Mobil yang ditumpangi oleh Jeno telah melenggang pergi, meninggalkan wilayah kampus beserta Jaehyun yang masih terdiam membeku ditempatnya. Kecupan mendadak dari sang adik, membuatnya tak bisa bergerak sama sekali. Seperti dunia telah berhenti, perasaan yang begitu menggelitik di dadanya memberikan sensasi kupu kupu berterbangan dalam perutnya.
Masih larut dengan lamunannya hingga tak menyadari kehadiran Doyoung yang sudah berdiri tepat disampingnya "Jaehyun" Doyoung mencoba memanggil nama sahabatnya, tapi tak mendapat respon.
Gemas karena diacuhkan, Doyoung mendekatkan bibirnya tepat di telinga Jaehyun "HEY JUNG JAEHYUN!!"
"Ack..!!"
Barulah dengan teriakan Doyoung ke telinga sahabatnya, membuat kembalinya kesadaran Jaehyun. Sedang si empunya langsung menutup telinganya dan bergeser sedikit menjauh dari sahabatnya.
"Kau ini mengagetkanku saja!"
"Salah sendiri dipanggil tidak merespon"
Jaehyun langsung mengalihkan pandanganya, tanda ia mengakui kesalahannya.
"Sudahlah, ayo kita segera ke kelas. Kalau lama lama disini, bisa bisa Seulgi mengganggu mu lagi"
"Ah! Benar juga!"
Segera saja kedua sahabat itu menuju kelas mereka, menghindari Seulgi yang akan menggangu nya nanti. Sedangkan di kejauhan yang tak disadari oleh siapapun di sana, terdapat tatapan tajam dari seseorang yang berada didalam mobil sembari mengepalkan kedua tangannya yang digunakan untuk menyanggah dagu tajamnya.
"Beraninya Kim Doyoung menyentuh kak Jaehyun"
Setibanya Jeno di SMA XXX. Menuju kelasnya yang tak diikuti oleh kembarannya membuat seluruh atensi tertuju padanya. Situasi yang sama seperti kemarin saat Jeno berangkat bersama dengan Renjun.
Sesampainya dikelas, penglihatan Jeno langsung mencari keberadaan si mungil. Tak membutuhkan waktu lama, Jeno menemukannya sedang duduk di bangkunya bersama si murid baru yang sepertinya sedang menggodanya.
Diarahkan langkah kaki menuju tempat si pria mungil berada, sesampainya Jeno di sana aktivitas Haechan si murid baru mendadak terhenti. Dan Renjun sedikit mendongak kan kepalanya menatap Jeno.
"Ada apa Jeno?"
"Beri aku nomer handphone kakakmu" jawab Jeno sambil menyerahkan ponselnya kepada Renjun.
"Hm? Untuk apa?"
"Kau tak perlu tahu, berikan saja" Renjun menerima ponsel Jeno, dan langsung mengetikkan nomer kakaknya di sana dan mengembalikan lagi setelah selesai.
"Terimakasih" ujarnya, lalu mengusap kasar surai si mungil dan menuju ke bangkunya.
"Tck! Ada apa dengannya? Rambut ku jadi berantakan!"
Mendengar keluhan dari Renjun, Haechan dengan penuh perhatiannya turut merapikan rambut Renjun "tenang, meski rambutmu terlihat berantakan kau tetap cantik"
Bukanya senang, Renjun malah membalas pujian Haechan dengan tatapan aneh "cantik? Sepertinya ada yang salah dengan penglihatan mu! Mana mungkin aku cantik?"
"Tidak, tidak ada yang salah dengan mataku. Kemarin aku baru saja operasi lasik, jadi penglihatan ku membaik. Kau itu cantik, dan akan selalu terlihat cantik"
Lagi lagi Renjun mendapat pujian dari Haechan. Entah itu hanya godaan saja atau bukan, Renjun merasa geli mendengarnya walau di lubuk hatinya dia juga merasa senang.
Haechan si murid baru yang dengan perlahan merubah hidup Renjun. Membuat si pria mungil sedikit demi sedikit melupakan perasaannya terhadap Jaemin. Tak akan lagi Renjun berhadapan, atau berurusan dengan pria yang menurutnya kejam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Hyung (End)✔️
Fanfiction"Kak Jahyun hanya milik kami!!!" "Dan tak ada yang bisa memiliki kak Jaehyun selain kita!!!"
