Karena jeda yang sangat lama banget ampir setaun, aku coba retell ulang cerita kemarin dari awal yak. Garis besarnya aja. Tapi kalau mau baca chapternya dari awal malah aku makasih banget, hehehe.. Jadi Djenar kerja di sebuah hotel di pinggiran Jogja. Tanpa sengaja, dia bertemu dengan Gusti. Merasa cukup nyaman tinggal di hotel itu, Gusti berpikir bahwa hotel tersebut bisa jadi salah satu pilihan untuk dia rekomendasikan ke kantornya yang sering mengakomodir kebutuhan kamar dalam jumlah besar. Beberapa hari stay di hotel tempat bekerja Djenar, ditambah lagi selama beberapa hari di situ Djenar harus menemani Gusti, membuat kesebelan Djenar terhadap Gusti mulai memudar. Djenar sepertinya juga mulai melihat kharisma Gusti. Sampai akhirnya tiba suatu ketika Djenar harus bertemu lagi dengan masa lalu yang sangat ingin dia pendam, setidaknya sampai dia bisa memulihkan dan menata hatinya lagi. Dan masa lalu tersebut adalah Moonlight. Konflik antara Djenar dan Moonlight pun terjadi. Sampai Olive, Gusti dan Raja membantu.
#Namun aku sontak menutup mulutku sendiri yang hampir memanggil Olive. I saw them kissing, Olive dan mas Gusti, nope.. I mean.. Bide dan Olive,.. ya itulah.. aku tersenyum kecut. Giblik kenapa aku jealous ngeliat mereka kissing, yekan? Aku kini menertawakan diriku sendiri. Akhirnya aku kembali ke kamar Olive dan memutuskan untuk ... untuk memejam meski entah akan tidur atau tidak.#
Djenar
"Tuuuu kan boboook" kudengar suara Olive manja. Pasti ke mas Gusti. Ngga mungkin ke mama papanya. Aku iri. Aku menahan diri untuk membalikkan tubuhku yang pura-pura tidur membelakangi pintu arah mereka melihatku. Lalu ak mendengar suara pintu kamar yang kutempati tertutup. Yasih Bide kharismatik. Ngga heran pasti dia dikelilingi sub sub/ bunny bunny keren kayak Olive, lol.
Keesokan harinya aku masuk shift pagi. Jadi selepas subuh aku berpamitan ke mama papa Olive karena Olive masih tidur dan aku melihat Mama Papa Olive sudah bersiap memulai hari. Jadi aku hanya mencium pipi Olive instead of membangunkannya.
Aku berangkat dengan memesan taxi online. Papa Olive sebenernya memaksa untuk mengantar. Hanya saja aku meyakinkan beliau bahwa aku sudah terlanjur pesan, jadi beliau mengiyakan. Karena jujurly, aku sendiri type orang yang bakal lakuin apa aja sendiri selama aku masih bisa melakukannya. Untungnya si Om driver datang tak lama setelah aku berpamitan dengan kedua orang tua Olive.
Aku pasti sudah akan mengajak ngobrol tentang random thingy apa saja ke si Om driver jika saja otak dan hatiku sedang tidak carut marut seperti ini. Namun dengan keadaanku saat ini, aku bener-bener lagi zero energy banget untuk melakukan hal tersebut. Jadi kubiarkan saja perjalanan kami hening. Dan brengseknya, keheningan ini justru menyeret memoriku ke masa di saat aku masih bareng sama Moonlight. I swear tragedy semalam di kafe waktu dengan Moonlight bener-bener kasih damage ke mentalku.
Well, pernah ngga sih kalian berada pada fase dimana kalian ngerasa udah sayang banget sama seseorang, but then because of one or some reasons, rasa sayang kalian itu ilang gitu aja? Saat dimana dada kalian berat banget dipenuhi sama satu nama, but then saat kamu ketemu langsung pun, perasaan berat itu udah ngga ada lagi. Mungkin itu gambaran yang aku rasakan. Moonlight is not a bad person (atau mungkin aku yang terlalu permisif dan terlalu nutup mata tentang dia?). dan pisahnya kami, aku bener-bener salah, aku akui. Whatever happens, aku seharusnya tetap menjalani kontrak kami, dan menyampaikan evaluasi kekurangan dia saat itu. Tapi aku malah memilih pergi dan sumpah, aku ngga pernah meminta pembenaran atas apa yang aku lakuin tersebut.
Masalah kami hanya karena love language kami ngga nyampe. Ah fak siapa sih orang yang pertama kali nge sounding soal love language ini anjir bat dah. Aku ngga pernah dapet words of affirmation dari dia after apapun yang aku lakuin, baik waktu jalanin tasks maupun di kehidupan sehari-hari kami. And it makes me feel like, apa yang aku kerjain ngga ada artinya. At my worst, tidak adanya affirmation words dari dia juga bikin aku ngerasa aku nga becus lakuin hal yang dia minta aku buat lakuin. Aku kecewa, hal yang tidak akan dirasakan sama sub / cewek lain yang memang words of affirmation bukanlah kebutuhan dia.
KAMU SEDANG MEMBACA
BEGGING
RomansaProlog Dahulu Djenar pernah terjebak melibatkan "rasa" dalam hubungan Dom Sub relationshipnya. Rasa sakit, kecewa dan luka (baik luka fisik maupun luka hati), tak juga membuatnya tersadar bahwa dia sedang terjebak dalam hubungan yang toxic. Hingga p...
