Setelah menyelesaikan tugasnya, akhirnya tiba bagi Jaehyun untuk menikmati istirahat siangnya. Ia segera beranjak menuju lobi untuk menemui sahabatnya yang telah menunggu di sana.
Begitu sampai, Jaehyun langsung mengenali sosok yang duduk di sofa, asyik menatap layar ponselnya tanpa menyadari kehadirannya.
Tanpa ragu, Jaehyun berlari kecil mendekat. "Doyoung!" serunya tiba tiba, sukses membuat sahabatnha itu terlonjak kaget.
"Jaehyun! Kau mau jantungku copot, hah?" gerutu Doyoung, menyimpan ponselnya sambil mengelus dada.
Jaehyun hanya terkekeh. "Maaf, maaf. Aku tidak tahan melihat wajah serius mu tadi."
Doyoung menggeleng pelan, tapi senyumnya akhirnya muncul juga. "Jadi, ke tempat biasa?"
"Tentu saja ... Aku butuh asupan yang mengenyangkan perutku," jawab Jaehyun.
Keduanya pun berjalan berdampingan, keluar dari lobi menuju kedai kecil di sudut taman dekat kantor-tempat langganan mereka untuk sejenak melepas penat.
Jalanan cukup ramai, tapi percakapan ringan di antara mereka membuat dunia terasa lebih ringan.
Sesampainya di sana, mereka langsung mencari tempat kosong dan memesan menu favorit masing masing. Seorang pelayan datang menghampiri, mencatat pesanan mereka di buku kecil, lalu membungkuk sopan sebelum pergi ke dapur untuk menyampaikannya pada juru masak.
"Jadi, adik adikmu sudah kembali?" tanya Doyoung, sebagai pembuka percakapan mereka.
"Hm," jawab Jaehyun singkat sambil menganggukkan kepala.
"Bagaimana penampilan mereka sekarang?"
Jaehyun terdiam sejenak, membiarkan pikirannya melayang. Membandikan penampilan kedua adik kembarnya dulu dan sekarang.
"Tidak banyak berubah. Hanya saja ..."
Di tengah lamunannya, terlintas wajah kedua adik kembarnya yang tengah menggagahi dirinya semalam. Begitu tampan dan terlihat lebih matang dari pria dewasa pada umumnya.
Berkat hal itu, semburat merah menjalar di seluruh wajah Jaehyun dalam hitungan detik. Ia benar benar tidak bisa mengendalikan reaksinya sendiri. Ia menggeleng pelan, mencoba menepis bayangan yang muncul tanpa diundang.
"Hei, kenapa malah diam?" suara Doyoung sukses membuyarkan lamunannya.
Jaehyun tersentak kecil. "Ah, tidak. Tidak ... tidak ada ..."
***
Selesai makan siang, Jaehyun dan Doyoung keluar dari kedai dengan perut kenyang. Sebelum kembali ke kantor masing masing, mereka memutuskan untuk mampir sebentar ke sebuah kafe kecil tak jauh dari tempat kerja Doyoung.
Kafe itu adalah tempat langganan ke dua setelah kedai tadi. Setelah dari sana, Jaehyun dan Doyoung selalu menyempatkan diri untuk singgah di sana.
Bangunannya tampak sederhana, namun hangat. Aroma khas kopi segar langsung menyambut indra penciuman mereka begitu pintu di buka. Menghadirkan rasa tenang yang sulit dijelaskan.
"Tempat ini benar benar surganya bagi pecinta kopi," ujar Doyoung sambil menarik kursi dan duduk santai.
Setelah memesan dua cangkir kopi-Jaehyun dengan esspreso hitam tanpa gula dan Doyoung dengan latte favoritnya-mereka duduk di meja dekat jendela, tempat cahaya matahari masuk dengan lembut menyoroti meja kayu mengkilap.
Hening sejenak tercipta di antara mereka, masing masing larut menikmati minuman di tangan. Tak lama kemudian, Jaehyun bersuara, memecah keheningan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Hyung (End)✔️
Fiksi Penggemar"Kak Jahyun hanya milik kami!!!" "Dan tak ada yang bisa memiliki kak Jaehyun selain kita!!!"
