backburner

174 36 16
                                        

hi, enjoy it!
***

Derap langkah seorang wanita terdengar semakin jelas mendekati ruang ganti yang biasa digunakan para siswi setelah pelajaran olahraga. Langkahnya cepat dan berat, seolah setiap pijakan membawa amarah yang telah lama dipendam. Beberapa siswi yang kebetulan melintas di koridor sempat menoleh ketika melihat sosok itu berjalan dengan wajah tegang dan tatapan tajam.

Tangannya menggenggam erat sebuah gelas plastik berisi es teh hingga ruas-ruas jarinya memutih. Napasnya memburu dan tidak beraturan, sementara dadanya naik turun menahan emosi yang sudah berada di ambang ledakan.

Tanpa mengetuk atau memberi peringatan, ia langsung mendorong pintu ruang ganti yang hanya tertutup setengah. Pintu itu menghantam dinding dengan dentuman keras yang membuat seluruh orang di dalam ruangan refleks menoleh. Suasana yang sebelumnya dipenuhi percakapan santai mendadak hening. Semua mata tertuju pada Jessica yang berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam dan sorot mata penuh kemarahan.

Alisha yang sedang membereskan barang-barangnya mengernyit bingung melihat kedatangan gadis itu. Namun sebelum sempat bertanya apa yang terjadi, Jessica sudah melangkah cepat menghampirinya.

Dalam satu gerakan kasar, es teh yang berada dalam genggamannya langsung disiramkan ke arah Alisha. Cairan dingin itu membasahi seragam gadis tersebut dari bahu hingga dada. Beberapa tetes bahkan memercik ke lantai dan mengenai Mila yang berdiri di sampingnya.

Belum sempat Alisha mencerna apa yang baru saja terjadi, Jessica kembali mengayunkan tangannya. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alisha, memecah keheningan ruang ganti. Kepala gadis itu sedikit terlempar ke samping akibat benturan tersebut. Sensasi perih menjalar di pipinya, sementara tetesan es teh masih mengalir membasahi pakaiannya.

Mila sontak membelalak tidak percaya. Amarah langsung memenuhi wajahnya ketika melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu tanpa alasan yang jelas. Ia melangkah maju dengan cepat, berniat membalas perlakuan Jessica saat itu juga.

Namun sebelum sempat melakukan apa pun, Alisha lebih dulu bergerak.

Perlahan, gadis itu menoleh kembali ke arah Jessica. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, sementara rahangnya mengeras menahan emosi yang mulai meluap. Jika sebelumnya ia hanya merasa bingung, kini kemarahan terlihat jelas dalam sorot matanya.

Untuk pertama kalinya sejak Jessica datang, Alisha menunjukkan bahwa ia tidak akan tinggal diam menerima perlakuan tersebut.

Menyadari situasi yang semakin memanas, Mila segera mengambil alih keadaan. Dengan sigap ia meminta teman-teman yang masih berada di dalam ruang ganti untuk kembali ke kelas.

"Keluar dulu, semuanya." ucapnya tegas.

Tak ada yang berani membantah. Satu per satu siswi yang sejak tadi hanya menjadi penonton segera beranjak pergi. Mereka tahu suasana di ruangan itu sudah jauh dari kata nyaman.

Mila sendiri memahami satu hal tentang Alisha. Sahabatnya itu tidak suka menjadi pusat perhatian, terlebih dalam keadaan seperti ini.

"Apa sih maksud kamu?" Alisha menajamkan tatapannya, lalu mendorong tubuh Jessica dengan keras.

"Lo nggak usah sok naif. Jefran menjauh dari gue semuanya karena lo! Perempuan murahan!" Jessica mencekram kerah seragam Alisha.

Alisha tertawa singkat sebagai respons atas tuduhan tak berdasar itu. Tangan kanannya bergerak menyingkirkan cengkeraman Jessica dari kerah bajunya. Raut wajahnya kini berubah serius, tatapannya semakin tajam. Gadis jangkung itu memangkas jarak di antara mereka.

Jessica mendadak gugup. Ia tidak menyangka wanita di depannya akan melawan, bukannya takut atau memohon ampun.

Mila yang masih berada di sana ikut takjub melihat perlawanan sahabatnya. Ia tidak menyangka Alisha memiliki sisi seperti ini, dan satu hal yang pasti, Alisha tidak memerlukan bantuannya.

Matcha LatteCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang