4. 1 = 2⁶.2⁵

105 26 0
                                        

Kembali bersama, Rain berjalan di depan Yonuza. Mereka sekarang berada di lantai 5 gedung besar khusus untuk kamar para siswa. Sebenarnya bukan hanya siswa melainkan juga beberapa staf yang bekerja di sini.

Setiap satu kelas berada pada satu lantai yang sama. Begitu juga dengan kelasnya, 10 Math 5 yang ditempatkan di lantai lima gedung tersebut. Urutan unitnya pun berdasarkan nomer urut kelas yang tandanya kamar miliknya sudah pasti jauh dengan kamar milik Cielan dan dekat dengan kamar Yonuza.

Setiap kamar atau unit di sini sudah ditulis nama masing-masing berserta nomor urutnya tentunya. Rain menghentikan langkahnya tepat di depan pintu unit bertuliskan namanya dengan nomor 16.

Ia merogoh access card yang sudah ia dapat mengikuti arahan pada staf di sini. Baru saja ia mau menggunakan access card miliknya untuk membuka unitnya, teriak Cielan yang menggema di lorong yang bisa dibilang masih sepi mengurungkan niatnya seketika.

"RAINNN RAIN RAIN RAINEVA SINIIII!!"

Kepalanya menengok ke arah sumber suara walau orangnya tidak terlihat. Tentu saja tidak! Gedung ini memiliki empat sisi dari luar. Tentu saja dia berada pada sisi yang berbeda dari kamar Cielan. Lagi, sisi dalam dan luar sudah dipastikan berbeda.

"Mau cek?" tanya Yonuza menawarkan. Ia sedari tadi berada di belakang Rain.

Rain mengangguk singkat, bergegas menuju kamar Cielan. Ia menatap penuh tanya Cielan yang masih berdiri di depan pintu kamarnya, begitu juga dengan orang yang kamarnya paling ujung. Pemilik kamar nomor 1, Azime Geanu. Laki-laki itu begitu fokus menatap pintu.

Tidak. Bukan pintu, lebih tepatnya sebuah sinar hologram yang muncul setelah melakukan aktivasi access card pada sistem magnetik yang ada pada pintu.

"Kenapa lo teriak-teriak?" tanya Rain pada Ceilan. Dahinya berkerut dalam. Ingin tahu apa yang tengah terjadi sampai-sampai Cielan harus berteriak-teriak memanggil dirinya.

Bukannya menjawab, Ceilan malah menarik Rain dan Yonuza menuju di mana tempat Azime berdiri. "Gue pikir kita bisa langsung masuk kayak sistem access card biasa, ternyata kita disuruh ngerjain soal dulu!" kata Ceilan bersemangat.

Azime tercengang, menatap tak percaya melihat semangat yang begitu memancar di wajah Ceilan. Mungkin Ceilan memang menyukai matematika. Entahlah, dia pun baru kenal dengan Cielan kali ini. Anggap saja begitu.

"Soalnya berdasarkan identitas rumus kita?" tanya Rain melihat soal yang ditampilkan dengan sinar hologram milik Azime.

Gelengan kecil Azime lakukan kendati Rain tak melihatnya. "Bukan. Identitas gue rumus keliling persegi," kata Azime.

Rain memperhatikan soal yang ditujukan pada Azime. "Cielan, sama?" tanyanya yang mengartikan bahwa ia bertanya tentang kesamaan soal milik Cielan dengan milik Azime.

"Engga. Gue dikasih soal luas trapesium," jawab Cielan santai. "Oh iya, ini soalnya cuma saat melakukan akses pertama. Gue coba buka tutup pintunya lagi pake access card dan itu langsung bekerja kayak sistem access card kamar pada umumnya."

Rain mengangguk paham. Ia menatap kembali layar hologram milik Azime. Soalnya tidak sesulit itu sebenarnya.

Jika tahu rumusnya.

2⁸ . 8⁹ / 64³

"Pake kalkulator, Zim," saran Ceilan mengode ponsel Azime yang digenggam pemiliknya dengan lirikan mata.

Azime menggeleng lemas. "Nggak ada kalkulator di hp. Gue baru sadar pas dibalikin waktu ambil uang saku tadi," jelas Azime memperlihatkannya layar ponselnya yang tidak ada aplikasi untuk menghitung.

MATH SCHOOL Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang