74

692 19 6
                                        

Jaehyun tiba di kamarnya. Di sana, ia mendapati si kembar sedang bersantai seolah tak ada beban. Ia menatap Jaemin dan Jeno dengan sorot kesal.

"Apa kalian yang meminta Ibu agar aku pergi dan ikut bersama kalian?" tanyanya, nadanya sedikit menggebu.

Jeno menoleh, menatap wajah si valentine yang jelas jelas menunjukkan kekesalan. "Hm, hanya ini cara terbaik yang kami pikirkan agar kau ikut bersama kami."

Jaehyun menghela napas panjang, berusaha menahan emosi yang mulai membuncah dalam dadanya.

Jeno bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Jaehyun. Begitu berdiri di hadapannya, ia menangkupkan kedua tangan di wajah kakaknya itu. "Kau akan baik baik saja disana bersama kami. Kami akan menjagamu," ucapnya dengan nada lembut.

Perlahan, nada itu melunakkan hati Jaehyun. Ia ingin marah, ingin menolak, tapi jauh di dalam hatinya-ia percaya. Percaya bahwa si kembar tidak akan membiarkan terpuruk.

Namun membayangkan ibunya akan tinggal sendiri di rumah membuat hatinya berat.

Jaehyun menarik napas panjang sekali lagi, bersamaan dengan ia menurunkan tangan Jeno dari wajahnya. "Kalau aku pergi, ibu akan sendirian."

"Ibu tidak sendirian, Jaehyun. Ada perawatnya yang selalu di sisi nya." sahut Jaemin dengan nada tenang.

Jawaban itu benar benar menusuk Jaehyun. Memang selama ini dirinya tak pernah berada di sisi sang ibu, tapi bukan berarti ia ingin pergi jauh darinya.

"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan ku?"

"Itu mudah," Jaemin bangkit dari posisi rebahannya di kasur Jaehyun, lalu berjalan mendekatinya. "Cukup kau tandatangani proposal yang kami kirimkan. Sisanya, biar kami yang urus."

"Maksud mu, kalian ingin mengambil alih perusahaan?"

Mendengar itu, Jeno terkekeh, mengundang rasa heran pada Jaehyun. "Secara garis besar ... Ya, perusahaan kami ambil alih. Tapi kami tidak akan mengubah apapun. Hanya seperti pergantian pimpinan perusahaan saja."

"Dan kepemilikkan masih berada di tangan mu," imbuh Jaemin.

Jaehyun terdiam, mempertimbangkan sekaligus mengingat proposal yang dimaksud. "Proposal? Memangnya proposal ap-" ucapan Jaehyun tiba tiba terhenti dengan sendirinya.

Ia baru ingat akan proposal yang selama ini masih tergeletak di meja kerja kantornya.

Tatapannya kini tertuju pada Jaemin dan Jeno dengan sorot menelisik. Ia ingjnmemastikan bahwa dua orang di depannya benar benar akan menjaga segelanya sebaik mungkin.

Jaehyun mengalihkan pandangannya, lalu melangkah pelan menuju sisi tempat tidurnya. Ia duduk di pinggiran kasur, membiarkan kedua tangannya bertumpu di atas pahanya, sementara kepalanya tertunduk dalam diam.

"Memang di sana, ada apa? Kenapa kalian sangat bersikeras mengajakku? Tidak bisakah kalian saja yang menetap di sini? Ini juga masih rumah kalian."

Jeno dan Jaemin saling melirik sejenak, lalu mendekat. Keduanya berlutu di hadapan Jaehyun. Dengan lembut, mereka menggenggam tangan si Valentine, menggenggam erat seolah tak ingin kehilangan.

"Karena hanya di sana yang bisa menerima hubungan kita, Jaehyun," ucap Jaemin dengan suara lirih namun mantap. "Dan hanya di sana kami yakin bisa menjamin kebahagiaanmu sepenuhnya."

Jeno mengangguk, menambahkan, "Benar kata Jaemin. Kau sudah cukup berjuang keras menjalani semuanya sendirian. Dari dulu sampai sekarang, kau terus berjuang demi orang lain. Kami ingin kau istirahat dan hidup bahagia bersama kami."

Jaemin menatap Jaehyun dalam dalam, suaranya terdengar seperti janji yang datang dari dalam hati.

"Di sana juga, kita bisa memulai dadi awal. Kita bisa membangun kembali keluarga yang dulu pernah hancur karena Ayah. Kita bisa menikah ... dan memiliki anak, hidup seperti keluarga yang seharusnya."

Our Hyung (End)✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang