pasar malam

259 42 15
                                        

i'll wait, cause somehow, i'm starting to feel the same way too
***

Tendangan lurus dari Jefran, setelah menerima bola yang dioper Reygan, melesat tajam dan berhasil menjebol gawang tim futsal SMA Merpati. Jefran tersenyum lebar, seraya mengangkat telunjuknya ke udara sebagai selebrasi. Skor yang imbang dimenit terakhir, membuat gol dari kapten futsal SMA Angkasa menjadi penyelamat timnya disore hari ini.

Mahesa dan Reygan menghampiri Jefran dengan wajah sumringah penuh arti. Terlihat bahwa mereka sangat bangga dengan sahabatnya ini, selalu bisa diandalkan. Tangan kanan Mahesa langsung bertengger manis di bahu kanan Jefran, sedangkan Reygan menepuk pundak sang kapten.

"Lo liat mukanya si Arsen. Kaya benci banget sama, lo. Udah mana dia yang nantang sparing, di kandangnya sendiri, eh kalah lagi." Kalau tidak kompor bukan Mahesa namanya. Pria jakung berkulit sawo matang itu sengaja menjulurkan lidahnya ke arah Arsen yang berada di ujung lapangan sana, setelah berbicara kepada dua sahabatnya.

Reygan tak bisa menahan rasa gelinya, dia tertawa melihat tatapan sinis Arsen yang ingin menerkam mereka bertiga, terutama Jefran musuh bebuyutannya. "Sumpah. Gue kalo jadi dia ya, auto mundur jadi kapten. Malunya tuh ngemalu banget."

Jefran hanya bisa tertawa menanggapinya. Dia tidak ingin berlarut-larut bermusuhan dengan saudara dari pujaan hatinya, takutnya jadi penghalang untuk hubungan mereka yang bahkan belum sempat dimulai. "Jangan gitu, dia sepupu gebetan gue." ungkapan itu terdengar sarkas di telinga dua pria yang berada di samping Jefran.

"Sepupu atau saingan? Kata gue mah sepupu normalnya nggak bakal bersikap kayak Arsen ke Alisha." lanjut Mahesa santai tapi menusuk. Nada bercandanya tipis, lebih mirip sindiran yang disengaja.

Reygan mengangguk setuju. "Iya. Tatapannya tuh bukan tatapan sepupu protektif. Lebih ke posesif." ia memberi jeda, lalu terkekeh sebentar. "Kayak takut kehilangan sesuatu yang memang bukan hak dia."

Jefran menghela napasnya sejenak. Senyumnya memudar, digantikan ekspresi lelah yang ia sembunyikan sejak awal pertandingan. "Gue cuma nggak mau ribut. Futsal ya futsal. Urusan lain, beda lapangan." matanya kini berpindah fokus pada gawai di tangannya, entah pesan dari siapa yang sedang ditunggu oleh Jefran.

Mahesa menepuk bahu Jefran sedikit lebih kuat, kali ini tanpa bercanda. "Belakangan ini gue kaya kenal lo yang baru, bukan Jefran yang dulu gampang kepancing emosi. Sekarang lo jauh lebih tenang dan mulai bijaksana."

Reygan tersenyum singkat, kemudian mengangguk berulang, sebagai tanda menyetujui perkataan Mahesa, tentang bagaimana Jefran yang semakin hari semakin berubah menjadi lebih baik. "Gue setuju banget, Jef. Terlepas dari apapun yang terjadi di kehidupan, lo. Gue rasa lo emang harus bahagia dengan orang yang lo suka dan jelas milih lo juga."

Reygan menatap lurus fokus melihat sahabatnya itu. Bukan setahun dua tahun mereka bertiga menjadi sahabat, dan hal itu membuat hubungan mereka tetap intens meski tanpa bercerita satu sama lain. Keterikatan emosional yang sudah terhubung kurang lebih selama sepuluh tahun belakangan, menjadi alasan ketiga pria ini harus selalu saling mendukung satu sama lain dan menjadi penyemangat masing-masing.

Senyuman Jefran kembali merekah. Tidak pernah terbayangkan olehnya, bagaimana kehidupannya ini tanpa dua manusia di sampingnya itu. Baik suka maupun duka, telah dilalui bersama dengan saling mendukung dan menjaga antar mereka, tanpa rasa pamrih sedikit pun. "Apa sih. Stop lebay, njing."

"Tai lo, Jef. Gue sedot lagi nih ingus." Mahesa selalu saja punya celah untuk melucu dimana pun.

Jefran takut air matanya mengalir tanpa sadar karena situasi yang mendadak melankolis.

Matcha LatteCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang