what's it called?

228 40 12
                                        

did you miss me?
***

Tumpukan buku berserakan di depan seorang gadis berkacamata yang sedang serius menatap puluhan soal latihan di hadapannya. Bahkan jika waktu berhenti sekalipun, sepertinya Alisha tidak akan menyadarinya. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada lembaran-lembaran kertas yang tampak mengerikan bagi kebanyakan orang.

Sementara Alisha tenggelam dalam ketekunannya, waktu terus berjalan hingga empat puluh menit berlalu. Mila, sahabatnya, sudah tak kuasa menahan diri. Sejak tadi, kehadirannya tak sedikit pun dihiraukan oleh Alisha, si gadis kutu buku itu. Atau mungkin, Alisha bahkan tidak menyadari bahwa Mila telah berada di sana, menunggunya.

Mila merebut paksa pena dari tangan Alisha, membuat gadis itu akhirnya mengalihkan seluruh perhatiannya. Hanya cara seperti ini yang bisa ia lakukan, pikirnya. Alisha menatap Mila dengan tajam, hingga sesaat Mila merasa tatapan itu seolah menusuknya. Tak biasanya gadis ceria itu menunjukkan kemarahan semengerika ini.

"Santai, Cha." Mila tersenyum kikuk, kini ia justru menyesali tindakannya barusan.

Alisha merapikan buku-buku yang sebelumnya terbuka. Mungkin memang sudah waktunya berhenti, dua jam telah berlalu sejak ia mulai belajar. Tanpa banyak bicara, Alisha memposisikan dirinya menghadap sahabatnya itu. Wajah Mila kini tampak grogi. Alisha menarik napas pelan sebelum akhirnya bertanya. "Kenapa, Mil?"

"Lo marah, Cha?" Mila ingin memastikan bahwa sahabatnya ini tidak kesal kepadanya.

Alisha menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa ia tidak marah kepada Mila. "Tapi jangan kayak gitu lagi, ya. Kamu panggil pelan-pelan, pasti aku noleh kok."

Mila tersenyum lega. Hampir saja ia membuat aset utamanya kesal karena tingkahnya sendiri. "Maaf, Cha. Lagian, lo nggak mual lihat soal begitu? Iya sih mau kenaikan kelas, tapi kan nggak harus segitunya."

Alisha terkekeh pelan menanggapi pertanyaan itu. Meski bersahabat, kepribadian mereka berdua sangat bertolak belakang. Alisha memang seperti ditakdirkan untuk menjadi pintar dan ambisius —targetnya jelas, masuk IPA dengan nilai tinggi. Sementara Mila, keberuntungannya sering datang tanpa perlu banyak usaha, membuatnya cenderung santai dan kurang menyukai belajar.

"Ada apa, Mil? Kamu butuh apa?" tanya Alisha sekali lagi. Mila ini suka basa-basi dan tidak to the point.

"Kita kan jamkos sampe balik nih, temenin gue yuk mumpung pulangnya pagi gini. Gue mau nyari kado buat ponakan gue."

Alisha berpikir sejenak. Ia berusaha mengingat jadwalnya selepas pulang sekolah ini. "Mil, maaf aku hari ini lagi janjian sama Jefran, kita mau cari buku bareng."

Mila mengernyit bingung. Saat hendak menghampiri Alisha, ia justru melihat Jefran berjalan bersama Jessica menuju parkiran belakang. Ekspresi keduanya tampak serius, dan tas yang dibawa Jefran menjadi pertanda bahwa ia berniat langsung pulang.

"Cha, if you don't mind, i'll tell you something." Mila kini bimbang, meski Jefran adalah sepupunya, tapi Alisha juga sahabatnya yang masih lugu dalam percintaan. Sekuat mungkin Mila berusaha menjaga Alisha agar tidak sakit hati dikemudian hari.

"Kenapa, Mil? Bilang aja." Tatapan Alisha tetap teduh dan tenang, justru membuat sang sahabat semakin resah untuk memberitahunya. Jefran ini memang sudah melampaui batas bagi Mila. Namun, di lubuk hati kecilnya, Mila merasa bahwa Jefran pasti memiliki alasan di balik semua ini. Masalah keluarga Jefran belakangan memang cukup berat, dan Mila tahu bahwa ia tidak memiliki tempat untuk bersandar maupun berbagi cerita.

"Tadi gue lihat Jefran lagi jalan sama Jessica buru-buru, dan gue nggak tahu mereka mau ke mana. Tapi kayaknya mereka udah siap buat balik sih. Menurut gue pasti ada hal penting." jelas Mila dengan penuh hati-hati.

Matcha LatteCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang