9. Tentang aku yang hampir menyerah

155 1 0
                                        

12 DESEMBER 2022

Aku akhirnya memberanikan diri ke psikolog. Selama hampir sebulan aku ngerasain fase galau yang menurutku ga jelas banget.

Semangat hidupku, semangat makanku, tawa, dan bahagiaku hilang.

Aku bahkan sempat membenci orang-orang yang tampak bahagia didepanku selama beberapa hari.

Overthinking, mual, jantung berdebar, ga bisa tidur selama hampir dua minggu terus menghantui hariku.

Pemicu awalnya adalah aku yang memilih menjauh dari hidup orang yang benar-benar kusayang karena merasa sakit dijadikan opsi terakhir. Minggu pertama aku baik-baik saja, sebelum akhirnya ada hal yang tak seharusnya kuketahui, tapi aku ketahui dengan sendirinya. Aku mencoba membahas hal ini, aku marah. Tapi dia mengabaikan pesanku.

Kemudian hariku mulai memburuk, aku bahkan sempat meminta dia kembali lagi karena saat itu aku berpikir bahwa rasa sakitku akan hilang. Aku hanya fokus pada rasa sakitku. Penolakannya tak berarti apa-apa untukku, karena dari awal aku juga tau bahwa akan ditolak. Tapi rasa sesak, overthinking dan hal-hal negatif yang terus menghantui pemikiranku membuatku begitu frustasi dan semangat hidupku hilang sehingga kupikir inilah satu-satunya cara terbaik.

Aku merasa sendiri, tidak punya teman, tidak punya keluarga, tidak punya tempat cerita, padahal aku punya.

Aku coba baca buku.

Kesimpulannya adalah "ada hal yang bisa kamu kendalikan dan ada hal yang tidak bisa kamu kendalikan."

Hal yang biasa kukendalikan adalah "apa yang aku pikirkan, bagaimana caraku menghadapi masalah ini, Dan apa yang bisa aku lakukan dan rubah."

Hal yang tidak bisa kukendalikan adalah "perlakuan orang-orang padaku."

Ya, setidaknya bertahan 3-4jam sebelum akhirnya aku kehilangan semangat hidup lagi.

Karena takut dengan pikiran ingin mati, akhirnya aku pergi ke psikolog.

Menit ketiga berhadapan dengan psikolog. Aku menangis. Aku takut, aku bingung aku harus apa. Pada akhirnya kujelaskan semuanya sambil menangis, dua jam lebih.

Kemudian psikolog menjelaskan bahwa "manusia itu punya tong sampah batin. Posisinya disini tong sampah batinmu penuh, sehingga mereka berusaha mencari jalan keluar. Dia cuma sebatas pemicu, karena kamu terus merasakan hal yang sama berulang-ulang. Yaitu, kamu terkesampingkan."

"Kamu tau kamu hidup dimasa sekarang, kamu juga ga punya keinginan untuk mati. Karena ada beberapa hal dari masa lalumu yang masih kamu sesali, makanya sesekali hal itu mengusik kamu. Kamu hebat, untuk anak umur 20an apa yang kamu lalui sangat luar biasa dan kamu bisa bertahan hingga sekarang. Ayo mulai melangkah lagi, ayo mulai fokus sama diri kamu lagi, kamu bisa."

Seperti itulah, seperti yang aku duga.

Hanya sebatas obrolan yang membangkitkan semangat, namun hal yang benar-benar aku cari, hal yang benar-benar aku butuhkan. Mungkin sebagian dari kalian akan bilang, harusnya cukup doa, berserah sama Allah.

Ya, sudah aku lakukan. Bukan aku tak percaya pada Tuhanku, tapi aku ingin mengatasi pikiranku secepatnya, agar aku bisa terus berharap pada-Nya. Agar aku bisa menjalani hidupku seperti biasa.

Katanya "ada yang cukup dengan spiritual dan ada yang butuh keduanya, Hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia." 

Aku yang dulu mungkin cukup dengan spiritual saja. Tapi aku yang sekarang dengan keadaan yang berbeda aku butuh keduanya.

Tapi pada akhirnya, yakinlah, bahwa memang ini yang terbaik. Tak perduli orang sekitar mu akan bicara apa, fokuslah pada hal yang bisa menyembuhkanmu. Kemudian nikmati proses sembuh mu dan sembuhlah.

Kamu bisa sembuh.

-
161222

Broken homeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang