H-1 Siska berada disekolah usai menyiapkan keperluan yang ia butuhkan untuk esok. Ia bersama Daffan saat ini sedang menatap beberapa interior yang sudah hampir jadi, menatap dengan bangga.
_____________
Siska turun dari mobil saat sudah sampai di parkiran sekolah. Dengan santai gadis itu memasuki sekolah, menuju ke aula yang saat ini sudah banyak anggota osis yang sedang melaksanakan tugasnya.
Matanya menelusuri tiap sudut-sudut aula. Matanya berhenti saat melihat Daffan sang ketua osis yang sedang mengamati anggota osis lainnya.
Tatapannya kini beralih keatas panggung, di sana ada beberapa anggota osis yang sedang menyiapkan perlengkapan untuk kegiatan hari esok. Siska mengikat rambutnya sembari berjalan naik keatas panggung.
"Hai, butuh bantuan nggak?" tanya Siska saat dirinya sudah berada diantara mereka di atas panggung.
"Boleh, bisa tolong bantu bawain keranjang kuning yang isinya hasil hiasan kita nggak? Ada didekat pintu masuk aula, minta aja sama Astrid." ujar Ghia.
"Oke." Siska berjalan menuju pintu masuk untuk menemui Astrid.
"Hai, lo Astrid kan?" tanya Siska kepada perempuan yang sedang menata hiasan ke keranjang kuning dengan temannya.
Astrid yang merasa terpanggil pun menoleh kearah Siska. "Eh iya?"
"Gue Siska. Disuruh bawa keranjang kuning yang isinya hiasan sama Ghia."
Astrid mengangguk lalu menyerahkan keranjang kuning itu kepada Siska. Berbincang sebentar dengan Astrid, Siska pun kembali keatas panggung dengan keranjang kuning yang ada ditangannya.
Siska juga ikut andil membantu mendesain untuk panggung dan lain-lain.
"Siska." panggil seseorang dari arah kejauhan.
Siska pun menoleh kearah gadis itu. "Iya kenapa?"
"Lo sibuk nggak?" tanya nya.
"Enggak kenapa?" balas Siska.
"Bisa bantuin gue buat cocokin warna sama pilihin beberapa hiasan nggak? Btw nama gue Seryl." Gadis bernama Seryl itu berjabat tangan dengan Siska.
"Bisa, bentar gue tanya Ghia dulu."
"Ghia, udah selesai kan? Gue boleh ke sana dulu nggak? Diajak sama Seryl."
Ghia mengangguk, "Nggak ada yang perlu di beresin lagi, udah kelar."
Siska pun berjalan mengikuti Seryl dari belakang menuju ruang osis. Di sana tersedia satu laptop yang sudah menyala dan menampilkan beberapa gambar di layarnya.
"Gue disuruh Daffan buat desain ini, dan katanya gue boleh minta saran sama lo." kata Seryl.
Siska mengangguk, melihat gambar yang tertera dilayar. Gadis itu lantas memberi beberapa saran kepada Seryl. Tak lupa sesekali ia juga yang menerima saran dari Seryl.
Dirasa selesai dengan beberapa desain yang dibuat, kini Seryl tinggal menyiapkan spanduk untuk dipasang didepan aula.
"Eh ini warna nya mati nggak sih kalo digabungin sama pink?" Siska memberi saran.
"Iya juga, kalo gitu bagusan sama warna apa?" tanya Seryl.
"Menurut gue bagusan sama warna ungu muda, lebih nyata gitu."
Seryl mencoba saran dari Siska, dan benar saja desain yang tadinya warnanya mati, kini kembali kontras.
"Bener Sis, makasih ya," ujar Seryl.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mi Historia
Teen Fiction'Memilih'. 1 kata yg mempunyai beribu makna, seperti yg gadis di dalam cerita ini rasakan sekarang, memilih antara 2 laki-laki yang berarti dalam kehidupannya. Bukan dia yang meminta, tapi takdir yang membuat dia harus memilih di antara mereka, ser...