4. revisi

560 250 70
                                        

Saat jam istirahat berbunyi, suara bel menggema nyaring di seluruh penjuru sekolah. Dalam hitungan detik, pintu-pintu kelas terbuka hampir bersamaan. Murid-murid langsung berlarian keluar menuju kantin, lorong sekolah berubah ramai dengan tawa, teriakan, dan langkah kaki yang saling bersahutan.

Di depan pintu ruang OSIS, suasananya sedikit lebih tenang.

Chandra berdiri sambil menyandarkan punggung ke dinding. Ia baru saja mengeluarkan ponsel dari saku ketika notifikasi masuk bertubi-tubi. Alisnya langsung berkerut saat membaca pesan yang muncul di layar.

Wajahnya berubah tegang.

“Apa mereka berantem lagi?” gumamnya pelan, tapi cukup terdengar oleh yang lain.

Arsha yang tengah mengunci pintu ruangan OSIS sontak menoleh, raut wajahnya langsung tidak tenang. Tangannya berhenti sesaat di gagang pintu. “Siapa lagi yang berantem?” tanyanya cepat.

Reska langsung menengok ke layar ponsel Chandra. Ia mendekat tanpa basa-basi. “Gelap banget sih layar lo. Gue mau liat, Chan.”

Chandra sedikit menaikkan kecerahan layar sebelum menjawab, “Arka sama Rago. Tapi mereka engga sempet berantem kok, cuman hampir.”

“Lo serius?” Arsha melangkah lebih dekat, alisnya mengerut dalam.

“Kamu dapet chat dari siapa soal itu?” Amara ikut mendekat, suaranya tetap lembut meski jelas ada kekhawatiran di sana.

“Anggota OSIS, dia sempet liat mereka tadi di lapangan. Tapi untung aja ada guru yang misahin mereka sebelum mereka berantem lagi.” Chandra menurunkan ponselnya perlahan setelah selesai membaca pesan lengkapnya.

Arsha tampak gelisah. Ia mengepalkan tangan dan melepaskannya. Lalu mengepalkannya lagi. Kebiasaan lama yang selalu muncul saat pikirannya penuh. Rahangnya sedikit mengeras, napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.

Reska yang melihat itu langsung mendekat tanpa banyak kata. Ia mengelus lengan cowok itu pelan, gerakannya refleks dan penuh perhatian.

“Sayang, lo jangan khawatir, okey? Mereka cuma hampir berantem, enggak sampai berantem beneran.” Reska berusaha terdengar santai, meski sorot matanya juga tidak sepenuhnya tenang.

“Iya, Chan. Sekalipun mereka berantem pasti kita semua bakalan tau,” Amara menambahkan, mencoba menenangkan suasana.

Chandra menghembuskan napas pelan. “Gue harap kejadian kemarin keulang lagi. Ini udah kesekian kalinya mereka bentrok kayak gini.”

Tiba-tiba Amara teringat kejadian tadi saat dirinya kewalahan merapikan berkas OSIS. Tumpukan map hampir jatuh, kertas-kertas berserakan, dan ia sendirian membereskannya. Di saat yang sama, Arka lewat di depan ruangan.

Tanpa menoleh sedikit pun.

Tanpa menyapa.

Di tangannya, cowok itu memegang jersey basket. Wajahnya datar seperti biasa, langkahnya panjang dan cepat. Seolah dunia di sekitarnya tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Amara menunduk pelan, pikirannya berputar.

‘Kalau Arka yang mulai cari masalah, kenapa kayak gak mungkin? Dia cowok yang cuek dan gak peduli sekitar, hobinya cuma main basket. Tapi kenapa dia selalu berantem sama rivalnya?’

UNEVEN LIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang