Acara pernikahan yang digelar di halaman rumah luas ini berakhir dengan penuh kebahagiaan. Jaehyun berbalik membelakangi para tamu, lalu melemparkan buket bunganya ke belakang.
Banyak wanita berlomba menangkapnya, namun yang berhasil justru seorang pria bertubuh tinggi dan tegap.
Johnny, yang menangkap buket itu, tersenyum ke arah Jaehyun yang membalas senyumannya.
Tanpa ragu, Johnny melangkah mendekati Doyoung yang tengah duduk di tempatnya. Ia menyodorkan buket itu sambil berkata lembut, "Untukmu."
Doyoung menatap bunga di tangannya, lalu menoleh ke arah Johnny. Wajahnya memerah, tersipu malu.
Doyoung menerima buket bunga itu dengan tangan gemetar, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil yang tulus. Ia menatap Johnny dalam diam, seolah ingin mengabadikan momen itu dalam ingatannya.
"Jangan menangis," bisik Johnny, mengusap lembut pipi Doyoung yang mulai basah oleh air mata haru. "Kita yang berikutnya, kan?"
Doyoung mengangguk pelan, matanya berbinar. "Ya... kita berikutnya."
Dari kejauhan, Jaehyun yang menyaksikan momen itu tersenyum haru. Di sampingnya, Jeno dan Jaemin berdiri bergandengan tangan, ikut menyaksikan kebahagiaan sahabat mereka.
Musik lembut mulai kembali mengalun, para tamu mulai berdansa dan berbincang. Sore berganti senja, langit perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan-seolah turut merayakan cinta yang kini tumbuh tak hanya dari satu, tapi dari banyak hati yang saling terhubung.
Sehari setelah pernikahan mereka. Jaehyun, Jeno, dan Jaemin, kini berada di sebuah panti asuhan. Bersama ibu panti, mereka berjalan jalan menyusuri halaman, menyaksikan anak anak kecil yang saling berlarian ke sana ke mari dengan tawa yang mengisi udara.
"Anak anak di sini selalu ceria meski hidup mereka tidak mudah," ujar ibu panti sambil tersenyum hangat. "Kami berusaha memberikan yang terbaik, tapi tetap saja, cinta daei sebuah keluarga adalah yang paling mereka butuhkan."
Setelah dari halaman, mereka melanjutkan ke sebuah ruangan yang dipenuhi balita berusia sekitar satu hingga empat tahun. Suasana riuh penuh tawa, anak-anak tampak aktif bermain bersama para pengasuh. Namun, perhatian Jaehyun tertuju pada dua balita kembar yang duduk menyendiri di pojok ruangan. Mereka tampak asyik dengan buku dan mainan balok, sibuk dalam dunia mereka sendiri.
"Kenapa mereka tidak ikut bermain?" tanya Jaehyun, masih memandangi kedua balita itu.
Sang ibu panti ikut menoleh. "Memang, setiap kali pengasuh mengajak mereka bermain bersama anak-anak lain, mereka selalu menolak. Mereka lebih suka menyendiri dan berkutat dengan aktivitasnya sendiri."
"Mungkin mereka punya gangguan mental," celetuk Jaemin tiba-tiba, membuat Jaehyun, ibu panti, dan Jeno langsung menoleh ke arahnya.
Tanpa pikir panjang, Jeno melayangkan pukulan ringan ke kepala kembarannya.
"Aw! Sakit!" keluh Jaemin sambil mengusap kepalanya.
Sang ibu panti tertawa kecil, mengusir suasana canggung yang mulai terasa. "Tidak, sejauh ini kami selalu mengamati mereka. Mereka cerdas dan sehat, hanya sedikit tertutup. Tidak ada tanda-tanda gangguan mental."
"Lagipula, mana ada balita terkena gangguan mental?" sahut Jeno, melirih tajam ke arah kembarannya. "Yang ada kau, yang terkena gangguan mental!"
Setelah melewati beberapa prosedur dan persyaratan, akhirnya Jaehyun, Jeno, dan Jaemin resmi mengadopsi balita kembar yang baru berusia satu tahun.
Keduanya dibawa pulang ke rumah mereka yang hangat dan penuh cinta. Meski awalnya masih canggung, lambat laun, tawa dan tangis dua balita itu mulai mewarnai hari-hari mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Hyung (End)✔️
Fanfic"Kak Jahyun hanya milik kami!!!" "Dan tak ada yang bisa memiliki kak Jaehyun selain kita!!!"
