DLMA 3

7 2 0
                                    

Jaein berada di depan ruang CEO Ya dimana Mark berada. Entah kenapa kakinya melangkah kesini tepatnya sejak wawancara tadi Jaein sudah kepikiran untuk melakukan nya.

"Fight!" modal nekat , kaki Jaein hendak melangkah masuk. Disaat yang sama pintu ruangan terbuka menunjukan sosok Mark yang terkejut dengan kedatangan nya.

"Eh.. " Jaein mendadak bengong Mark pun terdiam memperhatikan nya dari atas hingga bawah.

Outfit yang dikenakan jaein hari ini blazer pendek sampai batas pinggang dan Mark yakin ia hanya memakai dalaman beha saja. Juga rok mini yang hanya menutupi seperempat paha nya. Ditambah lagi rambut pendek nya dikuncir pony tail menyisakan pony sedikit di dahi nya. Sekilas dia seperti gadis berusia belasan namun disatu sisi pakaian nya seperti hendak dugem. Yah walaupun ini negara bebas berpakaian tetap saja Mark agak risi melihatnya.

"Kenapa?" Jaein baru bisa bersuara setelah rasa gugupnya ilang.

"Lo sendiri ngapain berdiri di depan ruangan gue?" Mark bertanya heran sambil naikin alisnya meski ia udah tau maksudnya.

Pura-pura aja.

"Ya tentu aja ketemu lo Mau ngapain lagi coba" Jaein menjawab sewot Merasa Mark makin acuh padanya.

"Oh yaudah masuk" tanpa disangka lelaki itu menarik tangan nya ke dalam ruangan serta mengunci nya. Jaein rada kikuk tapi yang dihadapi Mark kurang lebih nya ia tau sikap nya yang gak sabaran.

"Berarti bener kata Jaden lo jurnalis yang lagi ngejar Warren. Emang apa Bagus nya sampai majalah setenar rising begitu penasaran sama dia?" Mark bertanya sinis jika membahas tentang artis baru itu Jaein pun sependapat dengan nya.

"Gak tau mungkin karena dia satu-satunya orang Asia yang berhasil menarik perhatian musisi dunia kayak Mark Shinoda , Eminem, Justin Timberlake dan lo juga termasuk"

"Gue bukan musisi dunia"

"Tapi lo yang menciptakan musisi baru itu dengan sukses"

"Ya ya terserah sih tapi gue ga merasa gitu"

Mark menyuguhkan secangkir teh hangat untuk tamu nya

Ya jaein sekarang tamu meski gak diundang.

Untuk sesaat keduanya diam setelah debat tentang musisi yang sebenarnya gak penting banget.

"Mark gue -" Jaein mulai resah kaki nya berjalan mendekati sang pria yang berdiri di dekat jendela. Ia tak peduli dengan teh hangat yang masih mengepul di meja tangan nya meraih ujung lengan Mark membuat pria itu menoleh.

"Kenapa?"

"Gue pengen lakuin satu hal sama lo-"

"Sex?"

"Salah satunya tapi selama tiga bulan gue pengen deket lagi sama lo. Bisa kan? Setidak nya kasih gue kesempatan untuk mengulang masa itu-"

Jaein berkata nekat walau jantungnya memacu cepat saking nervous nya Mark terkekeh.

"Kok kedengarannya malah gue yang dipake sama lo" Mark menekan telunjuk nya tepat di pundak jaein dan sedikit mendorong nya.

"Ya gak ada salah nya kita sama-sama saling memanfaatkan Seperti dulu-" Jaein masih nekat. Kembali mendekat. Mark tak bergeming Otaknya sedang mencerna tawaran jalang dihadapan nya. Tak ada yang berubah bahkan setelah sekian tahun Jaein begitu gampangan menawarkan diri untuk lelaki. Jujur aja Mark kecewa tapi dihadapan nya ini si cewek sedang meminta nya.

"Ok... Gue harus mulai darimana?" menerima tawaran nya Mark hanya memberikan apa yang dia mau. Tanpa basa-basi Jaein menubrukan dirinya memeluk Mark dengan erat.

Jaein Lee SeriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang