Selamat membaca!
Kana sudah bolak balik keluar aplikasi membacanya, ia tidak menemukan cerita yang ia mau. Kana penyuka komedi romantis, Kana itu mirip mamanya yang sama-sama penyuka buku. Kana sering membaca buku mamanya.
Kana membuka akun untuk stalk nya Geran, ia melihat Geran membuat cerita beberapa jam yang lalu. Kana melihat cerita itu, isinya foto geran sedang liburan di Dufan, yang membuat Kana bertanya adalah siapa perempuan yang bersama Geran? Pacarnya? Atau saudaranya?
Ohh Geran punya pacar? pikir kana.
"Cantik ya pacarnya, gue apaan? Hanyalah sebutir debu." Kana tidak menyadari dirinya cemburu dengan kedekatan Geran dan perempuan di cerita Geran. Kana langsung keluar dari akun itu karena males melihat 2 orang foto begitu dekat.
Kana memakan cokelat batang miliknya untuk mengusir badmood nya.
"Apaansih gue kenapa mesti kesel coba? Gue kan gak suka ya, jadi wajar aja dong. Lagipula, terserah dia mau jalan sama siapa dan gue gak peduli." Setelah mengucapkan itu, Kana lanjut memakan cokelat batangnya.
Setetes air mata jatuh di pipi Kana, Kana segera mengelap dengan tangan. "Masa gue gitu aja nangis?" Ucapnya.
"Engga ah cengeng banget." Kana segera mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya. Ia berusaha untuk tidak menangis hanya karena melihat foto yang membuat hatinya sakit.
"Tapi, kalau dipikir-pikir juga kok nyesek ya liat dia sama yang lain," Ucap Kana.
"Yaudahlah, gue kan gak suka ini."
"Lo beneran gak suka kan, na?"
"Gue gak suka, gak suka dan gak akan suka." Kana terus berucap sendiri, beberapa kali ia menegaskan kata 'tidak suka' Kana sebenernya sadar bahwa ia suka dengan Geran. Namun, ia menyangkalnya. Seperti sebelumnya, Kana masih SD (Suka Denial).
Malamnya, Kana lanjut meng stalk Geran. Padahal Geran tidak lanjut lagi membuat cerita di akunnya. Tapi Kana melihat ada sorotan baru. Ia membukanya dan melihat video yang isinya hanya ring basket, kameranya mengarah ke ring basket dan di zoom oleh Geran.
Kana seketika merasa merinding, ini buat gue? Pikirnya.
"Gak mungkin gak si, lagipula bisa jadi dia tuh suka main basket kan," Ucap kana pada dirinya sendiri.
"Yaa mungkin sih kan dia tinggi jadi suka main basket," Lanjutnya.
Kana yang tadinya tengkurap menjadi telentang di atas tempat tidurnya, lalu melihat langit-langit kamarnya. "Bisa jadi, dia lagi ditemenin pacarnya main basket?" Kana memukul dadanya.
"Apasih ah, lebay."
"Gua kan gak suka, jadi santai aja dong." Kana masih terus menyangkal.
Sudah 3 hari setelahnya, Kana terus memikirkan sorotan yang dibuat Geran.
Di depannya, Geran lewat tanpa ada melihat Kana. Entah Geran melihat namun acuh atau emang tidak melihat sama sekali. Kana melihat Geran lewat dan punggungnya semakin lama semakin jauh. Ia seketika mengingat pas dia SMP.
Kana yang sedang berdiri di pinggir menunggu temannya jajan, ia merasa menghalangi beberapa orang yang ingin jajan. Ia memundurkan tubuhnya selangkah, sambil melihat sekitar.
Kantin selalu ramai saat jam istirahat entah itu istirahat pertama atau kedua. Biasanya kana akan membeli minuman di istirahat pertama, baru ia membeli makanan di istirahat kedua. Kana yang merasa gerah pun menjauhkan dirinya dari kerumunan orang-orang itu, sambil mengawasi juga jika temannya mencarinya.
Kana yang melihat ke arah kantin tatapannya juga bertemu dengan tatapan mata seseorang di kejauhan. Geran. Kana membalasnya, mereka bertatapan beberapa detik sebelum akhirnya Geran terdorong oleh orang di belakangnya mungkin mereka akan tetap bertatapan. Kana melihat ke belakangnya, ia tidak mendapati siapa-siapa. Geran menatapnya?
Kana melihat temannya keluar dari Kantin pun, menghampirinya.
"Ayo."
"Lama lo," Ucap Kana kesal.
"Lo gak liat tuh kantin penuh?" Kana hanya memutarkan kedua bola matanya malas.
Kana melihat orang yang berjalan di depannya, walau orang itu menghadap ke depan Kana tetap mengenalinya. Geran. Sementara itu, Geran sedikit menoleh ke belakang tapi tanpa memutarkan kepalanya.
Kana memerhatikan Geran dari belakang, dari atas sampai bawah. Melihat dan mengira-ngira berapa tinggi Geran. Pantas lah ikut paskib, tinggi juga anak ini. Batin kana.
Kana juga termasuk perempuan yang tinggi di sekolahnya, mungkin bisa dibilang ia perempuan yang lebih tinggi di kelasnya.
Rasanya, Kana hanya ingin balik ke jaman dia SMP. Dimana, ia dan Geran selalu bertemu dan bertatap tanpa berinteraksi. Setidaknya, ia bertatap tidak seperti sekarang yang tidak bertatapan sama sekali atau bahkan berinteraksi. Sayangnya, saat itu Kana menyukai salah satu teman kelasnya yang ikut paskib juga.
Raka, bisa terbilang Kana terjebak friendzone. Kana sengaja sering mencuri waktu untuk bisa mengobrol atau bahkan bertukar pesan dengan Raka, entah modusnya untuk menanyakan tugas. Toh, jika ditanya Kana membalasnya dengan "lo kan pinter ka, pasti lebih rajin dari yang lain." Dan yaa, walaupun Raka tidak pernah menanyakan kenapa Kana terus menanyakan tugas dengannya. Kana yakin Raka tau jawabannya, karena ia pintar. Buktinya kelas 9, Raka masuk ke kelas unggulan. Sementara Kana? Jangan harap masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kana
Dla nastolatkówTerdapat satu kalimat yang tidak akan pernah tersampaikan kepadanya. Bagi Kana, Geran adalah seseorang yang sempurna. Walau semua orang bilang itu tidak. Kana Gaurindani, seorang anak SMA yang menyadari perasaannya saat duduk di bangku kelas 10. Di...
