panjang. Jefran yang berada di kursi penumpang berulang kali melihat arlojinya, memastikan bahwa dia masih memiliki cukup waktu untuk sampai ke tempat tujuannya. Jika dihitung sudah hampir satu jam setengah waktu yang ia habiskan sepanjang jalan ini bersama supirnya.
Pria berlesung pipit itu memandangi kaca jendela mobil dengan gusar. "Pak, ini kira-kira masih lama kah sampainya?" ini pertanyaan ke sepuluh dalam satu jam belakangan.
"Iya, mas. Kayanya di depan ada yang kecelakaan makanya jalurnya makin padat. Mas Jefran lagi buru-buru ya?" Jefran mengangguk mengiyakan pertanyaan sang supir.
"Saya turun disini aja pak." tanpa berpikir panjang Jefran mengatakan hal itu. Padahal untuk sampai ke tempat tujuannya masih sekitar tiga kilo meter.
Supir Jefran ikut panik sekarang karena ia harus mengantarkan Jefran sampai tujuan. Kalau tidak bisa habis dicecar oleh sang majikan. "Jangan, mas. Nanti saya dimarahin bapak. Mas Jefran sabar bentar, karna setelah lampu merah di depan itu jalanannya udah hijau lancar. Ini agak lama karna nunggu ambulans datang aja."
Jefran juga tidak tega membiarkan supirnya dimarahi oleh ayahnya. Tapi, dia tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. "Yakin pak? Soalnya kalau setengah jam lagi belum sampai saya mendingan saya pesan ojol aja."
Supir itu mengangguk cepat, berusaha meyakinkan."Yakin, mas. Biasanya memang macetnya cuma sampai situ aja. Habis itu lancar."
Jefran menghela napas panjang, kembali menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya lagi-lagi bergerak melihat arloji berwaarna coklat itu. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Hujan di luar masih turun tanpa ampun, mengetuk kaca mobil dengan ritme yang membuatnya semakin gusar.
Beberapa menit kemudian, mobil mulai bergerak sedikit demi sedikit. Lampu merah yang tadi terlihat jauh kini semakin mendekat. Jefran menegakkan duduknya, menatap ke depan dengan harap. Benar saja, setelah melewati persimpangan itu, kendaraan di depan mulai melaju lebih cepat.
"Nah, kan mas. Sudah mulai jalan," ucap sang supir dengan nada lega.
Jefran mengangguk setuju, untung saja keadaan jalanan mulai berpihak padanya. "Iya, pak. Semoga aja nggak macet lagi."
Mobil kini melaju lebih stabil. Deretan kendaraan yang tadinya rapat mulai merenggang. Jefran memandangi jalanan yang basah, sesekali memperhatikan jam di tangannya. Setidaknya, ia masih punya kesempatan untuk sampai tepat waktu jika kondisi jalan tetap seperti ini.
Hujan perlahan mulai mereda, menyisakan gerimis tipis. Jefran menatap ke depan dengan fokus, berharap perjalanan kali ini benar-benar berjalan lancar sampai tujuan.
Ketika sampai pada tempat tujuannya Jefran langsung turun dari mobil dengan segera. Tak lupa memberikan beberapa lembar uang merah kepada supirnya karena telah menjemputnya dari tempat latihan dan langsung mengantarnya ke tempat tujuannya. "Pak, inget yaa jangan bilang ke ayah kalau Jefran ke sini." Jefran hanya mematuhi perintah seseorang yang menyuruhnya untuk tidak memberitahu ayahnya.
Sang supir hanya mengangguk menyetujui ucapan Jefran. "Baik, mas. Saya pamit dulu."
Jefran menyusuri sudut demi sudut tempat yang sedang dikunjunginya saat ini. Lorong demi lorong telah dilewatinya demi mencari ruangan yang bernama 'edelweiss'. Tidak sempat terpikirkan olehnya untuk bertanya pada manusia yang ada disana. Entah apa sebenernya yang sedang ia cari, namun hal ini terlihat melelahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Matcha Latte
FanfictionJefran si kapten futsal dengan paras diatas rata-rata, yang selalu merasa pesonanya bisa menyihir seluruh wanita, harus bertemu dengan Alisha sang gadis cuek yang tidak peduli dengan kehadiran Jefran disekitarnya. Berbagai upaya dilakukan Jefran, un...
