"Abi, berapa kali lagi Jendra harus bilang, Jendra enggak bisa seperti Bang Rayyan," ucap pemuda itu dengan tenang namun tidak dengan raut wajahnya yang menunjukkan sebaliknya.
Lagi-lagi permasalahan ini, sampai kapan ia harus terus menjadi bayangan dari kakaknya itu? Bukan berarti ia membenci kakaknya, Rayyan. Hanya saja jika terus-terusan ia disodorkan pertanyaan yang sama, oleh orang yang sama pula. Tentu saja ia muak. Dirinya adalah Muhammad Rajendra Al-Farabi, bukan Muhammad Rayyan Abimanyu. Tidak hanya muak, ia juga sedikit banyak terbebani dengan semua prestasi dan apa yang sudah diraih oleh kakaknya, secara tidak langsung oleh orang-orang di sekitarnya, ia dituntut untuk dapat mengungguli atau paling tidak menyamainya. Bahkan ada yang mengatakannya secara langsung.
"Jendra, Abi tidak meminta kamu untuk menjadi seperti Rayyan, tidak Nak," sangkal Abi Akhya. "Abi hanya ingin agar kamu tidak tertinggal dengan yang lain," jelasnya dengan penuh kelembutan.
"Bohong, secara tidak langsung, Abi juga menginginkan supaya Jendra setidaknya bisa menyamai Bang Rayyan, kan?"
"Tidak."
Abi Akhya menghela napas panjang, tidak mungkin ia berdebat dengan Rajendra yang sedang diliputi emosi seperti ini. Bisa-bisa anak keduanya itu malah semakin menjadi. Keduanya diliputi dengan keheningan, merasa situasi yang ada membuat Rajendra tidak nyaman. Abi Akhya lantas mengelus pelan rambut Rajendra kemudian melangkah keluar dari kamarnya.
Menghela napasnya, di ruangan berukuran 4x4 itu, Rajendra membaringkan badannya menatap langit-langit kamarnya. Siapa bilang jika menjadi dirinya tidak memiliki beban? Di luar ia tertawa tanpa beban, bukan berarti ia tidak memilikinya. Hanya saja ia ingin terlihat baik-baik saja seperti tidak ada yang terjadi. Pandangan orang lain pada dirinya yang menaruh harapan dan ekspektasi yang tinggi. Semenjak kecil sudah dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Pada kakaknya diminta untuk selalu menurut, pada adiknya diminta untuk selalu mengalah.
Umiiik, pingin nikah ajalah. Pingin dinafkahin, pekiknya dalam hati.Rajendra menatap kosong pada dinding putih di kamarnya. Seakan tersadar, Rajendra berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi kan gue laki, seharusnya gue yang nafkahin dong. Tapi belum bisa, kan gue masih bocil."
"Gini nih, minimal ada kemajuan. Dulu jalan sendiri, apa-apa sendiri, sekarang ngomong sendiri. Enggak papa, yang penting ada kemajuan." Rajendra menipiskan bibirnya.
Sudahlah, memikirkan hal itu membuat kepalanya bertambah panas. Bukankah lebih baik jika ia keluar dan menyegarkan pikirannya? Baiklah, pemuda itu lantas memakai hoodie abu-abunua. Melangkah keluar dari kamarnya, ia berpapasan dengan bocilnya, Bintang.
Bintang yang memakai rok serta kaos berlengan pendek pun menatapnya dengan curiga, matanya menyipit dengan tangan yang membawa guling mininya. "Tuan hendak pelgi kemana?" tanyanya.
"Tidak kemana-mana Tuan Putri," jawabnya.
"Kenapa pakai jaket? Abang Jendela kalau pakai Jaket pasti mau kelual."
Rajendra menatap adiknya dengan senyuman lebar yang ia paksakan. Entah kenapa, bocil satu ini saat melihat ia atau keluarga ndalem memakai jaket atau berpakaian rapi pasti akan ditembak dengan pertanyaan 'mau kemana?'.
"Abang kedinginan."
"Abang kedinginan?" tanya Bintang mengulang ucapan Rajendra.

KAMU SEDANG MEMBACA
Pilar Abi
General Fiction"Bintang?" panggil Rajendra. "Dalem, Abang," sahutnya dengan nada khas anak kecil. "Tujuh ditambah nol itu berapa?" tanya Rajendra. Bintang terdiam, berusaha mengingat-ingat apa yang sudah disampaikan uminya tadi pagi. Keningnya berkerut dengan bibi...