"Gue tidur disini ya?" pinta Chaca kepada Siska.
"Nggak, gue mau habisin waktu sama temen gue." tolak Siska.
"Ayolah, gue tidur sendiri ini."
"Nggak papa kok kak, tapi nanti sempit, gimana?" ucap Asya.
"gak akan sempit kasur dia gede"
"Tuh temen lo aja nggak papa, kok lo yang sewot sih." lanjut Chaca bersemangat
"Yaudah, kali ini aja."
"Iya iya, asik!" kata Chaca kegirangan.
_________________
Siska terbangun dan mendapati kedua sahabatnya serta kakaknya yang masih tertidur lelap, karena tak ingin membangunkan mereka Siska pun bergerak dengan perlahan.
Siska menuju kamar mandi yang berada didalam kamarnya untuk mencuci mukanya. Saat Dirinya merasa lebih segar setelah mencuci mukanya, Segera Siska pun menyiapkan beberapa baju yang Asya dan Vio tinggal di lemarinya. Tak terkejut bahwa baju mereka banyak sekali menumpuk di lemari Siska karena Asya dan Vio memang sering sekali menginap dirumahnya, Bahkan kadang mereka juga menginap di rumah Asya maupun Vio. Membuat baju-baju mereka tersebar di masing masing rumah. Karena saking dekatnya orang tua mereka juga sudah saling mengenal satu sama lain. Apalagi dengan Siska dan Asya yang sudah kenal di Sekolah Menengah Pertama.
Siska mendengar ada pergerakan dari arah kasurnya dan ternyata Asya yang sudah terduduk dipinggir kasur namun dengan posisi matanya yang masih mengatup tidak terbuka. Siska pun tertawa kecil melihat Asya, dan kembali melanjutkan kegiatannya untuk menyiapkan barang barang yang mereka perlukan.
Asya yang masih tertidur dengan posisi duduk itu mencoba membangunkan Vio yang ada disebelahnya, menepuk gadis itu asal dan berhasil membuat Vio terbangun.
Siska yang melihat kedua temannya sudah duduk di atas ranjangnya pun menuntun kedua temannya menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya, agar matanya terbuka lebar dan wajahnya kembali segar.
Siska dapat melihat Chaca yang sudah berjalan meninggalkan kamarnya dengan mata yang masih tertutup. Tak lama setelah itu Asya dan Vio keluar menandakan bahwa kegiatannya dikamar mandi telah usai.
Mereka bertiga memutuskan untuk turun kebawah, sarapan. Asya dan Vio melihat ada oma dan opa Siska yang tengah sarapan bersama dengan Pak Welsen, Bunda Almira, Chaca dan Athalla yang sama-sama masih mengantuk.
"Buenos dias, oma opa." sapa Siska.
"buenos días también Siska." balas oma-opanya bersamaan.
Asya dan Vio saling melirik, tak paham akan arti ucapan yang Siska gunakan dengan Oma dan Opanya.
Mereka duduk dimeja makan rumah Pak Welsen, tak lupa bahwa Asya dan Vio sudah menyapa kedua orang tua Siska dan oma-opa Siska, sebagai tanda hormat.
"Ini teman Siska yang dulu kan, sebelum Siska pindah ke Spanyol?" tanya oma.
"Iya oma, masa oma lupa sih." balas Siska.
"Ya maklumi aja, oma kan udah tua jadi pelupa," ujar oma dengan nada bicara bercanda.
Semuanya tertawa mendengar hal itu.
"Saya Asya oma, yang dulu sering dikasih uang jajan sama oma." Asya mengacungkan tangannya keatas, berbicara semangat sekali.
"Saya Vio oma, sering dikasih uang jajan juga." timpal Vio
Oma mengangguk meskipun dirinya tak ingat persis bagaimana kedua sahabat Siska ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mi Historia
Teen Fiction'Memilih'. 1 kata yg mempunyai beribu makna, seperti yg gadis di dalam cerita ini rasakan sekarang, memilih antara 2 laki-laki yang berarti dalam kehidupannya. Bukan dia yang meminta, tapi takdir yang membuat dia harus memilih di antara mereka, ser...