Motor sport hitamnya berhenti perlahan, suara mesinnya menghilang begitu Arka memutar kunci dan mematikannya. Ia menurunkan standar tengah, memarkir kendaraan itu dengan rapi, nyaris seperti kebiasaan wajib yang terpatri sejak kecil. Garasi besar rumah keluarganya itu tampak sepi, hanya dipenuhi gema langkahnya sendiri yang terdengar berat.
Sesekali Arka melirik ke sisi lain garasi, ke arah mobil hitam milik sang ayah yang terparkir megah di sudut ruangan. Sudah ada di rumah.
Tentu saja. Panggilan itu tak akan terlontar kalau ayah belum sampai lebih dulu.
Arka berdiri di depan motor, terdiam cukup lama. Jemarinya mengepal, lalu terkulai lemas di sisi celana seragam yang masih sedikit kusut. Perlahan ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin masuk ke paru-parunya yang terasa sesak.
Di dalam pikirannya, suara ayahnya sudah mulai terputar-nada suara yang tegas, dingin, dan selalu menghakimi. Kata-kata yang akan keluar bukan lagi teguran, melainkan penilaian. Perbandingan. Sebuah penghakiman halus yang paling menyakitkan.
"Kenapa kamu gak pernah bisa seperti Arsha?"
Arka menutup mata sejenak. Sejak kecil, rumah ini tak pernah benar-benar menyambutnya. Tak ada ruang untuk gagal. Tak ada ruang untuk jadi biasa. Apalagi jadi dirinya sendiri.
Ia membuka mata kembali. Tatapannya kosong, dalam, dan gelap. Lalu langkah demi langkah ia ayunkan menuju pintu utama. Setiap langkah seperti membawa berat seribu beban di pundaknya.
Sampai akhirnya ia berdiri di depan pintu besar itu-kayu mahal berukir, gagang logam mengkilat, simbol status keluarga yang terhormat. Tapi bagi Arka, ini adalah gerbang menuju penjara yang paling sunyi.
Ia menatap pintu itu lama, sebelum akhirnya menekan gagangnya perlahan.
Klik.
Pintu terbuka, dan hawa rumah yang sejuk menyergap tubuhnya. Tapi tak ada hangat di sana. Tak ada sapaan. Tak ada sambutan.
Langkah kaki Arka terdengar berat di atas lantai marmer putih yang mengilap. Gema sepatunya memantul di dinding rumah yang megah namun dingin, tak menyisakan kehangatan apa pun.
Lukisan besar Arsha tergantung di dinding lorong utama-seragam putih merah, wajah berseri-seri, senyum tulus yang penuh percaya diri. Di bawahnya, tulisan emas kecil:
Juara 1 Olimpiade Fisika Tingkat Kota.
Arka menatapnya sekilas. Datar. Namun dalam hatinya, ada guncangan. Luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh, kembali menganga.
Langkahnya terus berlanjut menuju ruang tamu. Di sana, di balik kursi besar berbalut kulit mahal, terduduklah sosok yang sudah ia duga sejak awal.
Ayahnya. Tuan Dmitriev Damarendra.
Seorang pengusaha sukses, berdiri tegap dengan nama yang disegani banyak orang. Tapi di mata Arka-ayahnya adalah tembok besar yang tak pernah bisa ia panjat, apalagi robohkan.
Tanpa menoleh, suara sang ayah terdengar rendah namun menggema. "Duduk."
Arka menurut. Ia menarik kursi tanpa suara dan duduk tegak, berusaha menyembunyikan gugup dalam sikap diam.
Damar memalingkan wajah dari jendela, menatap anak bungsunya dengan sorot mata tajam yang terasa menembus dada. "Udah cukup ayah diam. Ini yang keberapa lagi, Arka? Udah berapa kali kamu bikin keributan di sekolah?"
"Sudah berapa kali nama keluarga kita dibicarakan karena ulah kamu di sekolah?"
Arka masih diam.
Damar menyipitkan mata, lalu mengangkat selembar kertas yang diletakkan di meja-surat laporan dari pihak sekolah. "Kamu pikir saya gak tau perihal kemarin kamu hampir berantem lagi? Pihak sekolah langsung yang menghubungi saya. Dan yang bikin saya heran, kamu gak pernah berubah."
KAMU SEDANG MEMBACA
UNEVEN LIGHT
Teen FictionArshaka Dmitriev Bagaskara. Matahari yang abadi. Arkana Dmitriev Cakrawala. Langit yang suci. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, namun dibesarkan oleh cara dunia-dan ayah mereka-yang tak pernah adil. Arsha adalah cahaya yang dipeluk harapan...
