3 : Kelulusan

98 16 2
                                        

*_______________*______________*

Satu bulan setelahnya.

Adelyn masih tidak menyangka sosok ibu yang ia impikan, telah tiada di dunia ini. Rasa kehilangan yang teramat besar membuatnya menjadi gadis pendiam. Dia bahkan masih belum bisa mengikuti pelajaran lantaran masih belum bisa fokus dengan apapun.

Dibanding dengannya, jelas Taeyong yang lebih merasa kehilangan. Dia harus kehilangan ibu yang selalu bersamanya ——meski sering bertengkar, mereka tetap pasangan ibu dan anak yang harmonis.

Namun karena posisinya, Taeyong pun tak sempat untuk bersedih. Dia hanya mengurung diri di kamar selama sehari dan setelah itu, dia bekerja tanpa henti sampai rasanya sulit untuk tidur.

Sayang sekali. Di usianya yang masih muda, dia harus menghandel semua perusahaan seorang diri. Dia tidak akan menyerahkan tanggung jawab pada saudara ayahnya. Baginya tidak ada yang bisa di percaya kecuali kerabat dari ibunya.

Kekayaan yang paling melimpah dibanding paman-pamannya, jelas mengundang rasa iri, hingga mereka menghalalkan segala cara agar bisa mengambil alih posisinya.

Tentang kematian ibunya pun, ia mencurigai beberapa oknum.

Tok, tok, tok.

Ketukan pintu membuyarkan fokus Taeyong pada pekerjaannya. Matanya lantas melirik pada jam dinding yang kini menunjukkan pukul satu dini hari.

Siapa yang mendatanginya di jam segini?

Ceklek

Pintu sudah terbuka sebelum Taeyong mempersilahkan masuk. Disana, gadis cilik dengan boneka panda di pelukannya, berdiri di ambang pintu.

"Oppa, lyn, boleh masuk?" gadis itu bertanya dengan wajah sembab.

Taeyong memandangnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengiyakan.

Adelyn melangkahkan kaki telanjangnya ke dalam ruangan tamaram itu. Hanya lampu di meja kerja Taeyong saja yang masih menyala terang.

"Kenapa kesini," tanyanya, sembari melanjutkan pekerjaannya.

"Tidak bisa tidur." jawabnya pelan. "Kenapa Oppa selalu tidur pagi. Nanti Oppa bisa sakit." sambungnya, mengoceh.

Taeyong terdiam sejenak mendengar ucapan bocah cilik itu. Lalu setelahnya, bibirnya menyungging samar. "Kalau ingin disini, jangan berisik."

Adelyn mengatupkan bibirnya cepat. Takut Taeyeong akan terganggu oleh suaranya.

Taeyeong lantas meliriknya saat tak terdengar suara bocah itu lagi. Gadis itu hanya diam sambil memainkan telinga boneka pandanya.

Heran. Kenapa dia sangat penurut? Sifatnya sangat bertolak belakang dengan keturunan Lee yang memiliki sifat pembangkang.

Contohnya adiknya.

Dia kembali ke asrama setelah mengikuti pemakaman ibunya. Sama sekali tidak menyapanya ataupun sekedar mampir di rumahnya.

Tapi lucunya, si bocah baru yang datang ke rumahnya, dia tampak lebih sedih seolah di lahirkan di rahim yang sama dengannya.

"Bagaimana dengan kakimu?" suara berat Taeyong memecah keheningan.

Adelyn sedikit tersentak, lalu menoleh pada laki-laki itu dengan kerjapan polos. "Lukanya sudah mengering, kok." balasnya.

Katanya tidak boleh berisik, Adelyn ingin mengatakan itu tapi tidak berani.

"Syukurlah,"

Taeyong akui, gadis itu cukup berani. Dia bisa melawan penyerang walau akhirnya dia terluka juga. Tapi keberaniannya itu cukup mengesankan.

FAVORITE [LEE TAEYONG] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang