12

949 166 22
                                    

"hiks, maafin aku zee.."
...

Zee melangkahkan kakinya menuju rooftop menjatuhkan dengkulnya yang mulai lemas.

Dia ini anak tuan Galeno. Dia ditampar dan dipukul setiap hari. Dia didik sangat keras. Dia dilatih untuk mandiri.

Tapi melihat ashel seperti tadi,

Kakinya seakan tak sanggup untuk berdiri.

Seharusnya kamu nggak usah tau shell..

Kalimat itu saja yang berputar di kepalanya sedari tadi.

Secara tidak langsung, ashel sudah melihat betapa lemahnya dirinya saat ini.
...

























Ashel masuk kedalam kelas dengan langkah lunglai dengan bahu merosot dengan pandangan jatuh kebawah.

Dia tidak melihat ada guru yang mengajar, tidak mendengar dua sahabatnya memanggil, kakinya terulur saja untuk terus berjalan.

Sampai di bangku, Chika Marsha memohon agar bu Deyya memaklumi tingkah sahabatnya itu.

Istirahat,

"chel, bangun chel.."
"chell.. Lo demam ya? Pulang yuk"

Ashel masih menelungkupkan kepalanya diatas meja. Dia belum menceritakan pada dua temannya kemarin dia melakukan apa atau pagi ini dia dari mana. Ashel harusnya bilang, tapi mulutnya terasa malas untuk terbuka.

"ini pasti gara-gara si zee lagi ya? Ck, gue habisin juga tu orang!"

Nggak,

Ashel menahan lengan chika yang hendak beranjak meninggalkan mejanya.

Mata itu berair,

"jangann"

"chik" marsha mengedik mengode chika agar tetap diam. Marsha mendudukkan dirinya disamping ashel mengusap punggung itu pelan agar lebih tenang. "sekarang lo cerita pagi ini lo darimana"

Ashel menceritakan apa yang dia dengar kemarin dan apa yang dia dapat tadi pagi.

Chika marsha yang merasa ranahnya terlalu jauh pun sampai menghentikan ashel sampai disini merasa cukup sepertinya mereka memang harus memberikan ruang pada ashel untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

"kita ga akan tanya lagi. Tapi kapanpun lo butuh kita, kita ada disini"

Chika mengangguk melihat marsha memfinal keputusannya mulai memeluk ashel mengusap punggung itu pelan.

Marsha pun melakukan hal yang sama, merangkul dua sahabatnya, memberikan pelukan paling hangat yang bisa dia berikan saat ini.
...

Terdengar ketukan dari arah pintu,



















"permisi,

––kak ashel ditunggu bu Deyya di ruang BK"























Ashel sama sekali belum pernah berurusan dengan BK selama dia bersekolah di Vidhia, dia adalah anak yang rajin, pintar, kesayangan banyak guru, dan tentu saja terkenal dengan image yang baik.

Geng Cherry, sangat pantang sekali mereka masuk ruangan ini.

"permisi"

"masuk"

Ashel tidak sendirian ternyata.

Ada guru BK, bu Deyya, juga.... ada seorang anak laki-laki yang sedang menyilangkan kakinya.

Love StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang