Jalanan basah memantulkan cahaya lampu jalan yang redup, menciptakan bayangan kelabu yang bergerak di antara genangan. Tapi motor sport putih biru milik Arsha terus melaju. Dengan jaket jeans yang sudah basah kuyup, rambut menempel di dahi. Ia tidak peduli. Tubuhnya dingin, napasnya berat, tapi tekatnya tidak berkurang.
Ia harus menemukan Arka. Ia harus menemukannya sekarang. Tadi, sebelum ia keluar rumah, suara ayahnya menggema keras melarangnya keluar.
Tapi Arsha tidak peduli itu. Karena Arka adalah adiknya. Adik yang tumbuh dalam bayang-bayang perbandingan nya, dalam tekanan yang tak pernah diminta, dalam ekspektasi yang tak pernah ia janjikan. Dan Arsha tahu, selama ini ia adalah bagian dari luka itu.
Padahal Arsha tahu-bukan Arka yang tidak bisa. Bukan dia yang kurang. Tapi dunia ini hanya tahu satu cara mengukur anak, dan Arka tak pernah cocok dengan ukuran itu.
Kini, yang penting bukan siapa yang lebih pintar, bukan siapa yang mendapat pujian dari guru atau ayah. Bukan lembar rapor, bukan piala di lemari kaca.
Mata hangatnya menyapu sisi jalan, mencari-cari dengan cemas-hingga pandangannya tertahan di taman kota yang sepi dan basah. Ia menoleh cepat, memperlambat laju motor. Hatinya berdegup, memohon agar firasatnya tidak salah.
Tepat di sana, terparkir di bawah pohon besar berdiri sebuah motor sport hitam-merah. Stiker kecil di body sampingnya membuat Arsha yakin-itu milik Arka.
Ia menghentikan motornya di pinggir jalan. Mesin dimatikan, tapi jantungnya justru semakin bising. Napasnya berat, bukan karena lelah, tapi karena naluri seorang kakak yang mulai menguat-Arka ada di sini.
Dan benar saja. Di lapangan basket yang terbuka di tengah taman, tampak sosok seorang anak lelaki. Ia bermain sendirian, men-dribble bola di atas lantai semen yang licin, tubuhnya kuyup diterpa hujan yang semakin deras.
Arsha berdiri mematung. Hanya punggung lelaki itu yang terlihat-rambut hitamnya basah dan melekat, tubuhnya tinggi, sedikit membungkuk ketika menggiring bola. Tapi Arsha tahu. Ia tahu dari cara lelaki itu bergerak, dari cara ia melompat dan menembak bola ke ring seolah ingin melampiaskan sesuatu yang lebih dari sekadar permainan.
Itu Arka.
Dada Arsha sesak, tapi juga lega. Matanya tak berkedip, menatap adiknya yang tetap sendiri di bawah hujan, menantang dunia seperti anak kecil yang dulu selalu menolak masuk rumah meski badai datang.
"Gue minta maaf, Ar. Gue minta maaf,"
Dan dalam sekejap, kenangan itu menamparnya. Dejavu.
Ia melihat bayangan masa lalu-seorang anak lelaki kecil, dengan bola karet berwarna oranye di tangannya, menendang-nendang bola di teras rumah. Wajahnya cemberut, mata merah karena habis dimarahi ayah. Tapi tetap bermain. Tetap tersenyum. Seolah bola itu satu-satunya teman yang tak akan pernah meninggalkannya.
Arsha ingat bagaimana ia dulu hanya menatap dari jendela kamar, terlalu muda untuk tahu bagaimana membela. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, Arka masih melakukan hal yang sama. melawan sepi dengan bola, melawan luka dengan gerakan.
Hanya saja sekarang, luka itu lebih dalam. Dan ia hanya menatap dari jauh lagi.
Tapi Arsha belum bergerak. Belum memanggil. Belum mendekat. Ia hanya ingin menikmati pemandangan ini sejenak-menyimpan gambar Arka yang masih bisa bermain meski dunia meredamnya. Sosok itu, meski basah dan gemetar, tetap berdiri. Dan bagi Arsha, itu cukup untuk sekarang.
Ia menggenggam erat kunci motornya.
Kini, ia hanya berani hadir sebagai bayangan. Sebagai sosok diam di kejauhan, hanya memastikan Arka baik-baik saja dari balik keremangan malam dan derasnya hujan.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNEVEN LIGHT
Teen FictionArshaka Dmitriev Bagaskara. Matahari yang abadi. Arkana Dmitriev Cakrawala. Langit yang suci. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, namun dibesarkan oleh cara dunia-dan ayah mereka-yang tak pernah adil. Arsha adalah cahaya yang dipeluk harapan...
