Dive I

464 32 2
                                        

Happy Reading💜

******

Nadine menghela nafas lelah melihat pemuda yang sangat tak ingin ditemuinya tengah berdiri didepannya dengan memegang kotak bekal, jangan lupakan  tampang bodoh yang membuat perempuan itu semakin malas untuk melihatnya.

"Gue udah bilang kan, berhenti ganggu gue! simpan kembali bekal itu atau lo akan liat sendiri bekal yang susah payah lo siapin berakhir di tempat sampah," ucapnya tanpa berpikir perkataannya akan menyakiti hati pemuda di depannya.

Nadine lelah, bagaimana lagi cara mengusir pria ini? segala cara telah ia lakukan, mulai dari cara lembut dengan memberi pengertian bahwa ia tak menyukai pemuda itu sedikitpun hingga cara kasar dengan mencaci maki pria itu, hasilnya nihil, pria itu tetap mengejarnya walau makian yang Nadine lontarkan kadang terlalu kasar.

"N-Nad, g-gue udah susah payah buatin bekal ini, lo harus terima, m-mau lo makan atau lo buang itu hak lo," ucap pemuda bernama James itu dengan terbata, sampil menarik tangan Nadine, memaksanya menerima bekal buatannya.

Lihat kan, berbicara saja gagap begitu namun pemuda itu memiliki keberanian yang membuat Nadine takjub hingga nyaris stres dalam menghadapinya.

"Hhhh," sekali lagi Nadine menghembuskan nafas. "Nih tugas gue, resume dari bab satu sampai bab lima, gue nggak mau tau minggu depan harus selesai." Nadine pergi meninggalkan James yang terima saja disuruh mengerjakan tugasnya.

"Kenapa muka lo? udah dikasih ayang bekal masih butek aja itu muka," ujar temannya Zara.

Nadine tak mempunyai keinginan untuk membalas perkataan Zara.

"Ck tega amat lo Nad, anak orang lo gituin," ucap Zara begitu mengamati James masih berdiri tak jauh darinya memegang buku paket yang menjadi tugas resume mereka.

Nadine tau Zara bermaksud mengejeknya, awalnya Nadine bermaksud mengusir James secara halus dengan memintanya mengerjakan tugas kuliahnya, tak disangka James mau mau saja, beginilah akhirnya, Nadine jadi keenakan, lumayankan, waktu yang seharusnya dipakai untuk mengerjakan tugas malah di gunakan untuk menonton drakor.

"Lo pake jampi jampi apa Nad, sampai si cupu itu tergila-gila? lo nggak main dukun kan?"

"Ck bisa diem nggak?!" jawab Nadine sewot.

"Galak bener," ungkap Zara. Baik, sepertinya hari ini cukup sampai disini ia menggoda Nadine, mood perempuan itu sedang buruk, Zara tak mau berakhir kena amuk jika terus menggoda Nadine.

Nadine tak menghiraukan gerutuan Zara, ia bergegas pulang. Nadine memejamkan mata begitu ia merebahkan diri di atas kasur tersayangnya, namun ia bangun dan membuka ranselnya mengambil bekal yang disipakan James dan segera membukanya.

Bagaimana lagi, walaupun tak suka Nadine paling malas jika buang buang makanan.

Nadine mendengus malas melihat keberadaan sandwich tuna tersusun rapi, oke Sandwich Tuna memang makanan kesukaannya Entah darimana pemuda itu mengetahuinya, namun jika di beri sandwich tuna setiap hari enek juga rasanya, masalahnya James memberi bekal yang sama setiap hari selama dua bulan, Nadine tak yakin jika Sanwich tuna masih menjadi makanan favoritnya jika melihannya saja perutnya ingin muntah.

Setengah hati Nadine memakan bekal yang diberikan James, ingat! Nadine orang yang tak suka menghamburkan makanan, awalnya Nadine berniat memberi bekalnya untuk Zara, perempuan itu juga sudah mulai bosan memakan bekal yang beberapa kali Nadine berikan itu.

Nadine termenung memikirkan kehidupannya tenangnya yang mendadak berubah dua bulan belakangan ini. Berawal dari dirinya yang menjadi pembicara di salah satu seminar yang diadakan organisasi tempat ia bernaung berakhir membuat pemuda itu tergila-gila padanya.

One ShootTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang