Prolog

671 100 18
                                    

Hei, jelaskan padaku..

Kenapa orang-orang bisa memasang wajah tersenyum?

Kenapa mereka bisa bahagia?

Bagaimana rasanya di cintai?

Aku tak tau..

Bisakah kamu membuatku merasakannya?

Seorang bocah lelaki terduduk diam di tepi kasur, ia menunduk mendengar suara gaduh dari luar.

Sudah biasa, itu sudah biasa. Ia tak terganggu lagi.

Bahkan jika suara teriakan lengkingan wanita itu berisi kutukan dan makian, itu tak lagi membuatnya takut.

Bocah itu kembali tidur, ia menarik selimutnya dan meringkuk di atas kasur, menutup kedua telinganya rapat-rapat. Banyak hal yang tak ingin ia pikirkan, ia tak mau terluka.. setidaknya sampai ia cukup dewasa untuk menahan sakitnya.

***

"Sigit?" Suara pria paruh baya itu membuat lamunannya buyar seketika. Tak terasa sudah hampir jam set 7 lebih, ia menatap kosong kearah mangkuk sereal nya. Seperti biasa, selera makannya menghilang entah kemana.

"Habiskan sarapanmu, lalu berangkat.." titahnya dingin. Sigit mengangguk patuh, ia memasukkan sesendok sereal itu kedalam mulutnya dan menarik tasnya cepat.

"Sigit berangkat dulu pah.." pamitnya sopan lalu berjalan keluar rumah.

Tidak ada yang menarik di hidupnya, entah itu tentang keluarganya, sekolah, pertemanan.. Sigit tak merasa memiliki apapun yang berharga di hidupnya.

Bahkan jika ia mati sekarang, ia ragu apakah masih ada yang perduli?

Keluarganya nampak harmonis dari luar, ibu dan ayahnya selalu bersama bahkan ketika bekerja. Banyak yang bilang mereka pasangan yang sempurna, saling melengkapi.

Tapi yang Sigit lihat di rumah, hanya pertengkaran saja. Tak ada hubungan romantis seperti yang di ucapkan orang-orang. Mereka berlaga seperti saling mencintai di luar, tapi di rumah..

Mereka bahkan jarang bertegur sapa.

Begitu hebatnya orang-orang menyembunyikan fakta.

Sigit mendengus, ia membenci sekolah lebih dari apapun. Bahkan ketika ia masuk kedalam kelas, ia sudah di suguhi tatapan dingin dari orang-orang.

Anak cengeng.

Payah.

Pengecut.

Sigit sudah biasa mendengar ejekan itu. Bahkan ia sudah biasa menerima kenyataan bahwa ia di asingkan di dalam kelas.

Tak ada satu orangpun yang sudi duduk di sebelahnya, hanya karena ia lemah.

Seperti tokoh figuran yang sama sekali tak pantas di lirik siapapun.

Sigit tersentak kaget saat sebuah tangan memukul kepalanya keras dari belakang. Ia meringis pelan, tapi orang-orang di sekitarnya malah tertawa geli.

Apa lucunya itu?

"Sigit sekolah ya? Di anterin mama atau papa nih?" Ucap seorang siswa berseragam putih biru itu sambil tersenyum sinis, Sigit hanya menunduk. Ia membenarkan posisi duduknya.

"Jangan gitu dan, Sigit kan yatim piatu ya?"

Sigit mengeratkan genggaman tangannya erat. Ia hanya bisa menunduk diam mendengar suara ejekan dan hinaan itu terlontar di iringi suara tawa seisi kelas. Mereka tidak tau apa yang ia lalui, mereka tidak mengerti apa yang ia rasakan. Tapi seenaknya mengejek tanpa alasan, hanya karena ingin di anggap lebih unggul daripada yang lain?

Protagonis [ON]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang