70

530 26 3
                                        

Jaehyun kembali dengan membawa dua bungkusan di kedua tangannya. Sekretarisnya segera membuka pintu untuknya. Ruangan Jaehyun yang sebelumnya seperti kapal pecah, kini telah kembali rapi seperti semula. Ia bahkan mendapati si kembar tertidur di sofanya.

Jaehyun melangkah masuk, dan pintu kembali tertutup di belakangnya. Ia meletakkan kedua bungkusan di atas meja, lalu berjalan mendekati si kembar.

"Jeno, Jaemin, bangun dan makanlah," ujarnya sembari menggoyangkan bahu mereka perlahan.

Perlahan, Jeno dan Jaemin membuka mata dan melihat bungkusan plastik putih di atas meja.

"Makanlah," kata Jaehyun sekali lagi, lalu duduk di kursi kebesarannya.

Jeno dan Jaemin mengambil bungkusan itu. "Kau tidak makan, Jaehyun?" tanya Jeno.

"Aku sudah makan tadi," jawab Jaehyun tanpa menoleh, masih fokus pada pekerjaan yang sempat tertunda.

Si kembar mulai menyantap makanan yang diberikan Jaehyun. Sesekali, di sela sela kesibukannya menatap komputer, Jaehyun melirik ke arah mereka.

Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, sebuah perasaan yang membuatnya tidak nyaman.

Jaehyun senang karena kedua adiknya akhirnya kembali setelah sekian lama pergi. Namun, di satu sisi, ia merasa sedih karena tali persaudaraan mereka telah terputus. Jaehyun jadi merindukan kebersamaan mereka seperti dulu, saat masih kecil.

Jaehyun menghela napas, dan itu berhasil menarik perhatian si kembar.

Mereka menatap Jaehyun yang masih fokus pada layar monitor. Garis kelelahan terlihat jelas di wajahnya. "Istirahatlah kalau lelah," ujar Jaemin di sela sela kunyahannya.

Jaehyun menatap kedua adiknya.

"Benar kata Jaemin, jangan memaksakan dirimu, Jaehyun," sambung Jeno.

"Aku tidak lelah sama sekali!" balas Jaehyun ketus.

"Jangan membantah, wajahmu jelas menunjukkan kelelahan," kata Jeno.

Jaemin bangkit dari duduknya, berniat mendekati Jaehyun. Namun, baru saja melangkah, Jaehyun sudah terlebih dahulu berseru. "Jangan mendekat! Atau kalian kuusir dari ruanganku!" bentaknya tajam.

Ruangan seketika menjadi sunyi. Jaemin menghentikan langkahnya, sementara Jeno menatap Jaehyun dengan ekspresi datar.

"Kau masih saja keras kepala, seperti dulu," ujar Jaemin.

Jaehyun mengalihkan pandangannya ke layar komputer, berusaha mengabaikan tatapan kedua adiknya. Namun, dalam hatinya, ia sadar bahwa dirinya tidak benar benar marah-ia hanya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya.

Jeno meletakkan sumpitnya dan menatap Jaehyun lekat lekat. "Kau tidak perlu berpura pura kuat di depan kami, Jaehyun."

Jaehyun mengepalkan tangannya di atas meja. "Aku tidak berpura pura," guamamnya yang nyaris seperti bisikan.

Jaemin mendesah pelan, kemudian berkata, "Kau tahu, bukan? Tidak peduli seberapa jauh kami pergi, kami akan tetap kembali kepadamu. Jadi berhentilah bertingkah seolah kau bisa menghadapi semuanya sendiri."

Jaehyun diam. Ada sesuatu dalam nada suara Jaemin yang menyentuh hatinya, sesuatu yang membuatnya ingin mengakui bahwa, ya-ia lelah.

Ketika suasana keheningan semakin menekan, Jeno tiba tiba berdiri dan berjalan mendekati Jaehyun. Kali ini, meski Jaehyun menatapanya tajam, ia tidak mundur.

"Kau bisa mengusir kami jika itu yang kau mau," ujar Jeno. "Tapi kami tidak akan pergi kemana mana, Jaehyun. Kami akan tetap di sini."

Jaehyun menatap Jeno, lalu mengalihkan pandangannya pada Jaemin, yang juga menatapnya dengan keyakinan yang sama. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada sesuatu yang menghangat dalam hatinya-sesuatu yang mengingatkan bahwa ia tidak sendiri.

Our Hyung (End)✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang