jadi sebenernya kita nih apa sih?
***
Perkemahan bagi sebagian siswa merupakan kegiatan yang mengasyikkan dan layak dinantikan. Namun, bagi sebagian lainnya, kemah justru dianggap sebagai aktivitas yang membosankan dan menguras energi. Salah satu di antara mereka adalah Alisha. Gadis berambut sepinggang itu merasa bahwa acara semacam ini membuat energinya terkuras dan tidak nyaman.
Sejak pagi, Alisha tampak kurang bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Ransel besar di punggungnya terasa terlalu berat, bersama dengan itu ia membayangkan bagaimana panasnya terik matahari siang hari nanti membakar tubuhnya membuat langkahnya semakin melambat. Ia beberapa kali menghela napas panjang, berharap waktu berjalan lebih cepat agar kegiatan ini segera berakhir. Baginya, tidur di tenda dan mengikuti rangkaian acara yang padat bukanlah hal menyenangkan, melainkan tantangan yang melelahkan.
Meski begitu, Alisha tetap melangkah turun dari kamarnya untuk segera berangkat. Ia tidak ingin dicap sebagai anak manja atau berbeda, walaupun dalam hati ia tetap bertanya-tanya apakah perkemahan benar-benar akan memberinya pengalaman berharga, seperti yang selalu diceritakan para guru.
Pukul tujuh lebih tiga puluh menit Jefran sudah berada di ruang tamu milik Alisha menunggu kedatangan sang gadis untuk berangkat bersama ke sekolah. Hari ini Jefran diantar oleh supirnya karena tidak mungkin ia menitipkan mobilnya di sekolah. Untuk transportasi menuju bumi perkemahan sekolah menggunakan bis, maka dari itu Jefran memutuskan untuk diantar saja pagi ini.
Kali ini Jefran tidak mau kalah start lagi, sekarang dia akan fokus mengejar hati Alisha. Ya, semoga saja begitu.
Dengan wajah lesu Alisha mengambil sepotong roti yang sudah diisi oleh selai strawberry, mengunyahnya dengan tanpa semangat. "Kok murung gitu sih kak? Bukannya senang ya kalau mau berkemah gini? Biasanya suka tuh anak muda."
Memang berkemah itu bisa dikatakan sebagai kegiatan menginap bersama teman. Bagian itu seru bila dibayangkan, akan tetapi kegiatan lainnya pasti menguras tenaga. Alisha benci kegiatan yang menggunakan fisik dan membuatnya kelelahan. "Icha tuh gasuka, bun. Bukan kemahnya, tapi sama kegiatan lainnya yang harus banyak gerak gitu, bikin capek." keluh Alisha sekali lagi. Dia merutuki kegiatan ini lagi dan lagi.
"Nggak sayang. Beda, kali ini pasti beda karena kakak punya banyak teman. Berangkat aja udah dijemput pasti bakalan seru. Percaya deh sama bunda." Bunda menggoda Alisha dengan kata jemput yang sedikit ditekan pengucapannya.
Alisha sekarang bingung. Siapa yang menjemputnya? Karena dia tidak memiliki janji dengan siapapun. Hari ini ia berencana memesan ojek online untuk berangkat. Tapi, kenapa sudah ada yang datang kerumah untuk mengajaknya berangkat bersama. "Siapa bun? Icha gaada janji buat berangkat sama siapa-siapa."
"Si Jefran. Katanya udah bilang kamu kemarin. Udah ditungguin sepuluh menitan. Ini bunda mau ambilin roti buat dia sarapan." Bunda Vela mengambil piring roti dan segelas susu yang sudah disiapkan untuk dibawa kepada Jefran. Sedangkan Alisha masih terpaku bingung. "Udah ih malah bengong si kakak, buruan ditungguin cowoknya." Bunda tak henti-hentinya menggoda anak gadisnya.
"Cowok darimananya sih bun? Gaada ya cowok-cowokan. Temen bun temen."
Bunda tertawa. "Temen lebihan dikit kak, kalo katanya si adek." Bunda kemudian berlalu pergi untuk membawakan roti dan susu ke ruang tamu. Sebelum benar-benar hilang dari pandangan Bunda kembali menoleh ke belakang. "Buruan, kak!"
Alisha masih berpikir sebentar sebelum menyusul Bunda ke depan. Mungkin yang dimaksud Jefran sudah bilang itu waktu dia bertanya lewat pesan besok Alisha berangkat menggunakan kendaraan apa. Tapi, Jefran tidak mengatakan akan menjemputnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Matcha Latte
Fiksi PenggemarJefran si kapten futsal dengan paras diatas rata-rata, yang selalu merasa pesonanya bisa menyihir seluruh wanita, harus bertemu dengan Alisha sang gadis cuek yang tidak peduli dengan kehadiran Jefran disekitarnya. Berbagai upaya dilakukan Jefran, un...
