Malam yang cerah, angin malam yang berhembus lembut, bising kendaraan yang tak banyak melintas, sinar lampu kota yang menerangi wajah cantik Lani membuat Diki banyak berpikir. Sambil menatap Lani dan mencerna ajakan Lani, teringat keempat temannya yang tadi tak meluangkan waktu untuknya.
"Mungin kejadian seperti ini akan ada yang ke dua tiga hingga mereka benar-benar membuangku," batin Diki.
Diki mengamati Lani lagi. Apa harus memasukan wanita ini ke kehidupannya? Kenapa harus wanita ini? Wanita yang sepanjang ceritanya tadi penuh kemalangan dan wanita yang terlanjur menceburkan diri dunia kelam. Jawabannya mungkin jika itu wanita berbeda dia tak akan mau dengan Diki.
"Setidaknya sekali seumur hidup kita harus mencoba menginap di sana," ucap Diki sembari berdiri.
Lani menatap Diki mencari maksud kalimatnya.
"Ayo!" Ajak Diki.
Lani tersenyum, dia pikir tak akan semudah ini mengajak Diki ke tempat paling sensitif karena reputasinya dikalangan LC, yang tak pernah booking LC. Nyatanya sama saja seperti pria lainnya.
"Ayo," ucap Lani sambil berdiri dan merangkul lengan Diki.
Mereka berdua melintasi jalan raya melalui zebra cross menuju hal yang akan menyakiti banyak orang nantinya.
***
Lani membuka mata, mentap pria dihadapannya yang tertidur pulas. Setelah perbincangan di trotar jalan akhirnya mereka memesan satu kamar hotel di hotel bintang empat yang Lani tunjuk.
Lani yang tak pernah menginap di tempat seperti ini merasa takjub. Ia takjub pada kran yang menyala dengan sensor, hairdryer yang menempel di tembok, lampu yang bisa dimatikan dari samping tempat tidur, padahal ada pula saklar lampu dibalik pintu, jendela yang menampilkan bintang di bumi dan segala hal yang baru diketahui itu kamar itu.
Mahkota Lani akhirnya jatuh pada Diki, setelah berusaha menjaga keperawanannya selama satu tahun terakhir ini. Menyesal? Tentu tidak, Lani sudah memutuskan untuk memberikan pada Diki sejak ia mencium bau harum jaket milik Diki. Namun yang menjadi permasalahan bagaimana setelah ini di tempat karaoke. Apakah dia akan dengan mudah menjualnya?
Diciumnya perlahan hidung pria yang berhasil mencuri jiwanya. Diki terbangun karena ciuman itu.
"Hai," ucap Lani.
Diki tersenyum kemudian memeluk Lani sambil mengelus punggungnya yang halus.
"Bagaimana untuk pengalaman pertamamu ini?" Diki meminta pendapat atas percintaan mereka.
"Sangat menakjubkan karena dilakukan dengan orang yang kucintai," jawab Lani sambil memeluk erat Diki.
Diki terasenyum lagi mendengar jawaban Lani yang seperti menggodanya. Wanita manja seperti inilah yang selalu membuat Diki luluh.
"Eh, jam berapa ini?" Diki melepaskan pelukan dan mencari handphone yang ia simpan di nakas.
Jam di handphone menunjukan pukul dua dini hari. Dilihat pesan chatnya ada pesan dari Nuri dan Alika.
"Hah, aku harus pulang!" ujar Diki sambil duduk.
Kemudian Diki keluar dari selimut, dilihatnya darah menempel di sprai.
"Lani benar-benar masih perawan," pikir Diki dalam hati.
"Mas, kenapa tiba-tiba pulang?" tanya Lani heran.
"Anakku gak pernah suka kalau aku menginap di luar. Jadi sebisa mungkin aku harus ada ketika dia bantun tidur." ucap Diki sambil berpakaian.
"Anak? Kamu emang udah punya anak?" Pria yang Lani kira melajang ternyata sudah mempunyai seorang anak, tapi Lani tak peduli karena yang ia inginkan sekarang hanya Diki.
"Apa kita bisa pergi bersama lagi?" tanya Lani.
Diki terdiam sejenak. Ia merasa kasihan juga pada Lani.
"Kamu 'kan sudah kasih nomor handphone, nanti aku hubungi. Ayo makan siang bersama."
Selesai berpakaian Diki mengeluarkan uang sebanyak dua juta rupiah dari dalam tasnya. Ia meletakan uang itu di nakas.
"Ini untuk uang hotelnya dan untuk ongkos pulang. Pulang lah naik taksi dan beli pakaian untuk nanti siang."
Diki kemudian keluar terburu-buru.
***
Sekitar jam sepuluh siang Lani mulai bersiap untuk check out dari hotel. Tak langsung pulang, Lani pergi ke mall untuk membeli pakaian yang bagus. Sesuai dengan permintaan Diki dini hari tadi. Namun, selesai memilih baju tepatnya menjelang makan siang, Diki tak kunjung menghubunginya.
"Apakah dia mempermainkanku?" Gumam Lani sambil menyeruput minuman di sebuah cafe.
Lani kesal karena Diki tak kunjung menghubunginya, hingga jam makan siap terlewat. Akhirnya, ia mencoba menelepon Santosa untuk meminta nomor Diki.
Biasanya pelanggan di tempat karaoke akan membuat kartu member untuk mendapat harga spesial. Dalam pembuatan kartu member itu diminta no handphone. Lani berharap Diki membuat kartu member dan menulis nomor aslinya. Namun, harapan itu kecil karena biasanya orang akan membuat identitas palsu.
"Santosa, lo inget pelanggan yang nolong gue waktu itu? Ada barang penting gue kebawa sama dia. Gue butuh nomor hpnya," ucap Lani pada Santosa di panggilan telepon.
"Gue gak bisa kasih itu 'kan data pribadi. Dan lagi mana ada orang bodoh yang menulis nama dan nomor telepona asli di sini."
"Iya, sih, gue juga tahu hal itu. Tapi, siapa tahu dia memang orang bodoh," bercanda Lani. "Ayolah lebih baik mencobanya daripada tidak sama sekali 'kan? Gue mohon,"
"Ya udah gue cek ini," suara Santoso dalam panggilan telepon.
"Emang lo udah di kantor?" tanya Lani heran karena masih jam segini.
"Belum, tapi gue simpen datanya di data online. Jadi asal bisa akses linknya gue bisa buka di mana pun," teang Santosa.
"Ya ampun canggih banget," Lani yang gaptek takjub mendengar penjelasan Santosa.
Tak perlu waktu lama Santosa memberikan nomor telepon dengan nama tiga Diki.
Lani tak membuang waktu, setelah menjanjikan Santosa traktiran makan, Lani langsung menutup telepon dan menghubungi nomor Diki-diki itu satu persatu.
***
Sejam lalu Diki membuka mata dari tidurnya. Hal yang terpikirkan pertama adalah kejadian tadi malam. Perasaan menyesal dan bersalah silih berganti bermunculan. Bisa-bisanya dirinya percaya jika Lani baru pertama tidur dengan lelaki dan bisa-bisanya dia mengkhianati Nuri terlebih Alika.
Diki tak beranjak dari kasur. Dia hanya mengambil air putih dalam botol yang berada di nakas. Air yang selalu disiapkan Nuri sebelum berangkat, air yang pertama yang masuk tubuhnya, air pertama yang menghilangkan dahaganya dan air yang tak pernah ia syukuri kehadirannya, sama seperti orang yang menyiapkan air itu.
Setelah meneguk setengah botol air itu, Diki menyimpan kembali ke Nakas. Tangannya beralih ke remot TV yang berada di nakas juga.
Tak ada hal yang membuat ia harus beranjak dari kasur siang ini, jadi ia memilih untuk menonton film di aplikasi nonton film.
Baru sepuluh menit film itu ditayangkan handphone Diki berdering. Dilihatnya nomor yang tak ia kenal. Setengah malas Diki mengangkat telepon itu.
"Hallo,"ucap Diki.
"Hallo, aha! Ini benar suara Mas, Diki yang kucari."ucap suara di ujung telepon riang.
Diki menyerngitkan dahi. Tak bisa menebak siapa yang meneleponnya.
"ini Lani, Mas Diki tak lupakan kita janji makan siang hari ini?"
Rasa ngantuk Diki tiba-tiba hilang "bagaimana wanita ini bisa menghubunginya, padahal aku tak memberikan nomorku," ucap Diki dalam hati.
Diki memang tak berniat untuk menelepon Lani kembali. Baginya kejadian semalam tak berarti apapun.
"Ayo, Mas ke sini. Aku udah beli baju cantik seperti yang kamu bilang atau kita makan di tempatmu saja." ucap Lani seolah polos tetapi itu adalah kalimat ancaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengubah Takdir
General FictionPasca kecelakaan tragis sebuah fakta perselingkuahan suami dan sekretarisku terungkap. Lebih mengenaskannya lagi dalam kondiri lumpuh dan bisu keduanya kembali mengakhiri hidupku. Namun, aku mendapatkan keajaiban di luar nalar, bukannya mati aku jus...
