17

3.8K 123 3
                                    


Sekarang adwan sedang ada di pesantrennya...

"Eh Adwan, kekelas bareng yuk" ajak Syakib, yang diajak hanya mengangguk mengiyakan

Akhirnya mereka pergi, untuk menuju kelas mereka, yang memang tidak terlalu jauh dari mereka berdiri

"Hmm... Gimana keadaan istri kamu?,
  Istri kamu masih marah?"

Belum 5 menit mereka sampai dikelas, berbagai pertanyaan dari Syakib yang kini sudah menghujat telinganya

"Dari semalem dia ngak pernah ngomong" balas Adwan datar saja

"Di bujuklah wan, masak didiemin terus" saran syakib

"Tapikan bukan aku yang salah" gumam Adwan

"Tapikan dia berpikirnya beda" balas Syakib, dan Adwan hanya mengangguk paham

"Kamu kayak gak tau cewek aja wan, kalau aku yang jadi saras, aku bakal pulang kerumah orang tuaku" sambung Syakib

"Makanya kamu gak diciptakan jadi cewek" komentar Adwan datar

"Jahat kamu wan" balas Syakib

***

Sekarang Adwan sudah tiba di rumahnya dan memasuki kamarnya...

Sekarang jam menunjukkan pukul setengah 9 malam, dan terlihat jelas Saras yang berbaring dikasur dengan mata terpejam, Adwan menyadari jika Saras langsung membelakanginya...

"Sarass... Makan dulu.." Adwan duduk disamping Saras sambil menggoyangkan lengan Saras, berharp Saras ingin bangun dan makan malam bersamanya, karena Adwan sangat yakin jika Saras belum makan...

"Gak, gue gak lapar..." Ketus Saras dengan mata yang masih sepenuhnya terpejam

"Kalo kamu gak makan, maka aku juga gak makan" balas Adwan lembut

Seketika mata Saras membulat mendengar lontaran Adwan, dan langsung bangun dari kasurnya

"Ya udah, yok" ucap Saras beranjak pergi
Yap, terlihat jelas sudut bibirnya terangkat sempurna keatas, menunjukkan seulas senyum manis di bibirnya adwan, bagaimana tidak Saras sedang marah tapi masih mempedulikannya

***

Hening...
  Yap, sekarang dimeja makan benar-benar hening, hanya ada suara perpaduan sendok dan piring
  Adwan berdehem dan mulai membuka suara untuk bertanya pertanyaan yang memang ia sudah tau jawabannya

"Kamu masih marah?" Tanya Adwan memandang lekat wajah istrinya

Sedangkan yang ditanya malah sibuk makan dan tidak mengubris pertanyaan adwan, bukannya Saras tidak mendengar, tapi Saras pura-pura tidak mendengar

Adwan hanya bisa menghela nafasnya, dan mengulang pertanyaan yang sama

"Kamu masih marah sama aku, aku minta maaf, aku bisa jelasinnya" ucap adwan menjelaskan

BRAKK...
  Satu gebrakan mendarat keras dimeja makan yang sedang diduduki oleh dua insan yang sedang dilanda badai alias pertengkaran, yang berhasil membuat Adwan mati kaget karena suara gebrakan meja yang dibuat oleh saras.

"Lo kira enak jadi gue, Lo cuma bisa minta maaf, minta maaf dan minta maaf" sambar Saras dan ingin pergi

"Sarr... dengerin aku dulu" ucap Adwan memegang lengan Saras sebelum Saras beranjak pergi

"Bisa lepasin ngak, gue ngantuk" ketus Saras tanpa melihat Adwan sedikitpun

"Dengerin dulu penjelasanku Sarr" ucap Adwan sedikit menaikkan suaranya

"Kok kamu jadi posesif gini sih" sambar Saras berbalik kearah Adwan

"Bukan gitu aku cuma pengen ngejelasin" ucap Adwan lembut sambil melepaskan genggaman tangannya dilengan Saras

"Mau dijelasin apa lagi coba, semuanya udah jelas kalau gue ngak lebih dari orang biasa" sambar Saras menunjukkan dirinya sendiri

"Kamu istri aku, dan akan selamanya menjadi istri aku" tegas Adwan tampa bantahan yang langsung membuat seketika nyali saras ciut

Sedangkan Saras hanya bisa menunduk, dengan air mata yang entah sejak kapan keluar dan membasahi pipi gadis imut yang tak lain adalah Saras

"Kok gue nangis sih, berhenti dong" batin saras, sambil mencoba menghapus air matanya sebelum adwan menyadarinya

Tapi hasilnya nihil, air matanya Saras tidak juga berhenti.

Tanpa disadari oleh Saras satu pelukan hangat mendarat tepat ditubuh mungilnya, dengan air mata yang tak juga berhenti keluar dan detak jantung yang tak bisa diajak bicara, Saras mencoba melepaskan pelukan adwan tapi alhasil juga nihil, mau bagaimana pun tenaga saras tidak seberapa dalam Adwan.

"Saras..." Panggil Adwan lembut
Saras mendongak dengan mata sembab dan hidung merah, Adwan terpatung melihat Saras dengan jejak air mata di pipinya

"Kamu nangis..." Tanya Adwan
Refleks Saras menghapus air matanya "enggak..." Jawab saras
Adwan melepas pelukannya dan beralih mengusap lembut pipinya Saras Yang basah karena air mata
"Saras..."
Panggil Adwan lembut, belum sempat saras menjawab, Adwan kembali menikam tubuh mungil itu kedalam pelukannya, ternyata kutub Utara seperti adwan bisa sweet juga

Adwan meraih bahu mungil milik saras dan menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan

"Dengerin penjelasan aku dulu ya" bujuk Adwan berharap Saras akan mendengarkannya



Jodohku Santri Pilihan Bunda Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang