Steven mengerjapkan mata nya dan begitu jantung nya langsung berdetak kencang kala pemandangan pertama yang di tangkap oleh netra nya adalah wajah Vanora yang tertidur dalam dekapan nya.
Tadi malam, sebelum Vanora melakukan hal lebih jauh. Steven menolak nya dengan lembut walau tersirat jelas ketidaksukaan gadis ini. Namun akhirnya ia menerima nya dengan syarat, Steven harus tidur bersama nya di atas kasur.
Jantung Steven berdetak sangat kencang hingga rasa nya Vanora akan terbangun karena detakan nya akan terdengar.
Steven perhatikan wajah gadis itu, sangat polos.
Tak lama, kelopak mata Vanora terkejap dan menampilkan manik kehijauan yang indah.
Steven terkesiap, apa dia menganggu nya?
Namun tidak terlihat kekesalan dari wajah nya yang menunjukkan dia terganggu. Steven bernafas lega dan tersenyum kecil, "Morning."
Vanora menatap wajah Steven lalu ikut tersenyum, "Morning, sweet guy."
Steven merasakan pipi nya memanas mendengar nya. Steven tersenyum, "Aku akan membuatkan mu sarapan. Setelah nya," Ia diam sejenak, "Kau ingin pergi sekolah bersama ku?"
Mata Vanora terpejam seraya meregangkan otot nya, "Tidak, aku bisa pergi sendiri. Lagipula, aku tidak membawa seragam ku."
Steven sedih namun ia tak mau menunjukkan nya, "Baiklah, lain kali bawa seragam mu setiap kali ingin tidur di sini."
Vanora tak menjawab dan hanya mengangguk samar.
Tiap rabu, sekolah dengan rutin membariskan murid-murid nya ke Aula untuk pengarahan ataupun pengumuman pemenang lomba. Semua murid berjalan menuju Aula dan berbaris dengan rapi.
Dan Steven di tugaskan untuk memastikan semua kelas kosong dan tidak ada murid yang sengaja untuk bolos atau semacam nya.
Steven berjalan dengan santai sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat murid-murid sibuk merapikan seragam nya lalu berlari menuju Aula.
Tapi, mata Steven tak sengaja menangkap atensi kedua murid di pojok lorong.
Steven tentu kenal wajah murid perempuan dan laki-laki nya.
Itu adalah Vanora—ekhem, pacar nya dan murid Art 3 itu, Akram.
Akram menghimpit tubuh Nora di dinding dan gadis itu tersenyum mendengar apa yang di bicarakan nya. Steven mengepalkan tangan nya kuat.
Steven melangkah mendekat, "Apa kalian tidak mendengar suara bel tadi?"
Suara Steven mengejutkan kedua nya yang langsung mengambil jarak. Steven menggertakkan gigi nya kesal. "Aku sering memergoki kalian sering berduaan di pojok sekolah selama jam pelajaran. Itu sangat tidak mencerminkan kalian sebagai siswa."
Akram menatap Vanora sekilas lalu berdeham, "Maaf, Tuan Grant."
Pandangan Steven tak putus dari gadis yang akhirnya membalas tatapan nya dengan dingin. "Tolong, ketahui norma-norma yang ada di sekolah."
"Baik, Tuan." Setelah mengatakan hal itu, Akram menarik tangan Vanora untuk segera pergi dari sana meninggalkan Steven yang masih diam di tempat nya beberapa saat.
Nora memperhatikan pria yang berdiri di antara murid laki-laki dan mendengarkan ocehan sampah dari kepala sekolah yang tak ada habis nya.
Perlahan, dia bergeser ke arah barisan murid perempuan dan berbicara pada gadis berambut pirang—bagus, itu Elizabeth.
Apa dia tidak ingat kejadian dimana ia menghajar gadis itu habis-habisan? Maksud nya adalah, jangan dekati dia lagi apapun cerita nya.
Tak lama, tubuh Elizabeth ambruk yang di tangkap dengan cepat oleh Steven. Oh, dia benar-benar guru yang baik.
