PAGI ini Jisoo bangun kesiangan, gadis itu baru membuka mata ketika jam telah menunjuk angka delapan.
Menyibak selimutnya dengan kasar, Jisoo lantas segera bangkit dari kasurnya lalu berlari menuju kamar mandi guna mencuci muka serta menyikat gigi. Sialan, bagaimana dia bisa bangun se terlambat ini? Bagaimana dengan kemeja, jas, dan perlengkapan Haein? Lalu bagaimana juga dengan sarapannya? Sial! Apa waktunya cukup untuk mempersiapkan itu semu?
Astaga! Segala pertanyaan terus berputar di otak Jisoo. Jangan sampai Haein marah karena kecerobohannya kali ini, jujur saja Jisoo masih butuh bekerja dengan Haein, setidaknya sampai Ia mendapat wawancara pekerjaan nanti.
Benar, Jisoo sudah melamar pekerjaan di salah satu perusahaan yang cukup ternama. Kini Ia hanya tinggal menunggu panggilan untuk di interview.
Cepat atau lambat, Jisoo akan meninggalkan kehidupan Haein. Gadis itu sudah bertekad, meskipun nanti gaji yang akan Ia terima di kantor baru nya tidak lebih banyak dari gaji bekerja dengan Haein, Jisoo akan tetap memilih untuk pekerjaan kantor itu.
Meski pada nyatanya Ia sudah nyaman dengan zona bekerja bersama Haein, Jisoo juga ingin menjalani kehidupannya dengan normal, dalam artian menjadi dirinya sendiri, dan tanpa kepalsuan.
Lagipula, harapannya untuk mendapatkan hati Haein secara utuh juga sudah tidak bisa lagi. Chungya telah memenuhi hati pria itu, Jisoo yang sadar tentang hal itu pun tidak mau di cap sebagai perusak hubungan orang, jika terus menjalani pekerjaan ini.
Walau secara garis besar Chungya lah yang akan dituduh sebagai orang ketiga, Jisoo tetap tidak mau meneruskan pekerjaan gila.
Kembali lagi ke rutinitas gadis itu, kini Jisoo sudah terlihat lebih segar setelah cuci muka, dan sikat gigi. Tanpa ingin membuang waktu lagi, Ia memutuskan untuk segera berlari ke dapur guna menyiapkan sarapan terlebih dahulu.
Gadis itu terlihat sangat fokus sampai-sampai tidak sadar jika Haein sudah berada di meja makan semenjak
Ia sibuk membuka pintu kamar, dan berlari ke dapur lalu sibuk memasak.
Haein memilih untuk diam, dan memperhatikan kegiatan dari gadis mungil itu sambil meminum kopi. Jisoo terlihat sangat menggemaskan pagi ini, rambut panjang yang dicepol secara asal, sehingga menimbulkan beberapa helai jadi berantakan. Piyama yang nampak kebesaran, sehingga kini tubuh mungilnya tampak semakin tenggelam. Serta tingkah-tingkah aneh yang gadis itu lakukan ketika memasak.
"Aduh! Udah jam segini! Apa gue siapin dulu ya kemejanya pak Haein?"
"Jangan deh! Nanti nasi goreng nya tambah gosong."
"Bener! Kerjainnya satu-satu aja!"
"Aduh! Garemnya dimana sih?"
Haein tidak bisa menahan senyumannya tatkala gadis itu terus-menerus mengocehkan beberapa hal. Apa memang Jisoo selalu berisik seperti ini? Untuk diketahui Haein sendiri tidak menyukai segala hal yang berbau kebisingan, namun entah mengapa Jisoo menjadi pengecualian.
Jisoo berbeda dari asisten-asistennya terdahulu, Jisoo adalah satu-satunya yang berani membantah, mengomel, bahkan memarahi Haein.
Haein paling tidak suka dibantah, diomeli, bahkan sampai dimarahi. Namun setiap kali Jisoo melakukan hal-hal itu, Ia bukannya marah justru senang.
Suara Jisoo sangat menyenangkan bagi indera pendengarannya. Haein lebih suka Jisoo yang seperti ini, daripada Jisoo yang pendiam seperti kemarin.
Walaupun mungkin sebentar lagi ocehan dari mulut gadis itu akan segera terhenti ketika menyadari kehadirannya, setidaknya Haein cukup senang karena sudah mendengar suara Jisoo hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. ANNOYING
Random[ HAEIN - JISOO ] - jisoo ft. boys #2 "Kim Jisoo! Kenapa kamu lamban sekali. Cepat buka kemeja, dasi, dan sepatu saya!" Mendengar ocehan dari sang bos sudah menjadi makanan sehari-hari Jisoo. Kim Jisoo hanyalah seorang gadis muda yang harus menjadi...
