{FOLLOW KALAU SUKA, MENTEMEN}
"Karel, kamu sudah makan?
"Peduli banget gue udah makan apa enggak,"
"Eh ... Dengar ya ... Lo disini bukan berarti lo bebas mau tau tentang gue"
"Kamu harus makan,"
"Kata mama, maag kamu tidak boleh kambuh lagi"
"Mau lo...
Kangen mereka gak? Kangen lah iya gak mungkin enggak.
Oke cus, let's gooooo!!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🥀 🥀 🥀
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Binar akhirnya sadar, lima hari pingsan bikin badannya mati rasa setelah terbangun, kaku dan sakit-sakit, mungkin efek tabrakan kemarin.
Syukur… keadaannya berangsur pulih, ia sekarang terduduk di atas kursi roda sambil merenung menatap langit sore yang tengah menampilkan semurat jingga manis di atas sana.
Memangku wajah pucatnya, Binar tersenyum tipis. Malam itu… ia seperti mendapat bom bunuh diri, saat itu, apa yang ada pada dirinya bagai gelombang dahsyat, melahap dan meluluhlantahkan semuanya.
Kepercayaan serta cintanya, hilang tanpa sisa.
“Pelangi…”
Deg…
Dadanya berdesir kaget, ia menoleh agak ragu.
Sesaat Binar menghela nafas lega, syukur… Ternyata itu Restu, bukannya Karel.
Dengan muka cemas serta mata sembabnya, tampaknya, kakak dadakannya itu habis nangis seharian, terlihat dari matanya yang membengkak dan memerah.
“Bang utu”
Binar tersenyum lebar, di belakang Restu ada dua orang lagi, siapa lagi kalau bukan Sophia dan Andre. Keduanya pun terlihat sama, Cemas.
“Bi…” Cicit Sophia menahan tangis, manik hitam gadis itu turun ke beberapa luka di badan Binar.
“Maaf, kita gak ada saat lo di sakiti Viona,” Sophia menangis sesegukan.
“mereka ngejebak kita, dan sialnya kita percaya aja dan berakhir kita di kunciin di gudang belakang” Jelas Sophia sangat jujur.