6

749 80 15
                                        

Seojong termenung, entah kenapa ditengah kebahagiaannya saat ini ada sebersit ketakutan yang mendalam.

Tawa disana seakan tidak berarti sama sekali, semua nampak begitu gelisah.

"Kenapa?" Pertanyaan itu membuat seojong terperanjat. "Kau ada masalah?" Manager sekaligus teman dekatnya itu bertanya khawatir.

Seojong tersenyum ragu, dirinya yakin tak ada satu pun masalah yang memberatkannya. Namun hati dan pikirannya terus dihinggapi kegelisan tak menentu, seperti ada sesuatu yang hilang.

"Istirahatlah, sepertinya kau kelelahan. Biar nanti aku yang urus"

Tanpa kata wanita itu beranjak pergi, langkahnya terasa lunglai tak bertenaga.


°°°


"Nyatanya keadaan anakmu sudah tidak memungkinkan, Joon"

"Tidak-tidak.. Bang, bahkan kita sudah bicarakan ini. Kenapa sekarang hasilnya begitu?"

"Kau sudah tau bahwa ini bukan untuk pertama kalinya bagi taehyung, bahkan sel itu tumbuh lebih cepat yang sayangnya di organ vital kehidupan. Akan sangat beresiko, Joon"

Apalagi sekarang? Namjoon lagi-lagi hanya bisa menerima kenyataan yang begitu pahit dan sulit, kini banyak sekali tanya yang terus saling bersahutan.

Begitu besarkah dosanya? Lalu kenapa kesakitan itu Tuhan limpahkan pada putranya?

Tidak, seharusnya Namjoon tidak berpikir seperti itu. Tuhan tahu yang terbaik bagi setiap hambanya.

"Seojong harus tahu bagaimana keadaan Taehyung sekarang, Joon. Jangan sampai terlambat dan menyesalinya"


°°°


Benar apa yang ayahnya sampaikan, keadaan adiknya sudah terlihat semakin melemah. Bahkan Taehyung menghabiskan waktunya dengan terpejam rapat, hanya sesekali mata sayu itu terbuka. Memastikan genggaman hangat yang selalu menemaninya.

Lelehan air mata itu begitu saja keluar tanpa aba-aba, rasanya begitu menyesakan sampai tak bisa berkata-kata. Jungkook begitu terluka, dirinya tak sanggup jika harus terus menatap kesakitan adiknya itu.


"Kak, kita tidak bisa melakukan operasi itu? Akan sangat beresiko jika kita memaksakannya"

Selalu kalimat itu yang terngiang, begitu jelas dan menyakitkan.

Tangan halus dan dingin itu Jungkook genggam, memberikan usapan hangat sebagai penenang.



Taehyung terusik, genggaman tangan itu berbalas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Taehyung terusik, genggaman tangan itu berbalas. Jungkook tersenyum sendu, menatap kedua mata adiknya yang perlahan terbuka sayu.

"Kak-kak.."

Suara lirih itu membuat mata Jungkook memanas, ada lapisan kaca jernih dimatanya.



Cup


Dengan lembut kecupan itu menyapa dahi hangat Taehyung, mengusap hati-hati kedua mata adiknya yang masih berusaha untuk terbuka.

"Kakak disini, pelan-pelan aja, Dek"

Mata itu tak kunjung terbuka, bola mata itu bergerak gelisah.

"Tidak apapa, adek tenang. Kakak temani disini, hm"

Kata itu setenang mungkin Jungkook serukan, memberi ketenangan pada adiknya yang bahkan dirinya sendiripun dilanda kegundahan

""Ay-yah.. ayy-yah.."

"Ini kakak, adek sama kakak sekarang"

"Hiks.. hiks.. bunda.. hiks.. bun-da.."

Bunda? Jungkook sulit untuk menjawab. Bahkan hanya sekedar berbohong pun tidak bisa Jungkook lakukan, panggilan itu begitu menyakitkan. Menyakiti hatinya dan juga luka Taehyung.

"Bunda.. hiks.. bun-daa.."

Taehyung terus memanggil wanita itu, air matanya terus keluar meski dalam terpejam sekalipun.

Jungkook paham, adiknya begitu rindu pada wanita yang mereka panggil 'Bunda' itu.





Hhhrkkkk


Hhhrrrkkk



Nafas Taehyung memberat, dada anak itu kembang kempis dalam. Sentakan ditubuhnya mengawali kegaduhan diruang sunyi itu.



"Dokteeerrrr!"















Hayy, hallo 🤗

Ada yang masih ingat cerita ini? Semoga


28/09/22




HOPE  *lengkap*Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang