72

420 29 3
                                        

Suasana sarapan pagi ini terasa tenang, hanya diiringi dentingan sendok dan aroma makan dan minuman yang khas. Jaehyun, duduk di antara Jeno dan Jaemin, tiba tiba bertanya, "Di mana ibu? Kenapa tidak ikut sarapan?"

Jeno menyesap kopinya sebelum menjawab dengan santai, "Dia tidak mau bergabung, dan sekarang berada di luar."

Jaemin hanya mendengus kecil, sementara Jaehyun terdiam, mencerna jawaban itu tanpa bertanya lebih lanjut.

Jaehyun menunduk, memainkan sendok di atas piring. Ada sesuatu dalam nada Jeno yang membuatnya sedikit tidak nyaman, tapi ia memilih untuk tetap diam.

Jaemin menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Jaehyun dengan senyum tipis. "Kau tidak perlu memikirkan ibu. Lebih baik habiskan sarapanmu," ujarnya sambil menyodorkan segelas jus ke arah Jaehyun.

Jaehyun menatap piringnya sejenak, perasaan tak nyaman mulai menyelinap dalam dada. Tak biasanya Boa pergi keluar, sekalinya keluar pun hanya di taman belakang rumah, dan itu tidak akan lama. Namun, sebelum sempat bertanya lebih jauh, Jaemin menyuapkan sepotong roti ke mulutnya.

"Jangan dipikirkan. Fokus saja sarapanmu," ujarnya dengan nada ringan, meski ada ketegasan di matanya.

Jeno, yang masih menyeruput kopinya, melirik sekilas ke arah Jaehyun. "Dia pasti akan kembali nanti. Tidak perlu khawatir."

Jaehyun mengunyah makanannya perlahan. Meski mereka berusaha menenangkan, ada sesuatu yang membuatnya meresa bahwa percakapan tentang ibu mereka belum benar benar selesai.

Setelah sarapan, Jaehyun bersiap siap untuk pergi ke kantornya. Begitu keluar dari kamar, ia mendapati Jeno dan Jaemin tengah duduk bersantai, menonton televisi.

"Aku berangkat sekarang. Jika ibu sudah pulang katakan padanya kalau aku sudah pergi," kata Jaehyun sambil membenarkan kancing di pergelangan tangannya.

Jeno dan Jaemin langsung bangkit dari duduknya lalu mendekati Jaehyun. "Kau akan ke kantor?" tanya Jaemin.

"Hm," Jaehyun mengangguk singkat.

"Jaehyun," panggil Jeno, mendekat dan melingkarkan lengannya di pinggang Jaehyun. "Hati hati di jalan," ucapnya lembut sambil mengecup bibir Jaehyun sekilas.

Senyum hangat seketika merekah di wajah Jaehyun, "Hm," balasnya.

Jaemin pun juga melakukan hal yang sama seperti kembarannya. Mencium bibir Jaehyun kemudian berkata, "Jangan terlalu memaksakan diri, kalau lelah langsung istirahat saja."

"Aku mengerti," balas Jaehyun. "Aku berangkat sekarang."

Setelah berpamitan, Jaehyun melangkah keluar, meninggalkan si kembar di kediaman ini. Begitu menuju ke mobilnya, ia mendapati sang ibu datang dari arah taman bersama pelayannya.

"Ibu, habis dari mana? Kenapa tadi tidak ikut sarapan?" tanya Jaehyun dengan nada cemas.

Boa mengulas senyum tipis di wajahnya, dipandangnya sejenak paras putra sulungnya yang kini tampak jauh lebih tenang dan bahagia dari sebelumnya.

"Ibu tidak lapar," jawabnya berbohong. "Ibu hanya ingin jalan jalan sebentar, sudah lama juga ibu tidak keluar dan menghirup udara segar."

Jaehyun mengangguk pelan, sedikit lega. "Tetap saja, jangan sampai melewatkan sarapan. Jaehyun khawatir kalau terjadi sesuatu pada ibu."

"Ibu baik baik saja, Nak. Lagipula, ada bibi Ahn yang selalu menjaga ibu."

Sungguh, perkataan itu membuat dada Jaehyun sesak seketika. Seharusnya, ialah sebagai anak pertama yang berada di sisi ibunya. Namun, setiap kali bersamanya, kenangan lama selalu datang menghantui.

Our Hyung (End)✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang